Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Cinta Tita


__ADS_3

"Kita jalan bertiga yuk," pinta Tita tiba-tiba.


"Boleh, kemana?" tanya Sulaiman dengan wajah datar usai menyeruput kopinya.


"Kakak pasti saat ini banyak uang. Aku ingin di traktir makan ice cream di plaza."


Wajah Tita yang terlihat polos dan menggemaskan membuat Sulaiman tak ingin menyakitinya dengan memberitahukan perihal rencana pertunangan Adiyasa. Tadinya ia ingin mengatakan semua itu agar Tita berpaling, "Baiklah. Malam minggu nanti agar terasa lebih enjoy."


"Ok, dua hari lagi. Aku akan sabar menunggu. Tapi...."


"Tapi?"


"Tapi aku ingin rencananya kita di rundingkan dulu. Aku ingin ikut dengan Kakak ke rumah. Sekalian, kangen banget sama mama Naya."


Sulaiman menginginkan agar hal itu tak terjadi. Ia tak ingin Tita bertemu dengan Adiyasa.


"Kenapa begitu?" selanya pura-pura tak mengerti, "Bukankah aku bisa bilang padanya?"


Tita merasa Sulaiman agak berbeda.


"Tau, Kak. Tapi bukankah ini hal yang menyenangkan? Kita bertiga sering melakukan semuanya secara mendadak dan spontan sebulan sekali saat Kakak kembali? Ini akan menjadi kejutan untuknya."


Sulaiman memaksakan mengangguk, "Baiklah. Ini untukmu dariku."

__ADS_1


Tita tersenyum, "Memang harusnya begini," gumam nya dan menyedot minumannya.


....................


Adiyasa mondar-mandir di taman belakang rumah menimang apakah ia akan menghubungi Sulaiman bertanya padanya bagaimana Tita saat ini? "Aaaah! Kenapa jadi begini sih!" berangnya tak tahan. Semuanya kacau!


Rangga kembali dari hotel dengan tengkuk yang terasa sangat pegal. Naya menyambutnya dari anak tangga dan mencium tangannya, "Mas, merasa pegal?"


"Iya, Sayang. Itu sebabnya aku kembali lebih awal. Pijit sejenak."


"Iya, Mas."


Naya merangkul lengannya erat, "Nanti biar Adiyasa yang menjemput Ilyas. Aku akan pijiti Mas sampai tidur."


"Di taman. Dia baru saja menyelesaikan apa yang Mas pinta."


"Bagus. Memang itu seharusnya. Dia jangan sampai terpikirkan soal Tita."


Naya membantunya membuka jas dan dasinya setelah di dalam kamar. Rangga meringis karena ia sudah memforsir tenaganya lebih selama empat hari ini. Hotel miliknya kebanjiran pengunjung dan beberapa di antaranya menggelar pesta pernikahan.


Dengan kuat namun lembut Naya memijat tengkunya penuh perasaan. Perlahan ia mulai merasa lebih baik dan meminta Naya berbaring lalu memeluknya.


15.00 wita

__ADS_1


Naya melepaskan pekukannya setelah Rangga tertidur. Ia meminta Adiyasa untuk menjemput Ilyas melalui sms. Dengan terpaksa Adi berpamitan kepada Tita yang baru saja tiba. Tita tak kehabisan cara agar bisa terus bersamanya, "Kalau begitu aku ikut saja. Sekalian antar aku pulang ya."


Adi pun tak bisa dan tak mau menolak. Ia dan Tita bangkit dari sofa dan meninggalkan Sulaiman terpaku di ruang tamu.


"Akhirnya," desah Tita setelah di dalam mobil.


Adiyasa tersenyum kemudian menyalakan mesin mobilnya. Ia memutar lagu Afgan dengan volume kecil.


"Besarkan sedikit," pinta Tita cemberut.


"Besarkan saja sesuka hati tuan putri ku," sela Adiyasa lembut.


Tita memutar volume tape itu sedikit keras.


Selama dalam perjalanan Tita mengikuti bait-bait lirik lagu itu dengan sangat khusyuk. Lagu itu seolah mengungkapkan isi hatinya kepada Adiyasa, "Andai engkau tahu.....betapa ku mencinta...."


"Cinta siapa?" canda Adi.


"Ada....dia tak jauh dariku," timpal Tita sekejap menoleh padanya.


"Boleh aku tahu siapa pangeran yang amat beruntung itu?"


Tita malu-malu kucing. Adi ingin dengan jelas ia berkata jika laki-laki yang di cintai Tita adalah dirinya.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2