Cinta Sang Milyarder

Cinta Sang Milyarder
Bab 36 Vio Vs Gisel


__ADS_3

Keesokan harinya....


Vio sudah siap dengan pakaian kantornya dan sekarang sedang menyiapkan sarapan untuknya dan juga Pelangi.


"Vio, bagaimana dengan tadi malam, apa semuanya berjalan dengan lancar?" tanya Pelangi yang langsung duduk di hadapan Vio.


"Alhamdulillah lancar, dan dua bulan lagi aku dan Mas Nata akan menikah."


"Whaaaaattt...serius kamu?" seru Pelangi terkejut.


"Astaga, biasa saja kali gak usah muncrat-muncrat juga makanannya."


"Sorry Vio, soalnya aku kaget banget kamu mau menikah secepat itu."


"Kamu aja kaget, apalagi aku. Entahlah aku juga bingung tapi kata Mas Nata, aku dan keluarga ku gak usah mikirin apa-apa karena semuanya dia yang siapkan."


"Wuidih mantap, rumah Mas Nata besar ya?"


"Besar banget, Pel. Kaya istana bukan kaya rumah lagi."


"Akhirnya mimpi kamu ingin mempunyai suami kaya dan tampan sebentar lagi akan terkabul, selamat ya Vio."


"Terima kasih Pel, aku juga do'akan semoga kamu segera mendapatkan calon suami yang kaya dan tampan."


"Aku mah sudah pasrah, Vio. Pria yang aku sukai, sepertinya tidak menyukaiku," keluh Pelangi.


"Siapa? Pak Bobby, maksudmu?"


"Heem, jangankan dia mau jadi pacarku, aku deketin dia aja doi langsung kabur kaya dideketin setan."


"Sabar, mungkin Pak Bobby butuh waktu untuk memahami sifat kamu. Aku yakin, Pak Bobby juga suka kok sama kamu."


"Serius Vio, Pak Bobby suka sama aku?" tanya Pelangi antusias.


"Mungkin."


"Kamu ini."


Kedua wanita cantik itu pun segera menyelesaikan sarapannya, dan berangkat ke tempat kerja masing-masing.


Hari ini Vio menggunakan taksi online, karena memang hari ini adalah hari gajihan pertama Vio jadi, dia sangat bersemangat pergi ke kantor.


"Mas Nata, pasti marah sama aku akibat kejadian tadi malam makanya dia tidak jemput aku," batin Vio.


Vio pun sampai di kantor, baru saja Vio keluar dari dalam taksi tiba-tiba sebuah mobil sport yang Vio sangat kenali sampai di depan kantor.


Nata keluar dari dalam mobilnya dengan gagah dan terlihat sangat tampan dengan jas hitam yang melekat sempurna di tubuhnya, Vio sampai menganga melihat penampilan calon suaminya itu karena selama ini, Vio baru melihat kalau Nata berpakaian rapi seperti itu.


"Ya ampun, sempurna sekali calon suami orang," batin Vio.


Hingga beberapa detik kemudian, Vio tersadar dan langsung tersentak.


"Bodoh, Mas Nata kan calon suami aku, kenapa aku bisa sampai lupa sih," batin Vio dengan memukul kepalanya sendiri.


Nata menoleh sebentar ke arah Vio dan Nata mengedipkan sebelah matanya lalu Nata dan Bobby pun masuk ke dalam kantor.

__ADS_1


Sedangkan Vio, masih mematung mendapat kedipan tiba-tiba dari Nata.


"Astaga, baru dapat kedipan aja aku sudah berdebar seperti ini, apalagi kalau dapat ciuman bisa sawan aku. Ah, menyebalkan tadi malam kenapa aku harus bersin sih kalau tidak, mungkin aku sudah bisa merasakan ciuman hangat Mas Nata," gumam Vio.


Vio jingkrak-jingkrak sendiri membayangkan itu semua, membuat semua karyawan menatap aneh kepada Vio.


Wajah Vio mulai memerah, dia pun langsung masuk ke dalam kantor dengan hati yang berbunga-bunga.


Sementara itu di ruangan Nata, mood Nata pagi ini sedikit buruk.


"Bagaimana pertemuannya tadi malam?" tanya Bobby.


"Lancar, bulan depan Kak Arga akan menikah sama Sabrina dan satu bulan kemudian, aku sama Vio yang akan menikah," sahut Nata.


"Waduh, sebentar lagi kamu bakalan anu-anu dong," goda Bobby.


"Apaan sih, pagi-pagi sudah ngomongin kaya gitu," ketus Nata.


"Lah, kamu kenapa? bukanya senang mau halal, malah cemberut kaya gitu."


"Mood ku lagi jelek."


"Jelek kenapa?" tanya Bobby.


Nata menghembuskan napasnya secara kasar, lalu Nata pun menceritakan kejadian tadi malam kepada Bobby. Nata dan Bobby memang tidak pernah ada rahasia, mereka selalu terbuka satu sama lain.


