
Hari demi hari, Minggu demi Minggu sudah terlewati, hari ini adalah hari pernikahan Arga dan Sabrina setelah tadi pagi mereka melaksanakan ijab kabul, malam harinya mereka mengadakan resepsi di sebuah hotel bintang lima yang sangat mewah.
Banyak pengusaha dari berbagai daerah datang untuk memeriahkan acara pernikahan Arga dan Sabrina.
"Selamat Kak, semoga pernikahan kalian langgeng sampai maut memisahkan," seru Nata dengan memeluk Kakaknya itu.
"Amin, terima kasih atas do'anya bulan depan kamu juga nyusul, aku do'akan semoga semuanya berjalan dengan lancar."
Kedua Kakak beradik itu saling berpelukan satu sama lain, Nata pun melepaskan pelukannya dan beralih memeluk Sabrina.
"Tolong jaga Kakakku, rawat dan urus dia. Kamu juga harus selalu mengingatkannya untuk makan, karena dia suka lupa makan kalau sudah bekerja."
"Pasti Nat."
Malam itu menjadi malam paling bahagia untuk pasangan Arga dan Sabrina, begitu pun dengan Nata dan Vio yang ikut bahagia.
"Aku akan kenalkan kamu dengan rekan bisnis aku," seru Nata.
"Aku malu, Mas."
"Kenapa mesti malu? aku itu ingin semua orang tahu kalau calon istriku itu sangat cantik."
Vio tersenyum malu, bahkan wajahnya pun sudah memerah. Nata paling suka kalau sudah melihat Vio malu-malu seperti itu, rasanya Vio sangat menggemaskan.
Nata pun menggenggam tangan Vio dan membawa Vio untuk berkenalan dengan semua rekan bisnisnya.
Sementara itu Bobby tampak kesal karena Pelangi terus saja ngintilin Bobby.
"Astaga, bisa tidak kamu jangan ngikutin aku terus?" kesal Bobby.
"Gak bisa, di sini aku gak kenal sama siapa-siapa jadi aku ngikutin Mas Bobby aja," sahut Pelangi.
"Kamu benar-benar ya."
Pelangi tidak peduli dengan kekesalan Bobby, dia malah merangkul lengan Bobby membuat Bobby semakin kesal dan menatap tajam ke arah Pelangi.
"Pelaskan tanganmu."
"Enggak, aku gak punya teman di sini," sahut Pelangi semakin mengeratkan pegangannya.
"Ya sudah, kamu ikutin aja si Vio."
"Gak bisa, kalau aku ikutin si Vio, bisa-bisa Mas Nata bunuh aku."
"Lah, kamu takut sama Nata tapi gak takut sama aku?"
"Enggak, ngapain aku takut sama Mas Bobby."
Bobby sudah mengepalkan tangannya saking kesalnya kepada Pelangi, namun Bobby lebih memilih pasrah dan tidak banyak bicara lagi. Percuma banyak bicara juga, Pelangi tidak akan menjauhinya.
__ADS_1
"Wah, Pak Bobby ternyata sudah punya pasangan sekarang, calonnya cantik banget Pak," seru salah satu rekan bisnis Nata.
Bobby hanya tersenyum canggung, sedangkan Pelangi memanfaatkan situasi dengan lebih bersikap mesra lagi kepada Bobby.
"Semoga Pak Bobby segera menikah, kalau begitu saya permisi dulu."
"Silakan, Pak."
Bobby pun kembali menghampiri tamu yang lainnya dan Pelangi masih menempel kepada Bobby, di saat Bobby sedang asyik mengobrol, Pelangi tampak celingukan memperhatikan suasana tapi tiba-tiba dari kejauhan Pelangi melihat Gisel sedang memasukan sesuatu ke dalam minuman.
"Si Mak lampir, masukin apa itu?" batin Pelangi.
Setelah itu, Pelangi melihat Gisel memanggil pelayan dan Gisel menunjuk seseorang. Pelangi melihat arah pandang Gisel, dan ternyata orang itu adalah Nata.
"Wah, gawat si Mak lampir pasti ingin memberikan minuman itu kepada Mas Nata," batin Pelangi.
Pelangi pun melepaskan rangkulannya dan segera menghampiri Nata yang baru saja mengambil gelas minuman yang diberikan oleh si pelayan.
Di saat Nata ingin meneguk minuman itu, Pelangi memukul tangan Nata sehingga gelas itu jatuh dan pecah, membuat semua orang melihat ke arah Nata.
"Astaga Pelangi, kamu apa-apaan?" kesal Nata.
"Mas Nata jangan minum minuman itu, soalnya Gisel sudah memasukan sesuatu ke dalam minuman Mas Nata."
"Apa?"
