Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Acara pertunangan Tita


__ADS_3

Sulaiman ,Tita, Liana, dan Susan kini tengah berada di sebuah toko perhiasan yang terletak di plaza lantai tiga usai dari butik di lantai satu.


Tita nampak malas dan hanya terdiam. Jika di tanya ia suka yang mana ia hanya berkata terserah. Susan berusaha menetralisir rasa kecewanya dengan tetap bersabar menghadapinya. Sedangkan Sulaiman masih tetap masa bodo dan berusaha bersikap selayaknya. "Coba lihat yang ini," pintanya menunjuk sebuah cincin bermata bentuk hati pada pelayan yang sejak tadi melayaninya. "Kamu suka ini tidak, Yang?" tanyanya pada Tita yang tengah membuang muka kesembarang tempat.


"Tita, Sulaiman bertanya padamu," tegur Liana di sampingnya.


Tita lantas menatap Sulaiman dan beralih pada cincin di tangannya.


"Suka?" tanya pria itu.


Tita terpaku melihat mata cincin itu, "Itu seharusnya di berikan Adiyasa! Bukan malah dirimu yang akan menyematkannya di jariku!" batinnya mengutuk. Ia menelan ludah dan mengangguk terpaksa, "Iya, aku suka."


"Ok," ucap Sulaiman, "Aku mau yang ini sepasang sesuai dengan ukuran tanganku dan calon istri ku," pintanya kepada pelayan itu.


Pelayan wanita itu mencarikan sepasang dan memintanya dan Tita untuk mencocokkan nya dengan jari mereka.


"Bagus sekali, Sayang. Terlihat pas di jari kalian," gumam Susan bahagia.


Sulaiman mengeluarkan credit card dan memberikannya kepada pegawai kasir. Ia mengambil tas kecil berisi cincin tunangannya dan memberikannya kepada ajudan Liana yang sedari tadi mengikuti mereka.


"Aku lapar mau makan steak di resto lantai dua. Aku juga mau beli alat make up dan beberapa perlengkapan melukis. Kalian pulang saja duluan biar nanti aku pulang naik taksi." Tita ingin segera lepas dari semua ini dengan dalih berbelanja kebutuhannya.


"Biar aku yang menemanimu. Nenek berdua pulang saja duluan," pinta Sulaiman.


"Tidak, aku hanya ingin sendiri. Pulang lah. Aku tak butuh di jaga," hardik Tita.


"Aku bertanggungjawab atas dirimu. Kamu jangan keras seperti ini. Lagipula belanjaan mu pasti banyak dan kamu akan repot membawanya seorang diri."


"Bisa!" sergah Tita, "Aku sudah besar dan bisa melakukan semuanya sendiri. Lagipula kita belum sah kan? Kamu tak punya kewajiban itu sampai ijab kabul di ucapkan nantinya." Ia berlalu masa bodo akan tetapi Sulaiman mengejarnya.


Tita kesal setengah mati sampai selama berbelanja ia samasekali tak menegur pria itu.


.............................


Susan kecewa luar biasa pada Tita. Ada sedikit penyesalan dalam hatinya karena menjodohkan cucu kesayangannya bersama wanita yang samasekali tak menginginkannya. Ia menatap Sulaiman yang tengah bekerja bersama laptop di ruang kerjanya. Sulaiman terlihat agak letih namun ia berusaha tetap kuat. Beberapa kali ia menguap dan menyeruput kopi di samping laptop nya. Seraya mendesah ia bersandar dan mengusap wajahnya, "Selesai semua...." bisiknya. Ia meregangkan tubuh dan menutup laptop itu kemudian bangkit. Susan buru-buru berlalu dan segera masuk kedalam kamarnya.


"Ada apa?" tegur Abdullah.


Susan meremas jemarinya dengan wajah mendung.


"Kemarilah, ceritakan semuanya padaku."


Susan menuruti ucapnya.

__ADS_1


"Ada apa, Susan?" tanya Abdullah seraya merangkul nya.


"Aku hanya kecewa pada Tita."


Abdullah melepaskan kacamatanya dan menutup buku di pangkuannya, "Sudah ku bilang kan? Sekarang kamu menyesal seperti ini. Ini masalah hati. Kamu memaksakan kehedakmu dan semuanya berakhir kacau seperti ini. Sulaiman sakit dan Tita juga demikian. Dan sekarang semuanya sudah terlanjur. Penyesalan mu hanya akan membuat keadaan makin kacau. Tenangkan pikiranmu.....lepaskan semua ini sejenak."


Susan kian sendu. Ia berdoa dalam hati agar Tita segera berubah.


...................


Rangga perlahan terpejam. Ia telah usai melampiaskan hasratnya pada Naya. Naya turun dari ranjang dan menjamah sehelai handuk yang sudah ia persiapkan di samping lampu tidurnya. Ia menatap dirinya di cermin kamar mandi. Keinginan Rangga untuk bisa memiliki momongan lagi membuat pria itu kian hari kian berhasrat padanya. Naya membasuh wajahnya dan melangkah keluar. Perlahan ia naik kembali ke atas ranjang dan membelai wajah Rangga yang basah karena keringatnya, "Insyaallah, Mas...." bisiknya.


Triit! Triiit! Ponsel sang suami berdering. Naya menjamah ponsel pria paruh baya itu di atas kepalanya, "Rindu?" bisiknya, "Halo?"


Rindu terkejut, ia tak mengira jika Naya yang mengangkatnya, "Halo, Bu? Apa saya bisa bicara dengan Pak Rangga?"


"Ada apa?"


"Saya butuh Pak Rangga." Rindu to the point.


"Maaf, Rangga sudah tidur. Jika ada yang mau kamu sampaikan katakan saja padaku. Nanti akan ku sampaikan."


