
Arga duduk di samping Vio. "Apa sekarang kamu sudah baikan?"
"Alhamdulillah, sudah Mas."
Ceklek...
Pintu kamar mandi pun terbuka, Arga dan Vio sama-sama menoleh. Begitu pun dengan Nata yang kaget akan kedatangan kakaknya itu.
"Mau ngapain kamu ke sini?" sinis Nata.
"Jenguk Vio lah, masa jenguk kamu," sahut Arga santai.
Nata yang kesal langsung menarik tangan Arga dan mendorongnya supaya tidak duduk di samping Vio.
"Jangan dekat-dekat dengan Vio nanti kamu merebutnya dari aku," kesal Nata keceplosan.
Seketika Vio membelalakkan matanya, sedangkan Arga mengangkat sedikit ujung bibirnya.
"Memangnya Vio siapanya kamu? dia kan, bukan pacar kamu jadi, semua pria berhak dong mendekati Vio termasuk aku," sahut Arga.
Arga memang sengaja memancing amarah Nata, supaya Nata mau mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya.
"Enak saja, jangan sembarangan. Vio adalah milikku dan sebentar lagi, Vio akan menjadi kekasihku."
Lagi-lagi Vio hanya melotot, dia tidak percaya kalau Nata bisa mengatakan hal seperti itu. Arga semakin bersemangat menggoda Nata, dalam hatinya Arga berteriak dan tertawa kencang melihat kelakuan adiknya yang begitu konyol itu.
Perlahan Arga mendekati Vio tapi Nata dengan sigap menghalanginya.
"Aku bilang, kamu jangan dekat-dekat sama Vio."
"Apaan sih, Vio saja belum tentu mau sama kamu, bagaimana kalau ternyata Vio menyukaiku? kamu mau apa?" goda Arga.
"Enggak, gak mungkin Vio suka sama kamu," kesal Nata.
"Coba saja kamu tanya sendiri sama Vio, pria yang dia sukai itu siapa? aku atau kamu?"
Nata langsung membalikan tubuhnya dan menatap ke arah Vio membuat Vio terkejut.
"Vio, coba katakan, siapa pria yang kamu suka? aku apa dia?" tanya Nata sembari menunjuk ke arah Arga.
Vio merasa sangat terkejut dengan pertanyaan Nata, sesungguhnya dia sama sekali belum siap kalau harus ditanya seperti itu karena Vio tidak tahu dengan perasaanya yang sebenarnya.
"Kamu menyukaiku kan, Vio?" seru Arga dengan senyumannya.
Nata mencengkram kedua bahu Vio, membuat Vio lagi-lagi terkejut.
__ADS_1
"Vio, kamu harus ingat, siapa yang selama ini membantu kamu, siapa yang selama ini memberimu pekerjaan, kamu kejam kalau kamu lebih memilih dia dibandingkan aku," seru Nata.
"A-ku...."
"Ayo jawab, siapa pria yang kamu sukai?"
Vio benar-benar merasa tertekan dengan pertanyaan Nata, hingga akhirnya Vio menepis tangan Nata.
"Mas Nata apa-apaan sih? kok, Mas Nata jadi nanya sama aku? seharusnya aku yang tanya, bagaimana perasaan Mas Nata sama aku? soalnya setelah aku tahu siapa Mas Nata yang sebenarnya, aku gak mungkin bisa dekat-dekat lagi sama Mas Nata."
"Kenapa kamu berpikiran seperti itu?"
"Ya iyalah, Mas Nata itu orang kaya pasti Mas Nata tidak akan mau sama wanita miskin kaya aku. Lagipula kan, Mas Nata mencari orang yang tulus dan menerima Mas Nata apa adanya. Sedangkan aku, Mas Nata tahu sendiri siapa aku? dari dulu aku memimpikan punya pacar orang kaya, berarti selama ini aku tidak tulus sama Mas Nata."
"Tidak, aku tidak pernah berpikiran kalau kamu tidak tulus sama aku, soalnya di saat aku jadi driver Ojol dan OB pun kamu masih mau dekat-dekat denganku," sahut Nata.
"Terus?"
Nata terdiam, tiba-tiba saja dia merasa gugup.
"Alah, pasti kamu gak bakalan berani mengungkapkan cinta kamu, kan? sudah sana minggir, biar aku saja yang ungkapkan cinta aku kepada Vio."
