
Hotel Fatahillah:
"Duduk, Rindu," pinta Rangga.
Rindu lantas duduk.
"Apa benar kamu menelpon ku kemarin malam?"
"Ibu Naya memberitahu anda?" tanyanya tanpa canggung.
"Iya, untuk apa kamu menghubungiku di luar jam kerja hotel? Itu mengganggu istri ku! Lagipula itu samasekali tak pantas!"
Rindu tak paham samasekali. Ia tak merasa bersalah sedikitpun.
"Maaf, Pak. Saya hanya bingung harus menghubungi siapa? Waktu itu kos saya kemasukan maling dan yang terpikir dalam benak saya adalah menghubungi anda. Saya sangat ketakutan dan kebingungan."
"Sudah hubungi polisi?"
"Sudah, Pak. Malingnya sudah tertangkap."
"Artinya aku tak berguna kan?"
Rindu terdiam dan bingung.
"Lain kali kamu jangan melakukan hal itu. Banyak tetangga berjenis kelamin laki-laki yang bisa kamu mintai tolong! Kelakuanmu sangat di luar nalar!" tandas Rangga. "Aku harap ini yang terakhir. Keluarlah."
Hati Rindu terluka, tetapi yang ia salahkan bukan Rangga melainkan Naya. "Wanita tua sial! Beraninya kamu mengadu yang tidak-tidak! Lihat saja pembalasan ku!" umpat nya dalam hati.
Adiyasa berpapasan dengannya ketika ia hendak membuka pintu ruangan itu. Adi terheran mendapati wajahnya yang nampak geram.
"Pa, ini laporan kinerja pegawai kita bulan ini," sapa Adiyasa seraya memberikan map dan duduk di hadapan Rangga. "Ngomong-ngomong Rindu kenapa? Wajahnya muram begitu? Apa Papa baru saja memarahinya?"
Rangga fokus pada map itu dan menjawab tanpa menatapnya, "Sedikit teguran."
"Aku lihat dia terlalu manis pada Papa, jangan-jangan dia ada hati lagi?" Adi mengatakan itu serius, akan tetapi Rangga malah tersenyum.
"Memangnya apa yang dia lihat dari Papa? Papa ini sudah uzur, Nak...."
Adi tersenyum getir, "Siapa bilang? Papa lumayan muda dan sangat tampan. Semua yang diinginkan wanita ada pada diri Papa."
Tiba-tiba Rangga tertawa renyah. Ia menaruh map itu di atas meja dan menangkupkan kedua telapak tangannya dan bersandar santai, "Kamu terlalu memuji. Mama mu dengar ini dia bisa kebakaran jenggot. Papa tak ada keinginan untuk melakukan poligami lagi...."
"Baiklah terserah Papa saja. Aku balik dulu, hati-hati dengan ranjau," bisiknya menggoda
Rangga geleng-geleng kepala.
Adiyasa sekilas menatap Rindu. Tiba-tiba saja ia tak menyukai wanita itu.
....................
__ADS_1
Sulaiman di sambut dua orang pelayan wanita yang secara langsung memberitahukan jika nona mereka Tita sedang berenang di kolam. Sulaiman berjalan cepat ke belakang rumah itu. Ia menangkap sosok Tita yang tengah berenang ke pinggir kolam. Matanya menatap lekat tubuh indah gadis itu yang perlahan naik. Ia merasa panas. Karena tak mau tersulut ia pun mendekatinya dengan sesekali menunduk sembari menggaruk jidatnya. Tita mengambil jus jeruknya dan tak sadar jika ia semakin mendekat. "Tita!" sapanya
Tita berbalik. "Ada apa lagi?"
Sikap dingin Tita membuat hasrat pria itu timbul, "Tak boleh jika aku menemui calon istri ku?" tanyanya tersenyum sinis. Tita tak menjawab, ia pun beranjak hendak meninggalkannya sembari menyambar sehelai handuk di atas meja, "Hei...." sergahnya seraya menyambar pergelangan tangan gadis itu.
"Lepas!" desis Tita.
Karena ia berusaha untuk melepaskan diri akhirnya Sulaiman menarik dan memeluk tubuhnya, "Kamu ingin menjauh?" bisiknya. Mata Tita sungguh sangat indah. Bibirnya terlihat begitu menggoda.
"Lepas!" Tita berusaha mendorong tubuhnya akan tetapi pria itu malah kian mendekap nya dan berusaha mencium bibirnya.
Sulaiman hilang kontrol dan berusaha mencium bibirnya akan tetapi Tita berusaha menghindar dengan berpaling.
Leona memergoki mereka ketika ia akan memberitahukan jika paket yang Tita pesan sudah tiba. Ia membungkam mulutnya tak percaya dengan apa yang dilihatnya dan buru-buru surut kebelakang meninggalkan tempat itu, "Ya Allah apa yang mereka lakukan?" bisiknya.
Pram dan Liana memasuki rumah. Leona ketakutan jika apa yang di lakukan Sulaiman dan Tita kepergok, "Semoga mereka menghentikannya," harapnya. Ia segera menyambut Pram dan sang istri, "Tuan Besar sudah pulang, kelihatannya Tuan nampak lebih segar," ungkapnya berusaha tersenyum.
"Tita di mana, Leona?" tanya Pram.
"Oh....No-Nona Tita ada di belakang...."
"Kenapa kamu gugup begini?" sela Liana curiga.
"Ma-maaf, Nyonya....sekarang Nona Tita sedang bersama Tuan Sulaiman."
"Memangnya apa yang sedang mereka lakukan?" tanya Pram curiga.