Rindu nelangsa dan kecewa berat. Ia melepaskan sapu di tangannya, "Tak apa, Bu. Selamat malam," tutupnya.


Naya tersentak, ia berpikir keras dengan tindakan wanita itu. Tengah malam begini ia menelepon bos nya karena urusan pribadi dan bersikap tak sopan padanya? Ada sedikit rasa curiga di benak Naya pada sang suami, "Tak mungkin...." bisiknya geleng-geleng. Ia berusaha menepis pikiran buruknya.


"Dia juga sedang ada masalah, jadi tak bisa datang." Rindu berkilah menutupi kebohongannya.


Suasana di kost itu ricuh. Semua anak kost terbangun karena terkejut. Baru saja dua orang perampok memasuki kos itu lewat jendela dapur umum yang ta terkunci. Untuk saja Rindu dan Hana memergoki mereka dan lansung berteriak histeris dan memukul mereka dengan sapu dapur hingga kedua maling itu lari kocar-kacir.


....................


04.00 wita:


Naya membantu Rangga mengancing baju koko nya. Ia sesungguhnya ingin mengatakan tentang Rindu semalam, tetapi ini bukan saat yang tepat karena akan mengganggu ibadah sang suami nantinya. "Beres," ucapnya usai mengusap dada Rangga.


"Aku pergi dulu," Rangga mencium keningnya dan Naya pun mencium tangannya.


Adiyasa dan Ilyas sudah menunggunya di luar kamar.


"Let's go, Pa," celetuk Adi seraya meraih lengannya.


Seperti biasa, mereka berjalan kaki menuju masjid.

__ADS_1


Usai sholat berjamaah Rangga dan kedua putranya berzikir dan berdoa lumayan lama. Adiyasa memohon kekuatan untuk menghadapi pertunangan Tita siang hari nanti. Ia tak tahu apakah dirinya bisa menyaksikan semua itu. Ia mengusap wajahnya dan tertunduk. Rangga menyentuh pundaknya dan mengajaknya bangkit.


Ketika keluar dari Masjid seorang pengemis tua menghadang mereka. Rangga lantas merogoh kantung celananya namun Adiyasa menghalanginya, "Biar aku saja." Selembar uang pecahan seratus ribu rupiah ia berikan kepada pengemis itu. Ia berharap dengan sedekah itu Allah swt berkenan menghapus kegundahan di hatinya.


....................


14.00 wita:


Jantung Tita berdebar lebih kencang. Kini ia berada di kamar bersama tiga orang penata rias yang tengah fokus menata rambut dan wajahnya. Sedangkan Sulaiman di kamar sebelah juga tengah bersiap. Kondisi rumah keluarga Pram sangat ramai. Acara telah di mulai dengan lantunan lagu dan musik yang di mainkan oleh band ternama tanah air yang sedang di gandrungi muda-mudi. Semua teman-teman Tita dahulu saat di bangku kuliah hadir. Rekan bisnis Sulaiman dan sang ayah juga hadir.


Adiyasa memilih duduk di pojok ruangan menjauhi kerumunan. Ia sudah menghabiskan lima potong kue dan empat gelas jus yang tersedia. Ia lumayan stres dan begitu tak tenang. Indria yang sejak tadi memperhatikannya dari kejauhan tak berani untuk mendekatinya.


"Hey!" panggil Adi kepada pelayan yang melintas, "Aku minta kopi dingin."


Pelayan itu mengangguk. Adi kembali menjamah kue nastar dan melahapnya sekaligus.


Acara penyematan cincin pertunangan pun tiba. Adi bangkit untuk melihat sosok Tita. Gadis itu keluar bersamaan bersama Sulaiman. Ia nampak begitu cantik dan memukau. Adiyasa tak pernah melihat Tita secantik itu hingga ia tak lepas menatapnya.


Sulaiman dan Tita bersama Liana dan Susan naik ke atas panggung. Tita berusaha sekuat hati untuk tersenyum. Ingin rasanya ia membuat acara ini kacau dengan berlari meninggalkan panggung itu, tetapi ia masih waras untuk tak melakukan hal gila itu.


"Sayang," panggil Sulaiman membuyarkan lamunan nya. Dengan berat hati ia mengulurkan telapak tangannya. Sulaiman perlahan memasukkan cincin pada jarinya dan tersenyum bahagia.


Tita melakukan hal yang sama dengan cepat. Di mata Pram dan Abdullah mereka tahu jika ia samasekali tak berkenan.


Acara berlanjut dengan berdansa bersama pasangan masing-masing. Sulaiman mengulurkan tangannya kepada Tita mengajaknya untuk berdansa. Gadis itu enggan namun sang tunangan memaksa, "Ayolah," pintanya. Ia tak bisa menghindar dan pasrah mengikuti kehendaknya.


Para tamu undangan yang tengah berdansa memberikan keduanya ruang. Adiyasa tak tahan dan memilih meninggalkan pesta. Indria berbisik pada Prisil memohon izin.


"Adi!" teriaknya sembari berlari keluar dari rumah.


Adiyasa tak peduli dan langsung memasuki mobil. Indria buru-buru mencegatnya dengan menghalanginya di depan mobil itu.


"Gadis ini!" geram Adi. Ia pun turun.


"Kemana sih? Kenapa kamu begini?!" bentak Indria.


"Kamu jangan tambah membuatku kian bt! Minggir!!"


"Tidak! Aku tak bisa melihat mu seperti ini!! Ayo kembali kedalam!" pintanya menarik pergelangan tangan Adi.


Adi mendesah berat. Ia malah menarik tangannya balik dan membukakan pintu mobil, "Masuk."


Indria menatapnya, "Kemana?"

__ADS_1


"Ikut saja!"


Bersambung.....


__ADS_2