"Buahahaha....lucu sekali, jadi kamu cemberut karena gak jadi kissing-kissing?"


"Berisik, jangan ketawain aku kaya gitu."


"Tahu ah, kesal aku."


Sementara itu, di lobi kantor seorang wanita seksi melangkahkan kakinya dengan anggun. Wanita itu tidak lain dan tidak bukan adalah Gisel, dia datang ke kantor Nata karena ingin bertemu dengan Nata dan merayu Nata untuk bisa balikan lagi dengannya.


Vio yang baru saja keluar dari toilet dan hendak masuk ke dalam lift, seketika menoleh ke arah Gisel.


"Siapa wanita itu? perasaan aku pernah melihatnya, tapi dimana ya?" gumam Vio.


Vio mulai mengingat-ngingat sembari masuk ke dalam lift, hingga akhirnya Vio ingat kalau Gisel adalah wanita yang dulu pernah datang ke kontrakan Nata dan memeluk Nata.


"Ah sial, bukanya dia wanita yang dulu datang ke kontrakan dan main nemplok sama Mas Nata? mau ngapain dia ke sini? wah, jangan-jangan dia mau merayu Mas Nata ku lagi, ini tidak bisa dibiarkan," gumam Vio dengan kesalnya.


Gisel mengembangkan senyumannya, dia tidak henti-hentinya melihat pantulan wajahnya di cermin yang dia bawa.


"Sempurna, Nata pasti akan terpesona melihat kecantikanku," gumam Gisel dengan percaya dirinya.


Setelah sampai di depan ruangan Nata, Gisel langsung membuka pintu itu membuat Nata dan Bobby sama-sama menoleh.


"Selamat pagi, Nata sayang."


Gisel segera menghampiri Nata dan hendak memeluk Nata tapi Nata dengan sigap menghindar.


"Ngapain kamu ke sini? lagipula kalau masuk ke dalam ruangan orang itu ketuk pintu dulu, gak sopan banget kamu jadi orang!" sentak Nata.


"Nata sayang, jangan galak-galak dong aku itu rindu banget sama kamu, aku ingin kita seperti dulu lagi," rengek Gisel dengan manjanya.

__ADS_1


Nata duduk kembali di kursi kebesarannya dengan memijit keningnya.


"Bob, bawa wanita itu pergi dari sini," seru Nata.


"Silakan, mau keluar dengan suka rela atau aku seret kamu," seru Bobby.


"Diam kamu, kamu hanya seorang asisten di sini berani sekali kamu ingin menyeretku!" bentak Gisel.


Bruaakk...


Pintu ruangan Nata terbuka dengan kasar membuat semuanya kaget.


"Vio."


"Hai ulat bulu, ngapain kamu ke sini? kamu merayu calon suamiku ya?" seru Vio.


"Apa? calon suami? maksud kamu siapa?" tanya Gisel sinis.


Vio pun menghampiri Nata dan duduk di pangkuan Nata membuat Gisel membelalakkan matanya, sedangkan Bobby memilih keluar saja karena dia yakin, Vio bisa mengatasi Gisel.


"Hai, berani sekali kamu bersikap kurang ajar kepada Nata ku!" bentak Gisel.


"Nata mu? Mas Nata ini calon suamiku, jangan ngaku-ngaku jadi orang," sinis Vio.


Nata hanya diam saja, justru saat ini Nata tampak menyunggingkan senyumannya dia yakin kalau Vio bisa mengatasi Gisel.


Gisel merasa kesal, dia hendak menghampiri Vio karena Gisel ingin sekali menjambak rambut Vio.


"Awas kamu ya."


Belum juga Gisel berhasil menjambak rambut Vio, Vio langsung menendang tubuh Gisel sampai Gisel tersungkur ke lantai bahkan Nata pun sampai menahan tawanya.


"Kurang ajar kamu, berani sekali kamu menendang ku!" teriak Gisel.


Vio mengalungkan tangannya ke leher Nata dan menciumi pipi Nata, membuat Gisel semakin geram.


"Awas kamu, urusan kita belum selesai, aku akan datang lagi dan merebut Nata darimu!" sentak Gisel.


"Silakan kalau kamu bisa."


Dengan kesalnya, Gisel pun meninggalkan ruangan Nata.


"Dasar pelakor," ketus Vio.


Vio hendak bangkit dari pangkuan Nata tapi Nata menahannya.


"Mau ke mana? kamu sendiri yang sudah memancingku, jadi sekarang kamu harus tanggung jawab," seru Nata.


"Memancingmu? tanggung jawab? maksud Mas Nata apa?" tanya Vio bingung.


Nata sudah tidak mau berdebat lagi, dia menarik wajah Vio dan dengan hitungan detik, bibir keduanya sudah menempel satu sama lain.


Mata Vio melotot saking kagetnya dengan serangan fajar yang dilancarkan Nata.


__ADS_1


__ADS_2