Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
malam pertama Adiayasa dan Indria 2


__ADS_3

Suara jam dinding saling bersahutan dengan suara desahan Indria dan Adiyasa di kamar itu. Suara hujan perlahan mereda namun desahan keduanya kian kencang. Saking nikmatnya Tita sejenak lenyap dari pikiran Adi. Ia tenggelam bersama erangan Indria. Semakin lama kenikmatan itu makin memuncak hingga mencapai klimaknya.


"Mas...." desah Indria tersengal.


Adiyasa kemudian berbaring di sampingnya dengan nafas memburu, "Ya Allah....." helanya bersyukur.


Beberapa saat hening hingga keduanya kembali dalam keadaan normal. Indria memeluk Adi dan menaruh kepalanya di dada pria itu, "Aku bahagia," bisiknya.


Adiyasa membalas dengan mengalungkan tangan kanannya di punggungnya. Rasa buah dada Indria terasa begitu nikmat, "Kamu lelah?" tanyanya.


Indria menggeleng, "Sedikit."


Sang suami menyeka rambutnya dan mengecup puncak kepalanya, "Ini pertama untukmu?"


"Tentu saja," balas Indria tersenyum. "Mas juga kan?"


Adiyasa terdiam. Jika sekalipun ia ingin jujur tetapi ini bukan saatnya. Lagipula sudah tak perlu di bahas lagi apa yang sudah di lakukannya bersama Tita dahulu. Kini mereka sudah punya kehidupan masing-masing meski hatinya masih terpaut erat dengan wanita itu.


"Aku ingin cepat memiliki momongan. Aku ingin kita punya empat orang anak," ujar Indria tersenyum.


'Apa itu tak kebanyakan?" balas Adiyasa menegrnyit dengan senyum tipis.


"Banyak anak banyak rejeki..." canda Indria seraya menyentil dada Adi.


"Jangan nakal," pinta Adi karena geli.


Indria kembali menyentilnya dan menggelitik pinggangnya.


"Nakal banget sih!"


Adiyasa membalas dengan menggelitik pinggangnya balik. Kedua bercanda hingga Indria menyerah. Adiyasa menatap buah dadanya dan ingin sekali menciuminya.


"Mau?" tanya sang istri


Adiyasa tersenyum nakal dan segera menarik pergelangan tangannya.


Sementara itu Tita  memutuskan membuat secangkir kopi. Saat keluar dari kamarnya ia menatap pintu kamar adi. Ia sangat berharap perasaan Adi takkan goyah padanya setelah malam ini. "Aku harap tak ada cintamu untuknya..." bisiknya. Ia kembali berjalan sambil memijit keningnya yang tiba-tiba terasa sakit. Ia tak menduga ternyata Naya berada di dapur, "Ma?" panggilnya.

__ADS_1


"Ei, Sayang. Kamu belum tidur?" tanya Naya sambil mengaduk coklat panas.


"Untuk siapa itu?" tanyanya setelah di samping Naya.


"Om Rangga. Tiba-tiba ingin di buatkan coklat panas. Kamu mau juga?"


"Boleh, tapi aku akan buat sendri."


Naya menyodorkan setoples bubuk coklat padanya.


"Berapa takarannya?"


"Cukup tiga sendok. Tapi kalau kamu ingin lebih manis tambahkan dua sendok lagi."


"Ok," balas Tita. Ia mengambil gelas panjang dan menungkan coklat itu di dalamnya. Tiba-tiba ia ingin bertanya bagaimana dahulu Rangga yang tak mencintainya bisa menerimanya dan begitu mencintainya hingga saat ini...


"Ada apa?" tanya Naya tiba-tiba karena ia termenung.


"Oh tidak. Aku hanya penasaran kehidupan percintaan Mama dulu bersama Om ku."


"Kamu ingin tau?" telisik Naya.


Naya tersenyum dan menyentuh lengannya, "Mama akan cerita lain kali. Mama kembali ke kamar dulu karena Om Rangga pasti sudah tak sabar menunggu Mama."


'Ok," angguknya terpaksa tersenyum. Sepeninggal Naya ia duduk di meja  merenungkan segalanya. Satu tegukan coklat panas membuatnya terasa sedikit rileks. Sulaiaman menyusulnya dan berhenti di ambang pintu, 'Hei," bentaknya.


