
11.00:
Usai rapat Adiyasa mengunjungi dapur dan melihat cara kerja semua pelayan dan chef yang sedang menyiapkan menu makanan siang untuk para tamu. Ia meneliti mereka dengan sangat detil. Semua masakan ia cicipi. Semua karyawannya tegang dan berharap tak melakukan kesalahan sedikitpun. Ia berjalan hingga ujung ruangan dan menghampiri masakan seorang chef wanita yang tengah fokus memasak dan samasekali tak mempedulikan kehadirannya, "Kurang garam," celetuknya.
Chef itu menoleh padanya dan sangat terkejut, "Mas!"
"Kamu!" sergah Adiyasa syok.
Ia dan Indria saling menatap beberapa detik dan tersadar oleh bunyi sendok yang di jatuhkan oleh seorang pelayan.
Indria kikuk dan pipinya langsung bersemu merah. Veronica kesal dengan kelakuannya dan menegurnya begitu kasar, "Kamu lancang sekali dengan Pak Adiyasa! Kamu tahu tidak jika dia menejer baru kita!"
"Menejer?" batin Indria. Ia memberanikan diri menatap Adiyasa.
"Tambahkan sedikit lagi garamnya. Sup ini masih terasa hambar," tukas Adi tak peduli dia siapa.
Indria mengernyit, "Padahal aku sudah tambahkan garam dua kali," pikirnya.
"Apa yang kamu lamunkan?" sergah Adiyasa.
"Maaf, Pak. Saya sudah menambahkan garamnya dan saya rasa sudah cukup."
"Cicipi!" desis Adi garang.
Indria lantas mencicipi masakannya, "Benar, Pak. Ini sudah cukup."
Adiyasa menggeleng kesal. Ia mendekatkan wajahnya sejengkal, "Apa kamu sedang sakit hingga lidah mu samasekali tak peka? Tambahkan dua sendok garam dan sedikit lada!"
"Pantas saja para tamu selalu tak menghabiskan sup buatannya," celetuk seorang pelayan di belakang Adiyasa.
"Kamu dengar," desis Adi.
Indria malu setelah mati. Ia hanya bisa tertunduk menerima hinaan Adiyasa.
"Lanjutkan kerja mu. Ingat ucapanku."
Ia berbalik dan seketika karyawan yang mengerumuninya surut memberinya jalan.
Indria menyeka bulir-bulir air matanya. Ia geram pada pria itu dan sangat membencinya. Ia samasekali tak mengira jika Adiyasa memiliki kepribadian yang begitu kasar bahkan baginya pria itu terkesan sadis. Bagaimana mungkin ia bisa menjalankan bahtera rumah tangga dengannya yang tak memiliki perasaan seperti itu?!
Indria mengikuti ucapnya. Ia pun kembali mencicipi masakannya dan tercengang. Sup buatannya terasa lebih nendang dan sedikit pedas. Sekali lagi ia merasa malu kepada pria itu. Ia tak mengira Adiyasa ternyata tahu tentang masakan......
Jam istirahat:
"Bapak mau saya pesankan sesuatu?" tanya Veronica centil.
"Aku mau sup yang di buat chef Indria dan Baskara," pinta Adiyasa sambil bersandar di sofa dengan santai.
__ADS_1
"Kenapa, Pak? Bukankah makanan mereka tak enak? Saya bisa pesankan dengan cepat di restoran seberang. Saya yakin Bapak akan suka!" selanya bersemangat dengan suara mendayu-dayu.
"Aku mau masakan mereka dan aku ingin mereka yang menghidangkannya untukku!" bentak Adi kasar.
"I-iya, Pak. Saya akan segera lakukan," Veronica ketakutan dan dengan tergesa-gesa ia berjalan satu arah hingga pinggulnya bergoyang tepat di hadapan muka Adiyasa.
Adiyasa hanya geleng-geleng tersenyum getir lalu membuang muka.
Dapur hotel:
"Indria! Baskara!" pekik Veronica membuat suasana di tempat itu menjadi gaduh.
Dengan cepat Baskara dan Indria mendekat tergopoh-gopoh. Keduanya berbaris di hadapannya. "Siapkan menu yang tadi kalian buat dan antarkan untuk Pak Adi di ruangannya!"
Baskara segera melakukan apa yang di minta sementara Indria masih terpaku.
"Kenapa? Kamu tak dengar ucapanku!!"
"Iya, Mbak," sela Indria kaget dan segera berbalik. "Kenapa dia mau masakanku? Apa sih maksudnya ini? Biasanya menejer yang lama tak pernah mau makanan yang di vonis tak enak? Dasar pria aneh!" gerutu nya sambil menyiapkan sup dan kari buatannya.
Singkat cerita kini menu Indria dan Baskara sudah terhidang di hadapan Adiyasa. Keduanya hanya menunduk pasrah menunggu cacian yang akan di semprotkan meneger baru mereka itu.
