Cinta Sang Milyarder

Cinta Sang Milyarder
Bab 24 Ketahuan


__ADS_3

Waktu pulang pun tiba....


Nata segera menyalakan motornya untuk bersiap-siap pulang, namun ada yang aneh yang membuat hati Nata bertanya-tanya.


"Si Vio ke mana? kok ga kelihatan, apa dia sudah pulang ya?" gumam Nata.


Nata pun menghubungi bagian Marketing dan ternyata, Vio memang saat ini belum pulang karena dia harus lembur menyelesaikan pekerjaannya.


"Apa aku tungguin dia saja, ya," gumam Nata.


Sedetik kemudian, Nata tersadar dan memukul kepalanya sendiri.


"Kenapa aku jadi nungguin si Vio sih? bukannya seharusnya aku senang ya, karena dia gak ikut aku pulang," gumamnya lagi.


Akhirnya Nata pun dengan cepat melajukan motornya meninggalkan perusahaannya.


Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Nata pun sampai di kontrakan. Nata mengerutkan keningnya saat melihat Pelangi sudah berdiri di depan kontrakannya dengan menatap tajam ke arah Nata.


"Kamu ngapain lihatin aku kaya gitu? jangan bilang kamu kerasukan hantu kontrakan, karena kontrakan ini masih sepi," seru Nata bergidik ngeri.


Perlahan Pelangi menghampiri Nata, Nata memundurkan langkahnya karena merasa takut dengan tatapan Pelangi. Pelangi mulai memutari motor Nata dan betapa terkejutnya Pelangi saat melihat tanda yang dia buat saat mengganti oli motor itu.


Jadi, ceritanya Pelangi benar-benar sangat yakin kalau motor itu milik Nata jadi Pelangi menempel stiker kecil di spakbor motor Nata dan ternyata benar saja, stiker itu masih ada.


"Nah, benar kan dugaanku!" teriak Pelangi dengan memukul jok motor Nata.


Helm Nata sampai jatuh saking kagetnya mendengar teriakan Pelangi.


"Allahuakbar, untung jantungku sudah terlatih. Kalian berdua memang suka sekali membuatku terkejut," seru Nata dengan memegang dadanya.


Pelangi kembali menatap tajam ke arah Nata, Pelangi lagi-lagi menghampiri Nata dan Nata terus memundurkan langkahnya, hingga langkah Nata pun terhenti karena punggungnya sudah membentur dinding kontrakan.


Pelangi menaikan lengan bajunya, seolah-olah ingin mengajak Nata berkelahi.


"Ma-mau apa kamu?" tanya Nata gugup.


Pelangi mengepalkan tangannya dan hendak memukul Nata, Nata memejamkan matanya saat Pelangi melayangkan tinjunya tapi perkiraan Nata salah, ternyata Pelangi memukul dinding tepat di samping wajah Nata.


Napas Nata tampak tersengal dan susah payah dia menelan salivanya, ternyata Pelangi mempunyai sisi lain yang tidak Nata ketahui.


"Cepat katakan, siapa kamu sebenarnya? atau aku akan buat wajah kamu yang tampan ini menjadi penyok kaya panci tetangga sebelah," ancam Pelangi.


"Ma-maksud ka-kamu apa?" sahut Nata gugup.


"Kamu kenal Mas Bobby kan? sudah dua kali Mas Bobby datang ke bengkel, pertama dia bawa mobil sport keluaran terbaru dan aku ingat mobil itu Mas Nata pakai ke acara reunian tempo hari. Terus, kemarin Mas Bobby bawa motor itu dan aku curiga kalau itu adalah motor Mas Nata, makanya aku pasang stiker di spakbor motor itu dan ternyata memang benar kalau motor itu milik Mas Nata. Cepat katakan siapa Mas Nata sebenarnya?" seru Pelangi dengan tatapan tajamnya.


Perlahan Nata menurunkan tangan Pelangi dan menurunkan lengan baju Pelangi juga.


"Sabar Pel, jangan main kekerasan," seru Nata dengan sengirannya.


"Cepat katakan!" bentak Pelangi.

__ADS_1


Nata menghembuskan napasnya, apa boleh buat ternyata identitasnya sudah mulai ketahuan oleh Pelangi.


Nata pun duduk selonjoran di lantai kontrakannya dan diikuti oleh Pelangi yang duduk di samping Nata.


"Karena kamu sudah mengetahui semuanya, aku akan cerita sama kamu tapi aku mohon sama kamu, jangan sampai Vio tahu."


"Kenapa?"


Nata terdiam, dia tidak bisa menjawabnya entah kenapa Nata tidak ingin Vio tahu tentang identitas aslinya.


"Ah aku tahu, Mas Nata suka kan sama si Vio?" goda Pelangi.


