
Violet segera menuju ruangannya, dia mulai bekerja dengan serius tapi baru saja beberapa menit bekerja, Violet ingat akan pembicaraannya dengan kedua OB itu.
"Aku jadi penasaran dengan Bos pemilik perusahaan ini, soalnya di saat aku cari tahu mengenai profil pemilik perusahaan, sama sekali tidak muncul justru yang muncul hanya Pak Bobby," batin Violet.
Violet jadi senyum-senyum sendiri membayangkan hal yang tidak-tidak.
"Seandainya aku punya kekasih seperti Pak Bobby, rasanya hidup aku bakalan bahagia sekali. Sudah ganteng, kaya lagi, ah pokoknya hidup aku bakalan bahagia deh," batin Violet dengan senyum-senyum sendiri.
Tidak lama kemudian, Bobby pun datang ke bagian marketing. Bobby berniat meninjau pekerjaan di bagian Marketing, semua karyawan bekerja dengan fokus karena melihat kedatangan Bobby.
Berbeda dengan Violet, dia terus saja memperhatikan Bobby dengan senyumannya membuat Bobby mengerutkan keningnya.
"Kamu kenapa malah senyum-senyum sendiri? bukanya kerja," tegas Bobby.
"Ah iya Pak, maaf," sahut Violet gugup.
Violet pun kembali mengerjakan pekerjaannya, hingga tanpa terasa waktu makan siang pun tiba.
Violet dengan cepat pergi ke kantin karena perutnya sudah sangat lapar, Violet pun mengantri dengan karyawan yang lainnya.
Tiba-tiba, Bobby pun datang dan ikut mengantri juga. Kebetulan Bobby mengantri tepat di belakang Violet membuat Violet salah tingkah.
"Astaga, Pak Bobby ada di belakang aku, ya ampun bikin aku deg-degan saja mana wangi parfumnya wangi banget bikin wanita sampai tergila-gila," batin Violet dengan senyumannya.
Violet terus saja melamun tak jelas, membuat dia tanpa sadar kalau antriannya sudah berjalan jauh. Bobby lagi-lagi mengerutkan keningnya melihat tingkah Violet.
"Woi, sebenarnya kamu mau makan atau mau berdiri saja di sini!" sentak Bobby.
Seketika Violet tersentak dan langsung melangkahkan kakinya kemudian mulai mengambil nasi dan juga lauk pauknya, begitu pun dengan Bobby.
Violet terus saja melirik Bobby, di saat Bobby menoleh, Vio akan tersenyum genit dan mengedip-ngedipkan kedua matanya.
"Kamu kenapa? cacingan? kedip-kedip kaya gitu?" seru Bobby dengan melangkahkan kakinya meninggalkan Violet.
"Pak Bobby susah sekali di deketin, sepertinya aku harus ekstra mengeluarkan rayuan nih supaya Pak Bobby terpikat dengan kecantikanku," batin Violet.
Setelah selesai mengambil makanan, Violet pun duduk di meja yang berdekatan dengan Bobby. Bobby duduk sendirian dan tidak ada yang berani mengganggunya, Violet terus saja curi-curi pandang kepada Bobby membuat Bobby merasa tidak nyaman.
__ADS_1
Hingga akhirnya Nata pun datang, semua karyawan tampak menundukkan kepalanya saking berpengaruhnya sosok Nata. Nata mengedarkan pandangannya, sosok yang dia cari pun terlihat tapi Nata tampak mengerutkan keningnya saat Vio tampak mencuri-curi pandang kepada Bobby.
"Sial, dia rupanya ingin menggoda Bobby," batin Nata.
Nata pun dengan cepat mengambil nasi dan juga lauk pauknya, lalu duduk di hadapan Violet membuat pandangan Violet terhadap Bobby tertutup.
"Astaga, ngapain kamu duduk di situ? minggir, duduk di kursi lain saja," kesal Violet.
"Kamu ngapain lihatin si Bobby kaya gitu?"
"Wah, songong nyebut Pak Bobby tanpa sebutan Pak, kamu mau dipecat dari sini."
"Bodo, ngapain kamu kecentilan kaya gitu? kamu suka ya, sama si Bobby?" kesal Nata.
"Ya memangnya kenapa kalau aku suka sama Pak Bobby? apa hubungannya sama kamu?" kesal Violet.
"Kamu ya, tidak bisa lihat pria bening sedikit langsung aja kecentilan. Padahal aku lebih tampan dibandingkan si Bobby."
"Ishh..ishh..ishh...aku akui kamu memang tampan, tapi sayang kamu terlalu sederhana untukku. Kamu juga kan tahu, kalau aku itu suka pria kaya," seru Vio dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Kenapa sih, semua wanita di dunia ini yang dipikirkan hanya uang, uang, dan uang. Kenapa wanita tidak melihat dari ketulusan hati si pria?" kesal Nata.
Nata tampak berpikir sejenak. "Benar juga kamu."
"Nah, jadi wajar saja kalau aku menginginkan calon suami yang kaya supaya hidupku bahagia."
"Tapi tetap saja, melihat pria dari uangnya saja itu tidak benar."
"Terserah Mas Nata sajalah."
Violet pun melirik lagi ke belakang tubuh Nata dan ternyata Bobby sudah tidak ada.
"Yah, Pak Bobbynya sudah pergi. Ini semua gara-gara Mas Nata."
"Lah, kok aku sih?"
Violet dengan cepat menghabiskan makannya dan setelah selesai, Violet pun bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Nanti jam 14.00 siang, kamu buatin aku kopi ya, soalnya kalau jam segitu aku suka ngantuk," seru Violet.
"Idih, ogah buat aja sendiri."
"Kamu ya, aku benar-benar bakalan laporin kamu ke Pak Bobby biar kamu dipecat."
"Bodo amat," sahut Nata santai.
"Ishh...dasar OB menyebalkan."
Violet pun dengan kesalnya meninggalkan Nata.
***
Waktu pulang pun tiba....
Nata tampak celingukan, dia memastikan kalau semua karyawan sudah pulang khususnya Violet. Nata tidak mau sampai Violet melihatnya dan ujung-ujungnya meminta tumpangan gratis.
Dirasa tidak ada siapa-siapa, Nata pun berjalan mengendap-ngendap menuju parkiran. Sesampainya di depan motornya, Nata langsung memakai jaketnya dengan cepat lalu mengenakan helm.
Baru saja Nata ingin menyalakan motornya, seseorang langsung naik di jok belakang membuat Nata melotot.
"Mas Nata ke mana saja sih? aku sampai pegal nungguin kamu di sini," seru Violet.
"Astaga."
Nata menghembuskan napasnya secara kasar, wanita yang satu ini memang benar-benar selalu membuat dirinya jengkel.
"Kamu itu ya, kenapa kamu gak pulang saja duluan, ngapain pakai nungguin aku segala!" sentak Nata.
"Gak punya ongkos Mas, jadi aku tungguin Mas saja," sahut Violet dengan sengirannya.
"Ya Allah, apa dosa hamba? kenapa engkau pertemukan aku dengan wanita ini," batin Nata.
"Mas Nata jangan banyak menggerutu, pahalanya besar loh kalau menolong orang yang sedang kesusahan."
"Bodo amat, aku gak butuh pahala!" teriak Nata frustasi.
__ADS_1
Violet hanya terkekeh mendengar teriakan Nata, sedangkan Nata dia benar-benar kesal untung Violet cantik kalau enggak, sudah Nata lempar si Violet ke kandang buaya saking kesalnya.