Tita pun tersadar. Mulut manisnya manyun dan ia pun bangkit lalu berjalan mendekat, "Aku mau ke kamar," ucapnya ketika hendak keluar karena pria itu menghalanginya. Sulaiman terpikat oleh bibir basahnya dan ia berjalan hingga Tita surut dan kepentok di lemari es. Tita melotot ketika ia semakin mendekatkan wajahnya. Pria itu menjamah paksa coklat panas itu dan menaruhnya buru-buru di atas kulkas. Tangan kekarnya menarik punggung Tita dan satu tangannya lagi menarik kepala wanita itu. Tita menahan nafas dan ia tak bisa menyingkir karena tubuhnya sudah di kuasai Sulaiman. Sulaiman menghisap bibirnya dan ********** hingga lidah Tita bisa ia tarik. Abdulloh mendapati keduanya dan terkejut, "Apa-apaan ini...? Kenapa mesti di tempat seperti ini?" batinnya. Ia kembali melangkah menuju kamarnya. Ia khawatir jika bisa saja Ilyas melihat semua itu.


"Kenapa balik?" tanya Susan.


Abdulloh menutup pintu kamarnya, "Huh....Sulaiman dan Tita...." desahnya.


"Ada apa? Mereka kenapa?" tanya Susan khawatir.


Abdulloh  tersenyum dan menggaruk alisnya mendekati rak bukunya dan mengambil sebuah kitab, "Mereka sedang ciuman."


Susan mendesah lega, "Syukurlah..." ucapnya tersenyum.

__ADS_1


"Mereka tak kenal tempat melakukannya," ujar Abdulloh sambil membolak-balik buku itu.


"Namanya juga anak muda, Pa. Dulu Papa lebih agresif di banding Sulaiman," sela Susan.


"Benarkah? Tapi tak sampai main lidah seperti cucumu..."


Susan melotot tak percaya, "Benarkah? Terus apa lagi yang di lakukannya pada Tita?" tanyanya antusias hingga ia tak sadar menurunkan kakinya dari ranjang.


"Mau aku praktekkan?" goda Abdulloh dengan senyum memudar.


Susan memalingkan pandangannya karena malu. Abdulloh menutup buku itu dan menaruhnya kembali pada tempatnya. Ia pun menjamah kedua pundak Susan dan mencium keningnya, "Jika kamu menginginkannya  maka aku akan melakukannya....tenagaku masih kuat malam ini..."


Susan kian malu dan menarik kerah piyamanya.....


"Aku menginginkanmu...." pinta Sulaiman tak tahan. Tangannya merayap menyingkap baju bagian belakang Tita dan merabanya penuh nafsu.


"Jangan begini, Kak..." desah Tita. Ia berusaha melepaskan diri.


"Aku sudah bisa menerimamu dan mau melupakan pengkhianatanmu....aku ingin kita memulainya malam ini, Tita.."


"Tapi aku tak siap..." geleng Tita tanpa rasa bersalah. Ia masih mempertahankan keyakinannya jika di sini dia yang menjadi korban dan tak bisa menyerahkan dirinya pada suaminya sendiri.


Sulaiman menjauh. Ia sangat kecewa dan marah, Ia berpaling dan menghempaskan tangan kanannya dengan kasar. Tita pun menangis dan menutupi wajahnya....


"Maaf...tapi aku sungguh tak bisa..." pintanya meminta penegrtian sang suami yang sudah sangat mengerti dirinya.


Sulaiman emncari celah sebenarnya dosa apa dirinya dulu sampai ia mendapatkan kegetiran ini.


"Kak, aku minta padamu untuk lebih mengerti diriku lagi. Aku juga tertekan dan merasa tersiksa."


Sulaiman tak menggubrisnya dan meninggalkannya begitu saja. Joana yang baru keluar dari kamarnya kebingungan melihatnya menangis. Ia kesal karena berpikir telah melewatkan sebuah momen penting yang harusnya ia beritahukan pada Susan, "Kenapa dia?" tanyanya dari kejauhan, "Gara-gara perutku mulas jadi tak aku tahu apa yang sudah terjadi," sergahnya.


Tita meninggalkan dapur menyusul Sulaiman. Ia mendapati suaminya memainkan ponsel di atas ranjang dengan wajah tegang. Ia mengitari ranjang dan menaikinya lalu menyingkap selimut menutupi setengah tubuhnya dengan posisi membelakangi pria itu.


"Malaikat melaknatmu sampai pagi tiba," ucap Sulaiman tajam.


Tita kian terluka dan berusaha tak peduli. Sulaiman turun dari ranjangnya dan duduk di bangku meja kerjanya lalu memejamkan mata. Ini hukuman untuk Tita atas kedurhakaannya. Ia berharap Tita merasa terluka dan sadar, akan tetapi wanita itu malah merasa sedikit lega karena ia menjauh....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2