"Aku suka dengan rasa sup ini. Kamu sudah mendengar dan melakukan ucapanku," ungkapnya menatap Indria. "Tapi ternyata kari buatanmu ini rasanya amburadul. Aku minta kamu belajar membuat kari pada ibumu nanti di rumah."
"Hah? Ngomong apa lelaki ini? Dia sampai melibatkan mama ku? Katakan saja seperti tadi kurangnya apa?" tanya Indria dalam hati. Adiyasa tahu dari mimik wajahnya yang masam jika ia menyumpahinya dalam hati.
"Baik, Pak. Saya mengerti."
Ponsel Adi bergetar. Panggilan masuk dari Tita. Ia meraih ponselnya lalu menaruh nya kembali di atas meja dan memencet tombol speaker.
"Adi? Kamu di mana?"
"Hotel. Aku sedang makan siang," jawabnya sambil menyendok masakan di hadapannya.
"Nanti malam kita makan bersama ya? Aku sudah kangen kebiasaan lama kita. Udah hampir seminggu kita tak jalan bersama," pinta Tita manja.
"Iya, Cantikku....aku jemput nanti malam. Aku akan pesankan meja untuk kita."
"Syukron. Aku mandi dulu. Gerah habis olahraga."
"Ok!"
Tut!
Indria terpaku. Ia kebingungan. "Siapa wanita itu? Tak mungkin jika dia adalah kekasih Adiyasa kan? Pria ini sudah berikrar jika ia menerima perjodohan mereka. Tapi siapa gadis di telepon itu?" pikirnya ngaco. Adiyasa samasekali tak peduli padanya.
"Bereskan makan ini," perintah Adiyasa.
__ADS_1
Indria dan Baskara mentaati ucapannya.
"Pesankan nasi padang untukku," pintanya kepada Veronica.
....................
20.00 wita:
Langit malam ini nampak mendung. Suara petir bergemuruh dan perlahan setetes demi setetes air hujan terjatuh. Adiyasa segera masuk kedalam mobilnya dan keluar perlahan dari parkir an hotel. Tiba-tiba hujan tumpah dengan deras. Dari kejauhan di halte bus terlihat Indria berteduh seorang diri. Ia pun menepi dan membuka kaca mobilnya. "Hei! Sedang apa kamu di sini!"
Indria bingung sembari menunduk memastikan jika ia adalah Adiyasa.
"Masuklah, Ayo!" pinta Adiyasa ketus. Ia kasihan padanya dan tak tega melihatnya seorang diri di tempat sesepi ini.
Indria tak mengindahkannya. Adiyasa lantas menekan klakson mobilnya dengan kasar, "Cepatlah!"
Indria terkejut dan seketika menuruti keinginannya. Adiyasa kian membuatnya jengkel dan takut. Adiyasa mengeluarkan sepucuk sapu tangan kesayangannya buatan sang bunda dan mengulurkan nya, "Pakailah."
"Tak usah, Pak. Saya ada sapu tangan sendiri." Indria sangat canggung dan sedikit malu.
"Oh," gumam Adiyasa dingin.
Perjalanan lumayan panjang karena jarak rumah Indria lumayan jauh dan berlawanan arah dengan rumah Adiyasa, tapi tak mengapa baginya sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai atasan gadis itu. Sementara Indria begitu tak enak hati dan kian canggung sampai akhirnya mereka tiba di dalam halaman rumahnya. Max dan sang istri sudah berdiri seolah menanti kedatangan mereka karena baru saja ia meminta sopirnya untuk menjemput Indria. Senyumnya merekah dan tak percaya dengan semua ini.
"Hai, Om," sapa Adiyasa dan mengulurkan tangannya menjabat tangan Max.
Indria cemberut di samping ibundanya yang membelai rambutnya yang sedikit basah.
"Kalian dari kantor?" tanya Max sumringah.
"Iya, Om. Saya hanya khawatir putri Om sendirian di halte bus. Maaf saya lancang mengantarnya pulang."
"Tak apa. Om senang jika kalian jalan berdua. Sering-sering lah. Mari, kita masuk dulu. Ngobrol-ngobrol sejenak sampai hujan nya mereda."
Adiyasa sangat tak enak hati. Tapi apa dayanya untuk mengiyakan karena di rumah Naya pasti sedang menunggu kepulangannya, "Maaf, Om. Terpaksa aku harus pulang sekarang. Mama pasti sedang menungguku di rumah. Lain kali kita bisa ngobrol bareng."
"Kamu memang pemuda yang baik. Tidak salah jika Om menjodohkan mu dengan Indria."
"Idih! Baik apanya? Sadis begitu!" kutuk Indria dalam hati dengan mulut monyong.
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikum salam. Hati-hati Adi!" pinta Max.
Adiyasa melemparkan senyum dan masuk kedalam mobilnya.
Bersambung.....
__ADS_1