
Tita kembali tersenyum. Liana meninggalkan kamar itu. Adiyasa duduk di hadapannya dan menyentuh pipinya lalu berkata, "Jangan sakit lagi. Aku tak tenang jika kamu begini."
Tita mempererat sentuhan itu dengan telapak tangannya, "Jika ini jalan untuk bisa terus bersamamu maka aku rela sakit seumur hidupku."
Adiyasa meraba bibirnya. Matanya berkaca-kaca menampakkan kesedihan dan kecemasan.
Tita membalas sentuhan itu dengan menyentuh pipinya, "Maaf..."
"Tak apa. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan...."
Tita beranjak memeluknya tepat di depan mata Angga dan Sulaiman.
Sulaiman mengepal tangannya menahan emosi. Sedangkan Angga terkejut mengetahui hubungan putrinya bersama Adiyasa, "Ehem!" dehemnya menghentakkan keduanya. Adiyasa dan Tita segera melepaskan pelukan itu. Mereka malu dan takut.
"Pa," panggil Tita serak.
Angga berjalan perlahan dan menghentikan langkahnya tak jauh dari mereka, "Kamu sudah sehat?"
Tita tersenyum dalam ketakutan, "Alhamdulillah."
"Dokter Mira sudah tiba dan akan memeriksa mu."
Adiyasa bangkit. Ia tak menunggu Angga mengusirnya, "Cepat sembuh. Nanti aku hubungi. Makanlah bubur mu sampai habis."
"Janji?" pinta Tita menjulurkan jari kelingkingnya.
"Janji," balas Adi mengaitkan jari kelingkingnya pada kelingking Tita.
..............
Siang berganti dengan sore, Naya sibuk di dapur menyiapkan menu buka puasa untuk dirinya. Hari ini adalah hari pertamanya mengganti puasa yang tak bisa ia lakukan pada ramadhan tahun lalu karena haid. Ia menyiapkan semua itu tanpa ingin di bantu oleh siapapun. Andai bik Pah masih ada....tentu wanita tua yang kini sudah tiada itu akan membantunya tanpa Naya inginkan. Allohuakbar allohuakbar! Azan berkumandang. "Alhamdulillah...." desahnya. Ia memulai berbuka. Dengan tiga buah jari ia menyuap nasi kuning dengan nikmat. Ia jadi teringat kedua orangtuanya yang saat ini hanya berdua dalam masa tuanya. Sejenak ia berpikir, "Bagaimana jika terjadi sesuatu sementara aku tak ada bersama mereka....?" batinnya. Tak di sangka Rangga tiba dan mengecup pipinya kemudian duduk di sampingnya. "Mas!" sergahnya sumringah.
__ADS_1
"Apa yang kamu pikirkan?" tanya sang suami halus.
"Nggak, Mas. Cuma perkara emak dan bapak."
"Aku tahu," bisik Rangga tersenyum. "Selesaikan buka puasa mu dan kita sholat berjamaah."
"Iya, Mas."
Seperti kebiasaan dalam keluarga kecilnya Rangga memimpin sholat berjamaah. Seluruh anggota keluarga kecilnya menjadi makmun. Sholat itu mereka dirikan di sebuah kamar yang cukup luas di kamar kosong yang telah di sulap Naya menjadi mushola di samping kiri kamarnya. Dan seperti biasa juga mereka membaca Al-quran hingga azan isya berkumandang.
...................
05.30 wita:
Rangga dan kedua putranya keluar dari dalam masjid. Jamaah yang hadir pada sholat subuh lumayan banyak. Ketiganya saling bertegur sapa bersama beberapa orang jamaah kala memasang sandal. Rangga melepas peci putihnya dan menaruh nya kedalam saku celananya. Ia menatap rembulan yang masih jelas terlihat. Ilyas menyambar telapak tangannya lalu mengayunkan nya. Bocah itu mendongak memperhatikan rambutnya yang nampak kemerahan karena sang ayah telah mengecatnya mengunakan semir rambut untuk menutupi beberapa helai uban nya, "Papa pakai semir rambut ya?"
Rangga menoleh, "Jelas ya?"
"Papa masih muda, Dek. Makanya pakai semir seperti itu masih cocok," timpal Adi.
"Aku mau seperti papa. Dan aku mau istri seperti mama."
Rangga dan Adiyasa tertawa. Bocah ini masih terlalu muda untuk memikirkan semua itu.
"Kapan kak Indria datang ke rumah? Aku penasaran seperti apa rupanya. Dulu aku melihatnya saat masih di kelas satu. Apa dia masih cantik?" tanya Ilyas kepada Angga.
Angga enggan untuk menjawab. Ia malas membahas wanita itu.
"Adik mu bertanya, Adi," sela Rangga.
"Aku nggak tahu jawab apa, Pa. Aku juga hanya sekilas menatapnya ketika pertemuan terakhir kita bersamanya."
__ADS_1
Rangga mengernyit. Ternyata Adiyasa tak memperhatikan Indria samasekali.
Hari ini Adiyasa mulai masuk kerja. Sebuah posisi yang lumayan tinggi di sandangnya yakni seorang general manager. Ia membersihkan diri sekali lagi dan bersiap.
Melihat putranya saat menuruni anak tangga Naya tersenyum lalu bangkit dan menghampirinya. Ia membetulkan kerah jas dan dasi Adiyasa dengan teliti, "Kamu mirip sekali dengan papa mu."
Adi mendesah berat. Ia harap hari ini seluruh kebaikan akan menghampirinya, "Minta doa nya, Ma."
"Tentu, Sayang. Dulu juga papa mu tegang seperti ini saat pertama kalinya masuk kerja. Jangan kecewakan papa mu. Kamu harus bisa menangani apa yang ia bebankan."
"Beres!" ucapnya tajam.
....................
Mobil sport berwarna hitam menyibak jalanan padat merayap menuju hotel Fatahillan. Para warga yang memandanginya di jalan berdecak kagum. Apalagi di dalamnya nampak seorang pemuda tampan dengan kacamata hitamnya terlihat begitu santai bergoyang mengikuti alunan musik, siapa lagi kalau bukan Adiyasa pram sanjaya. Dan ketika ia sampai di hotel, Veronica menyambutnya dengan begitu manis. Wanita itu adalah wakilnya. Ia mengenakan baju lengan panjang putih yang sangat ketat dan rok hitam yang sangat pendek. Ia sengaja melakukan itu untuk menggaet hati Adiyasa.
"Pak!" sapanya genit.
Adiyasa tak menghiraukannya dan masuk kedalam hotel.
"Semua berkas sudah tertata rapi di meja anda. Hari ini kita akan kedatangan tiga orang klien yang rencananya mereka akan mengadakan pesta minggu ini," terang Veronica setengah berlari mengikuti langkahnya yang sangat cepat.
"Siapkan kopi dan cemilan untukku," perintah Adiyasa tegas.
"Kopi hitam atau kopi susu, Pak?"
"Kopi hitam. Jangan terlalu manis."
Seluruh pegawai menyapa nya hingga ia masuk kedalam ruangannya.
Adiyasa tak buang-buang waktu dan langsung memeriksa semua laporan yang telah di siapkan Veronica.
__ADS_1
Bersambung......