Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Cita


__ADS_3

"Saya rasa kita tak bisa melakukan apapun dengan kondisi saat ini," sela Robi.


"Aku setuju dengan Sulaiman," ucap Ilham tiba-tiba. "Jika kita menanti perkembangan dalam ketidakpastian semua itu seperti menunggu hujan emas turun dari langit, justru ini akan membuat perusahaan secara perlahan akan masuk kedalam jurang kehancuran. Kita harus berani mengambil resiko," timpal Ilham dengan menangkupkan kedua tangannya menyentuh bibirnya menatap meja dengan tatapan kosong.


Sejenak hening...


"Kita juga akan memberikan diskon sepuluh persen untuk pembelian dalam satu paket lengkap. Iklan baru ini akan terasa segar di mata masyarakat yang menyaksikannya," sambungnya.


Basuki mendesah kecewa bersama karyawan yang lain. Mereka hanya tak mau sang bos mengambil langkah keliru. Bagi mereka Sulaiman hanya anak kemarin sore yang memiliki pandangan dan pemikiran yang masih mentah.


"Sulaiman, aku menugaskanmu mencari model untuk iklan ini. Aku ingin kamu mendapatkan seorang gadis biasa di sekitaran kota kita."


"Baik, Pak," angguk sang putra.


"Kenapa gadis biasa, Pak?" protes Desta.


"Kamu mau mengeluarkan anggaran sendiri untuk iklan ini? Harga model artis sangat tinggi sekalipun lokal!"


Desta mengerti dan ia pun bungkam.


Ilham mengakhiri rapat itu setelah membahas angaran yang akan di kucurkan. Semua karyawan ia minta kembali ke ruangan masing-masing.


Sulaiman mulai merancang sebuah brosur untuk mencari model dadakan pada laptop nya. Ia mengingat-ingat beberapa wanita yang pernah di kenalnya. Pelayan di rumahnya dan beberapa pelayan di cafe langanannya terlintas. Tiba-tiba sosok Cita melintas. Gadis barusan yang hampir ia rabrak itu sangat cocok untuk iklan perusahaannya....


"Tapi dia tinggal di mana....?" tanyanya berbisik. Ia lantas beranjak keluar dari kantor untuk menemukan gadis itu menggunakan motor milik perusahaan. Ia sengaja menggunakan kendaraan itu agar lebih mudah menemukan wanita itu.


Sulaiman berputar-putar mengitari sekitaran daerah kediaman Pram. Ia yakin jika gadis itu tinggal di sekitaran kawasan ini. Karena tak mendapatkan hasil ia pun memutuskan untuk bertanya ke beberapa warung dengan memberikan ciri-ciri fisik Cita.


"Oh, kalau itu coba Mas tanya ke rumah bercat pagar coklat. Belok kiri dan rumahnya di samping kanan jalan. Setahu saya hanya Si Cita anak Pak Rt yang punya ciri yang Mas bilang barusan," terang penjual es blender terakhir yang ia tanyai.


Sulaiman mengikuti arahannya.


"Assalamualaikum! Permisi!" sapanya.


Tak ada yang menyahut.


"Permisi!" panggilnya sekali lagi.


Seorang pria tua berpeci putih menggunakan singlet keluar dari dalam rumah menghampirinya, "Cari siapa?" tanyanya bingung.


Sulaiman ragu untuk menjawab jika ia mencari gadis yang bernama Cita, siapa tahu saja bukan gadis itu yang ia cari, "Saya mencari yang namanya Cita. Dia teman SMP saya dulu."


"Oh....temannya Cita atau pacarnya?" Pak Sukri sumringah penuh harap.


Sulaiman hanya tersenyum getir.


"Kalau begitu mari masuk, dia ada di dalam. Baru saja dia masak bantu emaknya."


Sulaiman ragu untuk melangkah masuk, tetapi ini sudah terlanjur.


Sukri mempersilahkannya duduk sesampainya di ruang tamu.


"Cita! Ada tamu untukmu! Cepat kemari!" teriaknya nyaring hingga membuat Sulaiman sedikit tak nyaman.


"Siapa sih?" decak Cita sembari melepaskan spatula di tangannya. Rani sang bunda menggantikannya menggoreng.


"Mas Sulaiman!" pekiknya tak sadar ketika menyibak tirai dapur.


Sulaiman melotot lega. Gadis itu mendekat dan duduk di samping sang ayah berseberangan dengannya


"Jadi ini dia pria yang sering kamu ceritakan?" Sukri gembira dengan pilihan putrinya.


"Oh-ah bukan, Pak," sergah Cita malu dan kikuk sembari menepuk paha sang ayah. "Maaf, Mas. Bapak cuma bercanda." Ia sangat malu dan tak enak hati kepada Sulaiman.


"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan." Sulaiman menjelaskan perihal kedatangannya dengan detil.


Cita merasa ini mimpi. Ia bingung harus menjawab apa tatkala Sulaiman bertanya kesediaannya, "Bagaimana ini, Pak?" tanyanya, "Cita ambil atau tidak? Mas Sulaiman membutuhkan bantuan Cita?"


"Bapak setuju jika emak mu juga setuju."


"Ambil!" sergah Rani tiba-tiba dari ambang pintu dapur.


Cita melotot, ia tersenyum sumringah.


"Jadi kita deal?" tanya Sulaiman


"Iya, Mas. Aku mau."


Sulaiman kemudian memberikan kartu nama miliknnya, "Besok aku tunggu di kantor untuk pembicaraan selanjutnya," pintanya. Ia pun pamit dengan hati yang puas.


