
Seluruh keluarga Fatahillah sudah tiba di rumah. Adiyasa terpaksa menyambut mereka namun ia samasekali tak menoleh kepada Sulaiman.
"Kamu sudah makan cemilan mu?" tanya Naya menyentuh pipi kirinya.
"Sudah, kue dari Indria. Tadi dia datang membawa kue tar untuk Mama."
"Sekarang kue nya di mana?"
Adi nyengir kuda, "Sudah ku makan setengah."
"Pasti lezat sekali," timpal Naya tersenyum geli.
"Begitulah, tapi mamanya yang buat. Bukan dia."
"Oh, tapi sungguh suka kan?"
"Ya....tetap saja mamanya yang buat. Dia masih harus belajar banyak dari mamanya sebelum menjadi seorang istri."
Senyum Naya kian mengembang, "Doakan saja dia."
"Aku ke kamar dulu," sela Sulaiman.
"Istirahatlah. Nanti kita bahas acara pertunangan mu. Semua harus selesai dalam 4 hari," pinta Susan.
Adiyasa tertegun. Ia tak mengira jika ikatan Tita dan Sulaiman akan di adakan begitu cepat. Naya menatap ekspresi sendu wajahnya lekat. Ia tahu ini pasti sangat berat baginya.
......................
Udara terasa begitu dingin. Sejak subuh tadi gerimis hujan terus mengguyur kawasan Mataram dan sekitarnya. Waktu sudah berada pada pukul setengah delapan. Adiyasa bergegas menuju mobil. Saat dalam perjalanan Tita tiba-tiba menghubunginya. Ia pun menepi dan menatap ponselnya dengan kebimbangan.
Sementara itu......
Tok! Tok! Intan mengetuk pintu kamar Tita dengan membawa roti dan susu. Tita terkejut dan lantas menggeser layar ponselnya, "Masuklah!" pintanya.
Intan menaruh nampan itu di atas meja rias nya, "Kata nyonya besar Nona harus menghabiskan semua makanan ini karena Nona butuh tenaga yang lebih untuk persiapan tunangan Nona Tita."
"Aku tahu! Lancang sekali kamu menasihati ku! Keluar!" Hardiknya.
Intan tak berani menatapnya dan keluar dari kamar itu sambil tertunduk.
__ADS_1
Tita bangkit. Ia duduk di depan cermin menatap makan itu. Tanpa ia sadari roti dan susu itu ia banting dengan kasar. Leona yang berada di luar kamarnya terkejut dan menyandarkan sapu di tangannya ke tembok dan langsung masuk, "Nona, apa yang sudah terjadi!"
"Bereskan!" perintah Tita. Ia menyambar kunci mobilnya di atas meja rias nya dan enyah.
"Ya Allah sebenarnya kenapa dengannya....?" tanya Leona tak pernah mengira Tita melakukan ini.
Fikiran Tita samasekali tak sehat. Ia tertekan dan depresi. Ia meluncur menuju kantor Adiyasa dan sekali lagi tanpa ia sadari. Hatinya menuntunnya menuju tempat itu. Dan ternyata ia tiba bersamaan dengan Adiyasa dan Indria. Indria memutuskan untuk menggunakan jasa ojek online sebab ia tak mau menggunakan fasilitas yang di tawarkan ayahnya.
"Adi!" teriaknya. Tita tak peduli dengan orang-orang yang berada di sekelilingnya.
Adiyasa melepas kacamata hitamnya. Serta merta Tita berlari dan memeluknya. Indria terkejut dan berdiri mematung di area parkir motor.
"Kenapa?" tanya Adiyasa mengusap punggungnya.
"Aku sudah tak tahan! Tolong aku!"
Adiyasa mengusap dan mengecup kepalanya. Entah mengapa hati Indria terasa sakit melihat adegan itu.
"Aku ingin berteriak, Adi! Tapi tak bisa....."
Rangga pun tiba dan segera turun dari mobilnya. Ia sangat geram mendapati adegan tak pantas itu terlebih saat ia menoleh ke kiri dan menemukan Indria yang diam terpaku. "Adiyasa!" bentaknya.
Di ruangannya Rangga menasihati keduanya. Adi sangat merasa bersalah. Rangga menghubungi Angga untuk membicarakan permasalahan ini detik itu juga.
Angga murka dan merasa begitu malu. Ia melepas kuas di tangannya dan bergegas menuju mobilnya. Sesampainya tanpa kata macam-macam ia meminta Tita untuk tak melakukan ini lagi dan menyeretnya dengan halus keluar dari ruangan Rangga.
