
Keheningan tercipta saat makan malam.Diantara ketiganya tidak ada yang membuka suara sama sekali.
Ketiganya nampak menikmati makan malam itu dengan pikiran masing masing.Hingga acara makan malam itu berakhir semua setia dengan mengunci muluit mereka masing masing.
Agam dan Radit pun kembali keruang tengan untuk meyelesaikan pekerjaan mereka yang tadi terjeda karena mengisi perut mereka yang memang sudah merasa lapar.
Sedangkan Naina sendiri membereskan sisa makan malam ketiganya ,lalu pamit undur diri pada sang Kakak untuk kembali pulang kerumah kedua orang tuanya.
"Biar aku antar pulang"ujar Radit yang akhirnya membuka suaranya.
"Ti_tidak usah Kak,aku sudah terbiasa pulang sendiri"tolak Naina yang merasa kurang nyaman dengan sikap dingin Radit.
"Lebih baik denang Radit Dek,biar lebih aman.Ini juga sudah larut dan Kakak masih banyak perkerjaan"ujar Agam menyarankan pada adiknya.
"Tapi hatiku yang tidak aman Kak"gumam Naina dalam hati.
"Ayo aku juga sekalian mau pulang ke apartemenku"ujar Radit lagi berlalu terlebih dahulu keluar dari unit apartemen Agam.
"Ya sudah,aku pamit ya Kak.Besok aku balik lagi buat anterin makan pagi sama makan siang buat Kakak"
"Mmm,pulanglah.Maaf sudah merepotkanmu"
__ADS_1
"Tidak apa apa.Nanti setelah Kak Lala pulang semua tugas Naina juga akan selesai"
"Doakan saja semoga Kak Lala akan segera ditemukan"
"Kami akan selalu mendoakan yang terbaik untuk Kakak dan juga Kak Lala agar segera dipertemukan"
"Aamiin"
"Ayo Dek,nanti keburu kemalaman"seru Radit dari ambang pintu karena Naina tak kunjung menemuinya.
"I_iya Kak,aku pulang ya Kak"
"Iya hati hati,kabari Kakak jika sudah sampai dirumah"
Naina pun segera keluar unit apartemen Agam dan menghampiri Radit yang sudah berdiri didepan pintu lift.
"Maaf sudah membuat Kakak menunggu lama"ujar Naina saat tiba disamping Radit dan dijawab deheman saja oleh Radit yang membuat Naina kembali dibuat kikuk dan canggung.
Keduanya pun memasuki lifty yang sama saat pintu lift itu terbuka.Selama didalam lift keduanya memilih sama sama terdiam/
Tak henti hentinya Nain meremas tas jingjing yang dia gunakan untuk membawa makanan untuk Agam tadi.
__ADS_1
Dan hal itui toidaknluput dari pandangan Radit.Radit melihat pergerakan tangan Naina lewat ujung matanya.
Helaan nafas panjang pun terdengar sebelum akhirnya Radit membuka kembali suaranya sebelum keluar dari lift karena pintu lift itu kini sudah terbuka dan keduanya sudah berada di baseman apatemen.
"Segitu tidak nyaman nya kamu berada didekatku?aku tidak akan melakukan apapun jadi tenang dan santailah"ucap Radit yang membuat Naina melongo.
Dia tidak tahu jika selama didalam lift taadi Radit memperhatikan sikapnya yang memang sedikit kurang nyaman.
Bukan karena adaanya pria lain dihati Nain,namun justru ketidak nyaman itu karena kini Naina memang miliki prasaan khusus pada pria yang kini berjalan didepan nya.
Karena itu juga Naina hingga tega memutuskan Hadi karena Naina tidak bisa lagi membohongi hatinya jika dirinya sudah jatuh cinta pada sahabat Kakaknya itu.
Brugghhh...
"Awww maaf Kak"ucap Naina saat tiba tiba tubuhnya menubruk punggung kekar Radit karena Radit yang tiba tiba menghentikan langkahnya.
Terdengar Radit menghela nafas kasar sebelum membalik tubuhnya hingga kini dia bisa melihat wajah cantik yang begitu dia ruindukan tapi tidak bisa dia ganggam atau pun peluk setelah pembicaraan terakhir keduanya yang mengisyaratkan jika wanita yang begitu dia cintai itu menolak kehadiran nya.
Bahkan selama satu bulan berpisah diantara kedunya sama sekali tidak ada komunikasi apapun.
*
__ADS_1
*
🌸🌸🌸