
Keesokan harinya...
Ini adalah hari Sabtu, waktunya libur kerja tapi pagi ini waktu istirahat Nata, Vio, dan Pelangi terganggu dengan keadaan gaduh di luar kontrakan.
"Astaga, berisik banget sih, ada apa ini?" geram Nata dengan menutup wajahnya dengan bantal.
"Pel, marahin sana siapa sih yang berisik," seru Vio dengan masih menutup matanya.
"Kamu aja sana, aku masih ngantuk," sahut Pelangi dengan sama-sama masih menutup matanya.
Akhirnya dengan terpaksa Vio pun bangun, bahkan matanya masih tertutup dan enggan terbuka. Begitu pun dengan Nata yang sama-sama bangun dengan malasnya dengan langkah yang terpincang-pincang.
Vio dan Nata membuka kontrakan bersama-sama, dengan penampilan yang acak-acakan dan mata keduanya masih terpejam.
"Jangan berisik, aku lagi tidur!" seru keduanya bersamaan.
"Selamat pagi, semuanya!" sapa Arga.
Seketika mata Nata dan Vio terbuka bersamaan mendengar suara yang terasa sangat tidak asing di pendengaran mereka.
"Kamu!"
"Mas Arga!"
Arga tampak menyunggingkan senyumannya, begitu pun Bobby yang ikut melambaikan tangan kepada Nata.
Nata dan Vio saling pandang satu sama lain, mereka terdiam saking kagetnya melihat mobil besar yang mengangkut barang-barang milik Arga.
Dengan langkah terpincang-pincang, Nata menghampiri Arga dan mencengkram kerah baju Nata.
"Apa maumu? kenapa kamu pindah ke sini?" geram Nata.
Vio terkejut dan segera menghampiri Nata...
"Mas Nata kenapa? jangan seperti itu Mas," sentak Vio.
Pelangi yang mendengar suara gaduh di depan kontrakan, akhirnya bangun dan memutuskan untuk keluar. Betapa terkejutnya Pelangi saat melihat ada Bobby di sana, begitu pun dengan Bobby yang sama terkejutnya.
"Astaga, Mas Bobby."
Pelangi langsung merapikan rambutnya dan juga penampilannya, lalu Pelangi pun menghampiri semuanya.
"Ada apa ini?" seru Pelangi.
"Pel, bantuin aku," sahut Vio.
Vio memeluk pinggang Nata dan berusaha menarik Nata, sedangkan Pelangi berusaha menarik tangan Nata.
"Sudah Mas, jangan berantem masih pagi ini," seru Pelangi.
"Kamu memang sengaja mengusik hidupku," geram Nata.
"Kalau aku ingin tinggal di sini, memangnya kenapa? ini bukan kontrakan milikmu, jadi siapa pun bebas tinggal di sini," sahut Arga dengan santainya.
Nata hendak melayangkan pukulannya tapi Vio dengan sekuat tenaga menarik tubuh Nata sehingga Nata pun berhasil ditarik oleh Vio dan Pelangi, berbeda dengan Bobby yang hanya bisa melihat saja tanpa mau memisahkan kedua kakak beradik itu.
__ADS_1
"Lepaskan aku, aku harus buat perhitungan dengan orang brengsek itu!" bentak Nata.
"Mas Nata, istighfar Mas!" teriak Vio.
Pelangi terus saja melihat ke arah Bobby dengan senyuman centilnya membuat Bobby salah tingkah dan memilih memalingkan wajahnya ke sembarang arah.
"Mas Nata, masuk!" bentak Vio.
"Siapa kamu, berani bentak-bentak aku!"
"Mas Nata itu kenapa sih, melihat Mas Arga seperti benci banget, memangnya Mas Nata kenal dengan Mas Arga?" teriak Vio.
"Dia adalah Ka-----"
Nata menghentikan ucapannya, membuat Vio mengerutkan keningnya.
"Dia adalah siapa?"
Nata terdiam bahkan saat ini wajahnya terlihat gugup, Nata begitu geram hingga akhirnya Nata pun memutuskan untuk masuk ke dalam kontrakannya tanpa menjawab pertanyaan Vio.
"Astaga, orang cemburu memang sangat mengerikan," gumam Pelangi.
"Apa kamu bilang?" tanya Vio.
"Enggak, gak ada apa-apa."
Vio pun langsung menghampiri Arga. "Mas Arga tidak apa-apa kan?"
