
Hari berganti bulan dan perut Tita semakin membesar. Ia merasa begitu sesak dan terganggu ketika berjalan. Indria mulai cemburu terhadapnya karena hingga kini ia belum juga mengandung. Adiyasa hanya bisa melihat Tita dari kejauhan tanpa berani sekejab pun mendekatinya. Perasaannya cukup tersiksa namun sebisa mungkin ia hapuskan dengan berkerja keras untuk mengalihkan pikirannya.
20.00 wita:
Rangga keluar dari ruangannya. Rindu sudah menantikannya karena ingin bersama meninggalkan hotel.
"Bapak akan langsung pulang?" tanyanya.
"Iya." jawab Rangga menjawabnya tanpa menoleh. Pria itu mengecek jam di tangan kanannya dan fokus memikirkan sang istri yang sedang menunggunya.
"Anda tak pernah keluar makan malam ya, Pak?" tanya wanita itu kembali. akan tetapi Rangga tak menjawabnya dan mendahuluinya berjalan. "Pria ini kian dingin padaku!" batinnya kesal.
Rangga pergi begitu saja. Saat Rindu dan para pegawai keluar dari halaman hotel seorang pria mengarahkan pistol padanya dari samping tembok gedung hotel itu. Pria itu mulai mengambil ancang-ancang untuk menarik pelatuknya. Suara keras dari senapan itu meledak dan membuat semua orang terkejut bukan main. Rindu seketika terkapar bersimbah darah. Para pria dan satpam yang masih berada di dalam hotel berlari mendekat untuk melihat apa yang sedang terjadi. Pria yang berhasil menghabisi Rindu segera pergi dengan menaiki motor tanpa seorang pun yang curiga padanya.
"Rindu kena tembak!" teriak beberapa wanita histris. Mereka takut untuk mendekatinya.
Satpam menyetuh wajahnya dan memeriksa nafasnya, "Innalillahiwainnailaihirojiun...." ucapnya.
Teman seprofesinya menangis ketakutan dan seoran pria menghubungi polisi. Satpam itu pun segera menghubungi Rangga, Pria paruh baya itu terkejut dan langsung putar balik.
Polisi tiba dengan cepat dan melakukan penyusuran di sekitar tempat itu untuk mencari pelakunya. Jasad Rindu di masukkan kedalam mobil ambulance untuk di otopsi di rumah sakit. Rangga tak pernah mengyangka hal ini etrjadi dan berharap pihak kepolisian segera menemukan pelakunya.
"Nay," sapanya melalui sambungan telepon. Saat ini ia berada di rumah sakit.
'Mas di mana? Kenapa lama sekali pulangnya?"
"Mas ada di rumah sakit sekarang. Rindu tewas kena tembak oleh orang yang tidak di kenal."
"Apa? Mas nggak bercanda kan?" tanya Naya gusar.
"Serius Sayang, Mas juga nggak menyangkanya. Mas akan segera pulang setelah urusan ini selesai."
"Mas hati-hati....aku tunggu di kamar."
Rangga merasa pusing. Ia sudah sangat kelelahan. Saat ini sudah dini hari. Adiyasa atas permintaan Naya menyuruhnya untuk menjemput sang Ayah karena ia tahu pasti Rangga dalam kondisi keletihan.
"Bagaimana, Pa?" tanya Adiyasa menghampirinya di koridor rumah sakit.
__ADS_1
"Dia tewas seketika karena kepalanya tertembak," jawab Rangga. "Kita pulang sekang, Papa sudah sangat letih."
"Ya sudah," angguk Adiyasa.
...........................
Kematian Rindu keesokan paginya menjadi berita utama. Polisi ternyata sudah menemukan pelakuknya yakni ia adalah pria suruhan Rindu dahulu yang di tugaskan wanita itu untuk menjebak Rangga. Ia dendam karena Rindu menjebloskannya kedalam penjara dan pria itu meminta salah-satu temannya untuk menghabisi wanita itu karena dendam.
Naya yang menonton acara itu di televisi tak mengira jika Rindu sejahat dan selicik itu. Saat ini pun Rangga yang di hubungi polisi ba,da subuh tadi sedang berada di kantor polisi untuk memberi keterangan.
.............................
Dua bulan kemudian....
