
Susan memeluk leher Abdullah yang tengah memeriksa berkasnya di meja kerjanya dari arah belakang dan berbisik di telinganya, "Bagaimana jika pernikahan Sulaiman dan Tita di percepat?"
Abdullah menggeleng, "Aku masih ragu. Kamu terlalu memaksakan ini semua," ungkapnya tanpa lepas menatap lembaran pekerjaannya.
Susan mendesah. Ia berdiri tegak dan berbalik menjauh, "Mama rasa tidak, Pa. Sulaiman sudah cukup umur untuk segera menikah dan memiliki momongan. Dan Tita, dia gadis yang tepat untuk menjadi pendampingnya."
Abdullah melepaskan kacamatanya dan bangkit, "Kamu jangan terburu nafsu. Jangan sampai ada perpecahan dalam keluarga ini."
Susan tahu maksud ucapnya. Abdullah naik ke atas ranjang dan duduk bersandar, "Aku yakin Adiyasa dan Tita memiliki rasa. Apa kamu tak kasihan pada mereka?"
"Rangga sudah memilihkan jodoh yang tepat untuknya, tak mungkin jika Tita mau di madu seperti mamanya dahulu kan?"
"Maksudku pernikahan Adiyasa dan calonnya belum terjadi kan? Tita dan Adiyasa masih punya kesempatan untuk bersatu."
"Tapi Sulaiman kelihatannya juga mencintai Tita. Buktinya sampai tengah malam begini ia masih bersamanya? Apa Papa tak kasihan juga padanya?"
"Kemarilah," pintanya mengulurkan tangan."
Susan menyambutnya dan menenggelamkan diri dalam pelukannya.
"Kamu terlalu banyak memikirkan cucu mu. Mereka sudah dewasa dan tahu mana yang terbaik untuk diri mereka sendiri," bisik Abdullah sambil mengusap rambutnya.
Susan tak peduli dengan apa yang di katakan sang suami. Ia masih pada pendiriannya dan tak goyah sedikitpun.
......................
Mobil Angga tiba bersama mobil Liana. Dengan langkah cepat Leona menyambut mereka, "Tuan."
"Mana Tita?" tanya Angga sembari menutup pintu mobilnya.
"Sudah tidur, Tuan Sulaiman bersamanya di kamar."
__ADS_1
"Benarkah? Sejak kapan?"
"Lumayan lama, Tuan."
Liana menghampirinya dan bertanya pula tentang Pram. Leona menjawab dengan singkat dan mengambang karena ia belum menengok Pram sejak kedatangan Sulaiman.
"Lihat putrimu dulu, Mama menengok papamu sejenak," pinta Liana menyentuh lengan Angga sambil berjalan masuk.
"Baiklah."
Leona mengikuti Angga hingga di lantai dua. Angga berbalik dan bertanya padanya, "Ada apa?"
"Oh, tidak Tuan. Saya hanya ingin jika Tuan membutuhkan sesuatu Tuan tak repot memanggil pelayan yang lain," jawabnya gugup tertunduk.
Angga sadar jika wanita ini ada hati padanya dan ia tak ingin memberikan harapan apapun karena ia samasekali tak pernah berniat menjalin hubungan dengan wanita manapun, "Sudah, pergilah."
"Baik, Tuan." Leona berbalik dan merasa malu.
Angga berdiri di ambang pintu menyaksikan Sulaiman tengah membaca buku milik Tita di meja belajar milik putrinya. Ia masuk dan menyapa nya dengan senyuman ramah, "Sudah lama?"
"Iya. Aku tidak salah hendak menjodohkan mu dengan Tita."
"Maksud, Om?" Sulaiman terkejut.
"Om, dan Nenek mu sudah sepakat akan menjodohkan mu dengan Tita. Kamu tak keberatan kan?"
"Om, bercanda?
Angga menggeleng, "Tidak, semua ini sudah lama Om pikirkan dan setelah menyampaikannya pada nenek mu dia sangat menyetujuinya. Om yakin jika kamu juga mencintai Tita."
Wajah Sulaiman bersemu merah dan ia gugup bukan main sampai tak berani menatap mata Angga.
__ADS_1
"Cintamu akan membuat Tita bahagia," ungkap Angga sembari menepuk pundaknya. "Malam ini apa kamu mau menginap?"
"Ah, tidak Om. Sebaiknya aku pulang. Ada pekerjaan bersama papa yang harus ku bereskan."
Angga mengangguk, "Baiklah, Om antar sampai depan."
Setelah kepergian Sulaiman, Tita membuka mata dan berusaha untuk bangkit. Perasaannya kian sakit, "Kenapa begini?" bisiknya. Ia menyentuh dadanya dan menjamah mata kalung pemberian Adiyasa. Ia menatapnya nanar dan menciumnya dalam isakan tangis, "Adi....bawa aku pergi bersamamu....." rintihnya.
...........................
Dua hari kemudian:
Tita mengalami demam tinggi hingga ia tak bisa bangun dari ranjang. Air matanya terus mengalir dan tak ada sepatah katapun yang terucap dari bibirnya. Ia mendendam penderitanya karena tak sanggup untuk menghardik ayahnya setelah mengetahui apa yang di rencanakan nya. Sulaiman beberapa kali menengok keadaannya dengan membawa makanan kesukaannya namum tak secuilpun ia nikmati akibat rasa marahnya kepada pria itu. Adiyasa pun hadir dengan banyak pertimbangan setelah mengetahui jika abangnya Sulaiman akan di jodohkan bersama Tita setelah Sulaiman bercerita tentang perjodohan itu dengan gamblang. Sulaiman sengaja menceritakan semuanya agar Adiyasa tahu di mana posisinya kini.
Liana terus menemani Tita di kamar. Ia duduk di sisinya sambil memijat pergelangan tangannya, "Makan dulu, Sayang...."
Tita memejamkan matanya dan kembali menangis terisak.
"Kenapa, Nak? Apa sebenarnya yang kamu pikirkan?" Liana bingung bukan main. "Ceritakan pada Nenek."
"Assalamualaikum," Adiyasa hadir di muka pintu.
Tita mengenali suaranya dan ia pun bangkit dengan gusar, "Adi.....hiks!" rengek nya. Ia mengulurkan tangannya.
Adiyasa dengan cepat menyambut uluran tangannya dan tanpa sadar mendekap nya. Ia pun mencium kepala Tita. Liana terkejut dan langsung bangkit.
"Bawa aku pergi....." tangis Tita.
"Tenang lah aku disini, Sayang...." pinta Adiyasa membelai punggungnya. Ia menengok wajah Tita dan memintanya untuk menatapnya, "Kamu sudah makan?"
"Suapin."
__ADS_1
Adiyasa tersenyum dan meminta izin kepada Liana untuk menyuapinya. Liana tak punya pilihan lain dan memberikan ruang untuk keduanya sesaat.
Bersambung......