"Ah, aku tidak apa-apa kamu jangan khawatir."
"Tidak apa-apa, ingin merasakan hidup sederhana saja."
Sementara itu, Bobby sedang santai di dalam mobil dengan mendengarkan lagu dari earphonenya sembari memejamkan matanya, dia malas sekali mendengar pertengkaran kedua kakak beradik itu.
Bobby tidak tahu kalau saat ini Pelangi sudah berada di samping mobil itu dengan memperhatikan wajah Bobby.
"Ya Allah, tampan sekali ciptaanmu ini," gumam Pelangi sembari senyum-senyum.
"Astaga, kok bulu kudukku berdiri sih? tiba-tiba saja merinding," gumam Bobby dengan masih memejamkan matanya.
Perlahan Bobby membuka matanya dan betapa terkejutnya Bobby saat melihat Pelangi sedang menatapnya dengan senyumannya dari balik kaca mobilnya.
"Allahuakbar, Astagfirullah, Subhanallah!" teriak Bobby.
Arga dan Vio segera berlari menghampiri Bobby.
"Ada apa Bob?" tanya Arga panik.
"Wanita itu mengagetkanku," sahut Bobby dengan memegang dadanya.
"Yaelah Mas Bobby, memangnya wajahku menyeramkan ya? sampai-sampai Mas Bobby teriak seperti itu?" kesal Pelangi.
"Wajahmu memang menyeramkan Pel, kaya emak-emak yang jatah bulanannya kurang," ledek Vio.
"Kurang ajar, kamu Vio."
__ADS_1
Bobby pun keluar dari mobilnya dan terlihat masih sawan.
"Kamu kenal sama Pak Bobby dari mana?" tanya Vio.
"Mas Bobby ini langganan di bengkel tempat aku bekerja, dan dia adalah-----"
Belum sempat Pelangi melanjutkan ucapannya, Pelangi menoleh ke arah kontrakan Nata dan terlihat Nata sedang menatapnya dengan tajam.
"Dia adalah apa, Pel?" tanya Vio.
"Ah, bukan apa-apa. Ayo Mas, aku bantuin beres-beres barang-barangnya, tapi gak gratis ya," seru Pelangi dengan sengirannya.
"Tenang saja, kalian mau apa nanti aku belikan," sahut Arga.
"Asyik, benar ya Mas."
"Iya dong."
Vio dan Pelangi pun mulai membantu Arga dan Bobby, sedangkan Nata tampak geram.
"Si Arga mau apa lagi, ngapain dia mau pindah ke sini segala? tuh orang memang kurang ajar," geram Nata.
Nata pun menjatuhkan tubuhnya ke atas tempat tidur, dia benar-benar geram dengan kakaknya yang selalu saja mengganggu kebahagiaannya.
Waktu pun berjalan dengan sangat cepat, semua barang-barang Arga pun sudah beres dan saat ini keempatnya sedang duduk selonjoran di teras kontrakan Arga.
"Sebentar lagi waktunya makan siang, bagaimana kalau aku teraktir kalian makan di restoran," seru Arga.
"Mau-mau," sahut Vio dan Pelangi bersamaan.
"Ya sudah, sekarang kalian mandi dulu sana kita makan siang," seru Arga.
"Siap Bos."
Vio dan Pelangi langsung masuk ke dalam kontrakannya untuk mandi, sedangkan Nata yang dari tadi menempelkan daun telinganya di pintu tampak mengepalkan tangannya.
"Sial, ngapain pakai ajak makan-makan di restoran segala, cari perhatian banget tuh orang," geram Nata.
Nata pun mengirim pesan kepada Bobby untuk masuk ke dalam kontrakannya.
"Maaf Kak, aku ke kontrakan Nata dulu, soalnya dia manggil."
Arga menganggukkan kepalanya...
"Ada apa Nat?"
"Ngapain dia ngontrak di sini?"
"Aku gak tahu, dia bilangnya hanya ingin merasakan hidup ala kalangan bawah."
"Kalau tujuan dia kaya gitu, dia kan bisa ngontrak di tempat lain, ngapain juga dia ngontrak di sini? pasti dia mau recokin aku sama Vio," celetuk Nata tanpa sadar.
"Hah, ngerecokin hubungan kamu sama Vio? kamu pacaran sama wanita itu?" tanya Bobby.
Seketika wajah Nata pucat, dia merutuki kebodohannya yang sudah keceplosan berkata seperti itu.
__ADS_1