Persalinan Tita tinggal menunggu hari. Sikap Sulaiman yang tadinya sangat perhatian dan begitu memanjakannya tiba-tiba berubah drastis. Pria itu mulai memikirkan wajah dan sosok anak yang akan di lahirkan Tita dan ia sedikit ragu, apakah ia bisa menerima anak itu setelah lahir nanti...? Ia memikirkan wajah anak itu yang pastinya akan menyerupai ayah kandungnya....
Tita mecoba seperti biasa bersikap manja padanya. Wanita itu kini sedang merajut sebuah baju kecil untuk bayinya di atas ranjang dan memintanya mengambilkan semangkuk bubur. Tanpa berbicara sepatah katapun Sulaiman keluar dari kamar dan memanggil seorang pelayan, "Ambil bubur untuk Tita," perintahnya.
Tita terheran melihat perilakunya yang kian ganjil, "Kenapa bukan kamu saja yang ambilkan?" tanyanya halus
"Ada pembantu kenapa tak seruh mereka," jawab pria itu dingin.
Lagi-lagi Sulaiman terdiam. Ia memasang kaos oblongnya dan duduk di depan meja kerjanya.
"Apa yang terjadi padanya? Aku sudah membuat kesalahan apa hingga ia cuek seperti ini?" batin Tita bingung.
Sambil memperhatikan layar lap top nya Sulaiman berpikir untuk melepaskan Tita. Pikiran itu terus terngiang hingga pelayan yang tadi ia suruh mengambil semangkuk bubur mengetuk pintu kamarnya dan membuyarkan semua khayalannya.
"Boleh suapi?" pinta Tita saat ia mengulurkan bubur itu.
Sulaiman tak tahan dan akhirnya ia menunjukkan sikap kasar, "Aku harus menegrjakan pekerjaanku. Kamu tinggal menaruh baju bayimu itu dan memakan sendiri bubur ini," tukasnya.
Tita tersentak. ia pun mengambil bubur itu dan menaruh rajutannya.
..........................
Seluruh keluarga Fatahillh dan Pram sudah berkumpul di rumah sakit, mereka tak mengira Tita melahirkan lebih awal jika di hitung dari tanggal saat ia di nyatakan hamil. Sulaiman enggan untuk menemani Tita di ruang persalinan dan berdalih jika ia tak kuat melihat wanita itu mengerang kesakitan. Adiyasa pun terenyuh. Ia menawarkan diri untuk menemani Tita menghadapi persalianan itu.
__ADS_1
"Tak apa kan Kak jika aku yang menemani Tita?" tanyanya mantab kepada Sulaiman. Indria merasa keberatan namun ia hanya diam sebab tak ingin situasi tak mengenakkan terjadi.
'Terserah..." jawab Sulaiman dingin tak peduli. Sikapnya membuat semua keluarga besarnya kebingungan.
"Terimakasih," balas Adiyasa bersemangat. Ia segera masuk ke dalam ruang bersalin dan mendapati Tita tengan mengerang kesakitan akibat kontraksi dengan peluh yang membanjiri wajah dan lehernya.
"Tita...." ucapnya seraya menjamah telapak tangan Tita dan menggenggamnya kuat.
Tita kemudian sekuat tenaga mengeluarkan bayinya denagn arahan dokter dan perawat. Ia berjuang setengah mati demi bayinya. Ia tak menyangka jika Adiyasa, ayah dari anaknya yang menemani persaliannya.
"Dorong...sedikit lagi Tita...." pinta doter itu.
Dan seorang bayi laki-laki terlahir dengan tangisannya yang sangat kencang. Senyum Tita dan Adiyasa terukir lega. Tita menangis terisak di liputi rasa syukur dan perasaan bersalah....
"Anakmu lahir..." bisik Adiyasa.
Wanita itu menatapnya terharu dan tanpa sadar berucap, "Ini anakmu...." desahnya.
"Apa?"
"Ini anak kita...."
'Apa maksudmu...?" tanya Adi bingung.
"Ini anak hasil buah cinta kita dahulu...."
Ini seperti mimpi...Adiyasa terpaku dan tak percaya dengan apa yang ia ucapkan...
"Katakan sekali lagi," pintanya.
"Ini anak kita Adi...darah dagingmu. Buah hati kita..." tangis Tita.
Adiyasa menangis....ini seperti keajaiban....ia pun memeluk Tita dan mencium keningnya, "Sayangku...."
Bayi itu pun mendekat dalam dekapan perawat. Tita meraihnya dan menciumnya berulang kali.
"Sayang..." bisik Adi menyentun wajah putranya.
__ADS_1
"Dia mirip denganmu.." ujar Tita bahagia.
Bersambung....