"Apaan sih Pel, ngaco kamu," elak Nata.


"Alah, jangan gengsi-gengsian deh, dari awal aku tahu kalau Mas Nata itu suka sama si Vio."


Nata kembali menghembuskan napasnya lagi, si Pelangi memang pinter menebak perasaan orang.


"Jadi sebenarnya Mas ini siapa?" tanya Pelangi.


"Nama lengkapku Nata Anggasta."


Pelangi melotot dan menutup mulutnya saking kagetnya.


"Ang-anggasta? kok namanya sama dengan perusahaan tempat Vio bekerja?"


"Ya karena itu perusahaan milik aku."


"Berarti Mas Nata bekerja menjadi OB di perusahaan Mas Nata sendiri? tapi kenapa Mas Nata melakukan semua itu?"


"Awalnya aku hanya ingin menemukan wanita yang bisa menerima aku apa adanya tanpa melihat siapa diriku dan hartaku, makanya aku menyembunyikan identitas ku."


"Pantas saja, image Mas Nata gak kelihatan orang miskin."


"Tapi aku mohon, si Vio jangan sampai tahu."


"Okelah, aku gak bakalan kasih tahu si Vio tapi ada syaratnya," seru Pelangi dengan menaik turunkan alisnya.


Nata mendelikan matanya ke arah Pelangi. "Sudah ku duga, apa syaratnya?"


"Comblangin aku sama Mas Bobby," sahut Pelangi dengan sengirannya.


"Hah, kamu suka sama si Bobby? dia itu gak punya kelebihan, buat apa kamu suka sama dia?"


"Ishh..ishh..ishh..kalau sudah cinta tidak akan memandang kelebihan, tapi kekurangannya. Karena kalau aku sudah benar-benar mencintai seseorang, aku tidak akan mencari yang sempurna tapi aku akan mencintainya dengan cara yang sempurna," seru Pelangi dengan senyumannya.


Nata menoyor kepala Pelangi. "Sok bijak kamu."


"Tapi aku bakalan bantuin Mas Nata untuk deketin si Vio," seru Pelangi.


Nata merangkul pundak Pelangi dan mengacak-ngacak rambutnya. "Dasar wanita licik."

__ADS_1


Keduanya tertawa bersama, akhirnya Pelangi tahu siapa Nata sebenarnya.


Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 19.00 malam dan pekerjaan Vio pun sudah selesai.


"Astaga, badanku pegal semua ini," gumam Vio.


Vio pun mulai membereskan barang-barangnya dan segera mengambil tasnya untuk pulang.


"Aku harus pesan ojeg nih," gumam Vio.


Vio pun mulai mengotak-ngatik ponselnya dan tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya ojeg yang dia pesan datang.


"Seandainya kalau ini Mas Nata, pasti aku bisa ngutang dulu," batin Vio.


Hingga tidak lama kemudian, baru saja setengah perjalanan motor yang ditumpangi Vio berhenti.


"Loh, kenapa ini Mas?"


"Sepertinya motornya mogok Mba."


"Kok mogok, terus aku bagaimana pulangnya?" keluh Vio.


"Sepertinya tidak jauh dari sini ada bengkel, kalau mau Mba bisa ikut saja ke bengkel dulu."


"Maksudnya jalan gitu?"


"Itu juga kalau Mba mau, kalau gak mau ya sudah Mba pesan ojeg lain."


Akhirnya dengan terpaksa, Vio pun berjalan mengikuti si sopir ojeg menuju bengkel.


"Sial banget sih aku, sudah capek lembur sekarang harus jalan kaki juga," batin Vio dengan kesalnya.


Sementara itu, Arga yang baru saja pulang dari pertemuannya dengan klien mengerutkan keningnya saat melihat seseorang berjalan kaki.


"Kok, aku seperti kenal sama wanita itu?" gumam Arga.


Arga pun menurunkan laju mobilnya, dan berhenti di samping Vio.


"Vio."


Arga membuka kaca mobilnya. "Vio, kamu mau ke mana?" tanya Arga.


"Pak Arga, ini Pak, ojeg yang aku tumpangi mogok dan sekarang aku mau ikut ke bengkel," sahut Vio.


"Ya sudah, aku antarkan kamu pulang."


"Tapi Pak, aku bayar dulu ojegnya."


Vio pun menyusul si tukang ojeg dan membayar ojegnya, lalu Vio dengan cepat masuk ke dalam mobil Arga.


"Untung Pak Arga datang, kalau tidak, kaki aku bisa-bisa bengkak."

__ADS_1


Arga tersenyum mendengar keluhan Vio, Arga pun mulai melajukan mobilnya untuk mengantarkan Vio pulang.


__ADS_2