Liana dan Pram mendesah, "Kamu konyol sekali!" desis Liana. Ia meraih lengan Pram menuju kamar mereka.
Akhir-akhir ini kondisi kesehatan Pram agak menurun. Kebiasaan merokok sejak dahulu membuat dirinya perlahan terserang sesak dan batuk kering.
"Aku ingin ke ruanganku saja," ucapnya memaksa sang istri untuk melepaskannya.
Liana tak bisa menghalanginya. Ia memilih membuatkan bubur gandum untuknya sebelum meminum obat yang tadi di berikan dokter. Dirinya juga sesungguhnya sudah merasa sedikit letih karena rangkaian pemeriksaan Pram di klinik tadi.
"Nyonya mau saya bantu?" tanya Leona khawatir di sampingnya yang mulai menyalahkan api kompor.
"Tidak, apa Tita hari ini melukis?"
"Samasekali tidak. Nona Tita seharian ini hanya bermalasan di pinggir kolam membaca majalah. Kelihatannya ia sangat tak bersemangat."
"Sulaiman sudah dari tadi bersamanya?"
"Baru saja."
Sementara itu.....
Mata Tita mulai berair dan tangisnya pun pecah. Baginya ini sungguh keterlaluan. Pria itu pun akhirnya menyerah dan melepaskannya.
__ADS_1
"Aku khilaf Tita....Aku minta maaf." Ia ingin kembali menyentuh tangan gadis itu untuk menenangkannya.
"Jangan sentuh aku!" bentaknya mundur selangkah. Tak ingin berada bersama pria itu lebih lama lagi ia pun meninggalkannya tanpa kata.
"Kamu bodoh Sulaiman!" kutuknya menjambak rambutnya berang, "Kamu kenapa tak bisa mengendalikan diri setiap kali berdua dengannya?!"
Tita lantas menghempaskan handuk yang menutupi tubuhnya di dalam kamarnya dan masuk ke dalam kamar mandi. Ia memutar keran air dan menggosok seluruh tubuhnya di bawah guyuran air hingga tanpa sadar ia menorehkan beberapa luka sayatan pada perut dan lehernya dengan tangisan. Ia merasa begitu kotor.
Sulaiman kacau sampai-sampai ia tak sadar jika dirinya sudah berada di dalam mobil. Ia meluncur dengan kecepatan tinggi keluar dari area rumah itu dan hampir saja menabrak seorang gadis yang mengendarai sepeda, "Innalillah!" teriaknya seketika berhenti mendadak. Gadis itu syok hingga hampir tersungkur jatuh. Sulaiman ketakutan akan keadaannya dan langsung turun dari mobil, "Kamu tak apa?"
Gadis itu terpaku menatapnya. Ingatan saat di bangku SMP dulu terpampang begitu jelas di ingatannya.
"Kamu tak apa kan?" tanya Sulaiman sekali lagi.
"Mas Sulaiman Fatahillah kan?"
Sulaiman tersentak. Ia merasa tak pernah mengenal gadis ini.
"Aku Cita, teman sekelas mu di SMP kelas satu dahulu...." jelasnya menekan.
Sulaiman terdiam, memangnya apa yang harus dia katakan untuk menanggapinya....?
"Oh, benarkah?"
"Iya. Kita akhirnya ketemu lagi. Apa kabar Mas sekarang?" Cita sumringah tak dapat menyembunyikan kebahagiaannya.
"Baik. Tapi maaf, jika kamu tak apa-apa aku harus segera pergi." Sulaiman tak betah dan langsung saja ia mengucapkan selamat tinggal usai wanita itu menggeleng.
"Yah....kamu tak berubah juga," Cita menghentakkan kaki kanannya kesal. Harusnya ia berkata jika ada sedikit luka atau shock gitu agar Sulaiman bisa lebih lama bersamanya lalu meminta nomor ponselnya. "Heeeeh!" ia geregetan pada kebodohannya.
Ilham meminta Desta, sekretaris nya menghubungi Sulaiman karena rapat akan segera di mulai. Pria itu sudah telat sepuluh menit dari jadwal hanya karena ia ingin menyambangi Tita sejenak. "Pak, anda ada di mana?"
"Aku akan segera tiba," jawab Sulaiman. Ia makin melaju kencang.
Desta berbisik di telinga Ilham menyampaikan hal itu. Ilham merasa jika fokus Sulaiman sudah terpecah dan pekerjaannya menjadi sedikit terganggu. Ia khawatir ini akan berlanjut. " Kita tunggu lima menit lagi," pintanya kepada seluruh karyawannya. Mereka mendesah pendek menyembunyikan kekesalannya.
6 menit kemudian....
"Maaf aku terlambat," ucap Sulaiman seraya duduk di kursinya.
Rapat itu lantas di mulai.
Dari semua data yang di sampaikan oleh seluruh staf yang hadir di rapat itu penjualan produk kosmetik mengalami penurunan yang cukup signifikan.
"Kita harus membuat iklan baru untuk menaikkan penjualan, Pak," Usul Sulaiman.
"Maaf Pak, tapi kita akan mengeluarkan biaya yang besar untuk membuat itu. Sementara kondisi keuangan perusahaan juga dalam kondisi buruk. Menurut saya itu kurang tepat," timpal Pak Basuki sebagai menejer keuangan.
"Semua punya resiko. Menurutku jika kita stagnan di posisi ini tanpa bertindak cepat maka keadaan perusahaan akan semakin memburuk," sela Sulaiman. "Kita harus secepatnya melakukan ini."
__ADS_1
Ilham menimang. Kedua pendapat itu sama benarnya.
Bersambung....