Rindu terkejut dan penasaran dengan apa terjadi. Ia berusaha menguping dari balik pintu berharap bisa mendengar obrolan bosnya, tetapi ia hanya bisa mendengar dengan samar.
"Jelaskan pada Indria jika kalian tak punya hubungan spesial. Tadi dia melihat apa yang kamu lakukan bersama Tita," pinta Rangga.
Adiyasa mengangguk dan memohon pamit menuju ruangannya. Ia menyuruh Veronica memanggil Indria. Setelah gadis itu berada di hadapannya ia menyuruh Veronica untuk keluar, tetapi Veronica ragu untuk beranjak. Ia menatap Indria tajam dan curiga, "Baik, Pak," jawabnya dengan senyuman terpaksa.
"Duduklah," perintah Adiyasa kepada Indria.
Dengan perasaan kecewa dengan apa yang di lihatnya tadi ia menuruti perintah pria itu.
"Aku cuma ingin menjelaskan apa yang terjadi di depan tadi. Aku dan Tita tak memiliki hubungan apapun. Dia hanya sedang bersedih dan membutuhkan ku seperti yang sering ia lakukan," terang Adi singkat.
Perasaan Indria sedikit terobati. "Aku mengerti," ungkapnya ragu.
__ADS_1
"Aku hanya ingin mengatakan itu. Kamu bisa kembali bekerja."
Indria keluar dengan perasaan campur aduk. Ia ingin percaya, tetapi apa yang di saksikan tadi tak seperti yang di kemukakan Adiyasa. Tapi yang terpenting pria itu sudah beritikad baik untuk menjelaskan itu padanya.
"In!" panggil Sulastri berbisik saat ia tiba di dalam dapur. Indria mendekat. "Kamu kena damprat pak menejer ya?"
Pegawai lainnya menatap keduanya.
"Siapa bilang?"
"Trus kenapa?" telisiknya memicingkan mata.
Indria bingung harus menjawab apa, "Iya sih. Cuma teguran ringan, tapi tak ada yang serius." Ia terpaksa menjatuhkan dirinya sendiri demi menutupi hubungannya dengan Adiyasa. "Udah ah, kembali kerja," tukasnya.
.........................
Kediaman Pram, ruang tamu:
"Apa yang kamu lakukan itu menjatuhkan harga diri Papa, Tita! Papa tak menyangka kamu bertindak memalukan seperti ini! Kenapa kamu menemui Adiyasa? Kamu ini adalah calon istri Sulaiman! Jika dia sampai tahu ini akan mengacaukan semuanya!"
"Biar saja!" hardik Tita mendongak menatap mata Angga sesenggukan. "Biar dia tahu perasaanku yang sesungguhnya! Dia itu tahu aku sangat mencintai Adiyasa! Tapi dia malah menutup mata!!"
Angga melotot. Untuk pertama kalinya Tita membentak dan menentangnya dan semua ini hanya karna Adiyasa. Ia duduk disamping sang putri mencoba membuka pikirannya yang terselubung nafsu negatif, "Adiyasa sudah menjadi milik wanita lain. Apa kamu ingin jadi yang ke dua seperti mama mu dahulu?"
"Maksud Papa?" tanya Tita ketus.
"Andai kamu tahu bagaimana kehidupan mama mu dahulu ketika menjadi isteri ke dua om Rangga....dia sangat tersiksa baik lahir maupun batin."
Tita berpaling. Sejenak ia memikirkan ucapan Angga.
Liana dari depan pintu kamarnya menyaksikan semua itu. Pikirannya terpengaruh dan iba melihat Tita, tetapi buru-buru di tepisnya karena Adiyada sudah memiliki calon istri.
Angga lalu menyentuh rambutnya, "Tak mungkin Papa berniat mencelakaimu, Nak...." ia meraih pundak Tita dan memeluknya.
16.00 wita:
Tita menggoreskan cat pada kanvas dengan emosi sebagai luapan kekesalannya dengan apa yang tengah menimpanya. Ia mencoret kanvas itu dengan kasar. Ia membiarkan air matanya mengalir membasahi wajah hingga lehernya, "Hah...." desahnya seraya menaruh kuas itu dengan kasar kedalam gelas plastik yang di penuhi minyak tanah yang sudah berubah warna karena terkontaminasi oleh cat minyak. Ia menatap lukisan itu dan bangkit. Ia menatap pemandangan taman yang di penuhi oleh berbagai aneka bunga dan berbisik, "Ya Allah....ikhlaskan hatiku menerima takdir-Mu...." pintanya mendongak.
Bersambung.....
__ADS_1