Nata mencari keberadaan Gisel, namun sayang Nata melihat Gisel sudah berlari ke pintu keluar.
"Sama-sama Mas."
"Terima kasih ya Pel, kamu memang sahabat terbaikku," seru Vio dengan memeluk Pelangi.
Acara pun berjalan dengan lancar, dan Nata pun memutuskan untuk mengantar Vio pulang ke kontrakannya.
"Mulai besok kamu dan Pelangi tinggal saja di apartemenku, jangan di kontrakan lagi biar kamu juga bisa lebih nyaman," seru Nata.
"Kalau aku terserah Mas Nata saja."
"Besok kita fitting baju, jadi kamu gak usah bekerja nanti aku jemput kamu."
"Siap Mas."
Tidak lama kemudian, mobil Nata pun sampai di kontrakan.
"Kok lampunya masih padam, pasti Pelangi belum pulang. Astaga, aku lupa Mas kalau Pelangi masih di sana."
"Sudah kamu gak usah khawatir, pasti si Bobby bakalan nganterin Pelangi pulang."
"Yakin, Mas Bobby bakalan nganterin Pelangi pulang? bagaimana kalau Mas Bobby gak mau nganterin Pelangi pulang? kasihan dia Mas."
__ADS_1
"Percaya deh, Bobby memang dingin tapi dia orangnya gak tegaan."
"Mudah-mudahan saja, Mas Bobby begitu."
Vio hendak keluar dari mobil Nata tapi Nata menahannya.
"Main keluar aja, memangnya kamu gak mau apa ngucapin selamat tinggal atau selamat malam gitu," seru Nata.
"Selamat malam Mas Nataku, sayang. Sudah ya, aku mau masuk dulu."
Lagi-lagi Nata menahan Vio, perlahan Nata mendekatkan wajahnya ke wajah Vio tapi di saat tinggal beberapa senti lagi, Vio menutup bibirnya dengan tangannya membuat Nata menatap Vio.
"Tunggu sebulan lagi, jangan sering-sering berbuat mesum nanti jadi kebiasaan," seru Vio.
Vio pun dengan cepat keluar dari dalam mobil Nata dan segera berlari masuk ke dalam kontrakannya. Nata yang awalnya kesal, akhirnya terkekeh melihat kelakuan calon istrinya itu.
"Awas kamu Vio, tunggu pembalasanku bulan depan," gumam Nata dengan senyumannya.
Nata pun segera melajukan mobilnya meninggalkan kontrakan Vio. Sementara itu di hotel, Pelangi berdiri di luar hotel dia kebingungan mau pulang naik apa.
"Aku pulang naik apa, mana sudah malam lagi," gumam Pelangi.
Bobby dari kejauhan terus saja memperhatikan Pelangi, dia sengaja tidak langsung pulang karena dia yakin kalau Pelangi kebingungan mau pulang dengan siapa soalnya Bobby lihat Vio sudah pulang bersama Nata.
Tiba-tiba, sebuah mobil berhenti di depan Pelangi dan seorang pria keluar dari dalam mobil itu.
"Hai Nona, Nona sedang menunggu siapa?"
"Aku tidak menunggu siapa-siapa, aku lagi mencari taksi untuk pulang," sahut Pelangi.
"Ya ampun, wanita secantik Nona terlalu rawan kalau pulang sendirian naik taksi, bagaimana kalau saya antarkan Nona pulang, saya orang baik kok, jadi Nona jangan takut."
Pelangi tampak berpikir, hingga tidak lama kemudian tangan Pelangi ditarik seseorang membuat Pelangi kaget.
"Dia akan pulang denganku, jadi terima kasih atas tawaran anda," ketus Bobby.
Bobby dengan kesalnya menarik tangan Pelangi dan membawanya masuk ke dalam mobilnya. Bobby pun mulai melajukan mobilnya meninggalkan hotel itu.
"Lain kali jangan asal ikut orang sembarangan, bagaimana kalau itu orang jahat," kesal Bobby.
"Aku kan, gak tahu harus pulang dengan siapa jadi daripada naik taksi, lebih baik ikut Mas tadi kan, lumayan gratis," sahut Pelangi.
"Dari tadi kamu ngikutin aku terus, tapi di saat pulang kenapa kamu gak minta aku anterin kamu pulang?"
"Kalau aku minta Mas anterin aku pulang, pasti Mas gak bakalan mau."
Bobby menatap tajam ke arah Pelangi, lalu kembali fokus pada jalanan. Entah kenapa Bobby merasa kesal, saat Pelangi memilih minta tolong kepada orang lain dibandingkan kepadanya.
"Ini orang kenapa sih, membuat aku serba salah saja," batin Pelangi.
__ADS_1