
Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Nata dan Violet pun sampai di kontrakan.
"Terima kasih Mas Nata yang tampan, kalau Mas Nata kerja di tempat yang sama denganku, bisa dong setiap hari aku-----"
Seketika ucapan Violet terhenti karena Nata dengan cepat mencomot bibir Violet.
"Enggak, kamu mulai besok berangkat dan pulang sendiri jangan nungguin aku."
Violet menepis tangan Nata. "Mas Nata pelit banget sih, kita kan bekerja di tempat yang sama jadi apa salahnya kalau aku nebeng sama kamu."
"Kagak boleh, enak di kamu gak enak di aku. Pokoknya mulai besok anggap saja kita tidak saling kenal, oke."
"Ishh...ishh..ishh...Mas Nata gak pernah lihat tv ya, Mas Nata tahu gak, orang pelit matinya kuburannya kebanjiran!" teriak Violet.
"Bodo amat, gak peduli."
Bruaakkk...
Nata membanting pintu kontrakannya membuat Violet terlonjak kaget.
"Astagfirullah, tampan-tampan kok darah tinggi sih, bawaannya ngambek terus," gerutu Violet.
Akhirnya Violet pun memilih untuk masuk ke dalam kontrakannya.
Sementara itu, Pelangi baru saja keluar dari bengkel di mana ia bekerja. Pelangi melajukan motornya dengan kecepatan sedang sembari bernyanyi-nyanyi kecil, hingga tidak lama kemudian tiba-tiba motor Pelangi pun mendadak mogok.
"Lah, lah, lah, kenapa ini motor? perasaan Minggu kemarin baru di servis deh," gumam Pelangi.
Pelangi pun turun dari atas motornya dan berhenti di pinggir jalan lalu Pelangi melihat-lihat motornya.
"Motornya baik-baik saja kok, tapi kenapa kok mogok ya?"
Pelangi kembali memeriksa motornya, hingga Pelangi pun melihat kalau bensinnya habis.
"Allahuakbar, ternyata bensinnya habis pantas saja diperiksa gak ada yang rusak. Bagaimana ini, mana pom bensin dari sini masih jauh lagi, masa iya aku harus mendorongnya sampai pom bensin," gumam Pelangi.
Pelangi tampak celingukan dan ternyata jalanan memang sepi tidak ada yang lewat sama sekali.
"Terpaksa aku harus dorong."
Pelangi pun akhirnya dengan terpaksa mendorong motornya menuju pom bensin. 15 menit kemudian, Pelangi pun sampai di pom bensin.
"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga."
__ADS_1
Pelangi langsung mengantri untuk isi bensin, hingga Pelangi pun merogoh kantong celananya dan ternyata hanya ada uang 10 ribu saja.
"Astagfirullah, uang aku tinggal segini lagi mana cukup buat beli bensin. Masa iya, aku harus beli setengah liter aja," batin Pelangi dengan bingungnya.
Pelangi mulai kebingungan, kalau dia minta bantuan Vio sama saja bohong karena si Vio sudah pasti gak bakalan punya uang.
Pelangi mulai celingukan, siapa tahu dia bisa bertemu dengan orang yang dia kenal. Hingga beberapa saat kemudian, sebuah mobil pun datang untuk mengisi bensin juga dan ternyata itu adalah Bobby.
"Bukanya itu Pak Bobby ya? yang waktu itu ke bengkel, ah aku punya ide."
Pelangi langsung mendorong motornya ke depan mobil Bobby, di saat Bobby mulai melajukan mobilnya, Pelangi menjatuhkan tubuh dan motornya di depan mobil Bobby.
Seketika Bobby menginjak remnya, untung belum melaju dengan kencang.
"Astagfirullah."
Bobby dengan cepat keluar dari mobilnya dan menghampiri Pelangi.
"Kamu tidak apa-apa, Nona?" seru Bobby cemas.
"Badanku sakit-sakit, Mas ini bagaimana sih kalau mengendarai mobil itu yang benar dong untung aku tidak sampai patah tulang," seru Pelangi pura-pura kesakitan.
"Maafkan aku Nona."
"Apa ada yang terluka?"
"Banyak, badanku sakit-sakit semua," dusta Pelangi.
"Ya sudah, kita ke rumah sakit sekarang."
"Ah, tidak usah Masnya pasti lagi ada urusan kan? Mas, tinggal kasih ganti ruginya saja nanti biar aku pergi ke rumah sakit sendirian," sahut Pelangi.
Bobby mengerutkan keningnya, sebenarnya Bobby merasa ada yang aneh tapi daripada ke depannya ribet lebih baik Bobby cari aman saja.
Bobby merogoh dompetnya yang ada dikantong celananya dan mengeluarkan 5 lembar uang seratus ribuan.
"Apa ini cukup?" tanya Bobby.
Pelangi langsung merebut uang itu dari tangan Bobby membuat Bobby kaget.
"Sudah cukup, terima kasih Mas."
"Oke, lain kali kamu hati-hati."
__ADS_1
"Iya Mas."
Bobby pun langsung masuk ke dalam mobilnya dan segera menancapkan gasnya meninggalkan Pelangi. Sedangkan Pelangi tampak bahagia, dia tidak menyangka akan dapat uang banyak.
"500 ribu, lumayan untuk menyambung hidup," batin Pelangi.
Pelangi pun kembali mendorong motornya dan mengisinya sampai full, setelah itu Pelangi pun memutuskan untuk langsung pulang.
Beberapa saat kemudian, Pelangi pun sampai di kontrakan.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Vio, ini aku beli ayam bakar untuk makan malam, kamu sisihkan ya ke piring," seru Pelangi.
"Huawaaa...pasti kamu lagi dapat rezeki nomplok ya."
"Heem, sudah ya aku mandi dulu."
Malam pun tiba....
Pelangi dan Violet sedang makan malam bersama, keduanya sibuk sembari mengotak-ngatik ponselnya. Tiba-tiba, sebuah pesan masuk ke ponsel keduanya dan seketika keduanya membelalakkan matanya.
"Apa, reunian?" seru keduanya bersamaan.
Pelangi dan Violet saling pandang satu sama lain.
"Bagaimana ini Vio? kita diundang reunian kampus, aku lihat teman-teman kita semuanya sudah pada sukses hanya kita berdua saja yang malang nasibnya," keluh Pelangi.
"Terus bagaimana? apa kita akan datang ke acara itu? kalau kita datang, pasti mereka akan membully kita habis-habisan. Apalagi mereka semua kebanyakan sudah punya pacar pengusaha semua," seru Violet.
"Bagaimana ya, kalau kita tidak datang, mereka justru akan lebih membully kita di sosmed. Mereka akan menertawakan kita, tidak datang karena kita masih kaum rakyat jelata," sahut Pelangi.
"Ah, aku jadi gak berselera makan ini."
"Sama Vio."
Kedua wanita itu malah melamun dan beberapa kali menghembuskan napas mereka secara kasar.
"Mana mungkin kita bisa bisa mendapatkan pacar orang kaya dalam waktu satu Minggu," seru Violet.
"Habislah kita, Minggu depan kita akan viral di sosmed sebagai dua wanita malang," seru Pelangi dengan lemasnya.
__ADS_1
Keduanya tampak lemas, sudah dipastikan Violet dan Pelangi akan menjadi trending topik di sosmed karena mereka tahu kalau teman-temannya itu tukang julid semuanya.