Lagi-lagi Arga menggoda Nata, dia pura-pura ingin mengungkapkan cintanya kepada Vio tapi Nata kembali menghalangi Arga.
"Diam kamu, berani kamu rebut Vio dariku, aku bersumpah tidak akan menganggap kamu sebagai kakakku lagi!" sentak Nata.
Vio benar-benar dibuat sawan oleh Nata, banyak sekali rahasia besar yang dia sembunyikan selama ini.
"Maksud Mas Nata apa? jadi, Mas Arga itu kakak Mas Nata?" tanya Vio.
"Sudahlah gak usah dipikirin, sekarang aku tanya sama kamu, kamu mau tidak jadi kekasih aku?" tanya Nata dengan konyolnya.
Arga sampai harus menahan tawanya melihat tingkah adiknya itu, sungguh adiknya berubah sekali dari dulu.
"Nat, kamu itu bagaimana sih? kalau nembak wanita itu yang romantis dong, ini nembak wanita nadanya kaya mau ngajak berantem," ledek Arga.
"Diam kamu, gak usah ikut campur. Ayo buruan jawab, kamu mau tidak jadi kekasihku?"
"Mau gak, ya?" sahut Vio dengan mengelus dagunya sendiri.
"Gak usah lebay deh, jawab aja mau atau tidak?" seru Nata tidak sabaran.
"Sebentar aku mikir dulu, kalau aku terima Mas Nata jadi pacar aku, apa keuntungan yang akan aku dapatkan?" celetuk Vio.
"Astaga, kalau kamu jadi kekasihku banyak banget keuntungan yang kamu dapatkan. Semua keinginan kamu bakalan aku kabulkan, kamu mau apa pun bakalan aku turutin."
__ADS_1
"Serius? apa pun?"
"Iya."
"Oke deh, aku terima Mas Nata jadi kekasihku," sahut Vio.
"Yes, akhirnya. Kamu bisa lihat kan, kalau Vio lebih memilihku dibanding denganmu," seru Nata dengan bangganya.
Arga tersenyum dan duduk di atas sofa dengan santainya.
"Memangnya siapa juga yang suka sama Vio, aku hanya mengujimu saja," seru Arga.
"Hah, maksudmu?"
"Aku hanya ingin memastikan saja kamu sudah membuka hatimu dan melupakan Gisel."
Nata tampak mengerutkan keningnya, dia pun duduk di hadapan Arga.
"Dari dulu aku sudah melupakan Gisel, jadi kamu jangan khawatir karena aku tidak akan kembali lagi sama dia walaupun dia memaksaku," sinis Nata.
"Apa kamu masih marah kepadaku?"
"Menurutmu?"
"Oke, sekarang aku mau jujur saja sama kamu masalah Gisel."
"Jujur soal apa?"
Arga menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan.
"Sebenarnya Gisel itu wanita ular, dia sudah memanfaatkan kamu dan juga aku. Gisel itu mempunyai selingkuhan saat berhubungan denganmu dan dia itu hamil tapi dia menggugurkan kandungannya. Dulu aku sengaja seolah-olah merebut Gisel, karena aku dengar kalau kamu mau menikah Gisel jadi aku merencanakan untuk memisahkan kamu dengan cara merebut Gisel darimu."
Nata membelalakan matanya mendengar penjelasan dari Arga.
"Aku gak ikhlas adik kesayanganku menikah dengan wanita bekas seperti itu, makanya aku memberikan semua yang dia mau supaya Gisel meninggalkanmu dan ternyata rencanaku berhasil."
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?" tanya Nata.
"Mau bilang bagaimana, kamu sangat membenciku bahkan untuk melihat wajahku saja, kamu tidak mau," sahut Arga dengan santainya.
Nata terdiam, dia sungguh menyesal karena selama ini dia sudah membenci kakaknya sendiri, padahal kakaknya adalah orang yang sudah menolongnya.
"Maafkan aku, Kak."
"Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Dan satu lagi, tanpa sepengetahuan kalian aku sudah menyelidiki latar belakang Vio bahkan aku sudah datang ke rumah orangtuanya di kampung. Vio adalah anak yang baik dan pekerja keras, jadi aku sangat setuju kalau kalian bersama."
__ADS_1
Nata dan Vio saling pandang satu sama lain, mereka tidak menyangka kalau Arga akan melakukan hal sejauh itu.