.................


Selasa pagi:


Sulaiman menatap ke sekeliling ruang tamu. Acara pertunangan Adiyasa benar-benar akan di lakukan dengan sangat sederhana. Ia mengetahui semua itu semalam sepulang dari kantor.

__ADS_1


"Ayo," ajak Ilham menyentuh punggungnya. Keduanya melangkah menuju halaman. Kedua orangtuanya dan Rangga bersama keluarga kecilnya sudah menunggunya sarapan di taman.


..................


PT. Beauty Cosmetic Fatahillah:


Cita menunggu dengan sabar di lobi. Ia datang sangat awal karena semangatnya yang berapi-api. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi dan suasana di kantor itu masih terbilang sepi.


Sesekali gadis itu menengok jam dinding di hadapannya berharap jika Sulaiman segera tiba.


"Siapa tuh?" tanya seorang karyawan pria berbisik pada rekannya dari kejauhan.


"Dia calon model iklan terbaru kita."


"Wah, boleh juga pilihan Pak Sulaiman,"


angguknya berdecak kagum.


08.30 wita:


"Pak!" panggil receptionist kala Sulaiman dan Ilham memasuki kantor. Ia segera menghampirinya, "Cita calon model kita sudah menunggu di lobi."


"Oh, terimakasih," angguk Sulaiman. Ia dan sang ayah berjalan cepat menuju lift.


"Kamu temukan dia di mana?" tanya Ilham.


"Dia teman SMP ku. Kemarin bertemu secara tak sengaja."


Ilham sangat berharap jika pilihan Sulaiman sama dengan yang diinginkannya.


Pintu lift terbuka. Saat keduanya tiba di lobi Cita lantas bangkit. Kelegaan sangat tampak di wajahnya, "Mas," sapanya.


Ilham manggut-manggut. Sulaiman kemudian memperkenalkan gadis itu padanya.


Singkatnya semua proses di lakukan hingga iklan itu siap di luncurkan. Karena semua ini Sulaiman dan Ilham tak menghadiri acara pertunangan Adiyasa dan Idria kamis yang lalu. Acara itu lumayan singkat namun terasa begitu sakral dan berkesan. Tita juga memilih untuk tak datang. Ia mengurung diri seharian full di kamar, tak nafsu makan hingga menangis sampai kedua matanya bengkak.


Kedua orangtua Cita mengumumkan pada seluruh tetangga jika kini putri pertamanya itu sudah menjadi seorang artis. Seluruh tetangga menganggap itu sebagai lelucon dan bergunjingan hingga sampai tersebar ke kampung sebelah.


Hari ini tepatnya ba'fa zuhur Cita dan seluruh keluargnya duduk di depan televisi menantikan iklan perdananya tampil sesuai dengan informasi Sulaiman. Mereka sampai tak berkedip hingga menahan buang air kecil. Ketika Cita muncul Ayah, ibu, dan kedua saudaranya berteriak histeris. Beberapa tetangga yang menyaksikannya pun tak kalah histeris. Mereka menyebarkan itu dan bertanya kepada tetangga yang lain melalui telephone. Seluruh kampung geger dan sebagian merasa malu karena sudah menganggap Pak Rt mereka sebagian pembual.


...................


Senin berikutnya:


Akhirnya kebenaran akan hubungan spesial Adiyasa dan Indria terbongkar dari mulut Veronica. Saking kesal dan iri kepada Indria ia tak sadar berceloteh panjang kepada receptionist saat masuk pagi tadi dengan bumbu-bumbu negative untuk menjatuhkan Indria.


"Ada apa?" Indria tak menoleh dan tetap fokus pada sup yang sedang ia aduk.


"Benar kamu sudah bertunangan dengan Pak Adiyasa?"


"Apa?" sergah Indria terkejut seraya menoleh. Semua pegawai di ruangan itu seketika menatap keduanya, "Siapa yang memberitahumu?"


"Semua orang sudah tahu. Katanya Mbak Veronica yang bilang pertamakalinya. Benar tidak?"


Indria sejenak berpikir. Ia pun berkata jika itu adalah benar.


Seketika seluruh rekan kerjanya histeris membungkam mulut mereka dan saling berbisik. Indria sudah mendapatkan persetujuan mengenai hal ini dari Adiyasa jika sampai semuanya terbongkar . Pandangan rekan kerjanya seketika berubah dan perlahan menjauhinya dan kembali pada tugas masing-masing. Indria tahu jika hal ini pasti akan terjadi. Ia mulai menutup mata dan telinga dari pandangan dan suara-suara yang akan menghujam dirinya selama bekerja di tempat ini hingga hari pernikahannya tiba. Ia dan Adiyasa telah sepakat akan keluar dari pekerjaannya dan menjadi ibu rumah tangga mutlak sesuai keinginan pria itu.


.......


Langit malam kembali nampak mendung. Suara gemuruh dan kilat terdengar keras hingga membuat seluruh pegawai hotel yang sedang menunggu angkutan umum di halte bus terkejut dan menyumbat telinga mereka.


Tubuh Indria menggigil. Angin malam ini terasa begitu menusuk. Adiyasa menghentikan mobilnya tepat di hadapan gadis itu, "Ayo masuk!" pintanya.


Semua rekan kerja Indria terkejut dan saling berbisik. Indria lantas mendekat lalu membuka pintu mobil itu dan duduk di sampingnya.


Hujan tiba-tiba tumpah dan turun dengan deras, "Hati-hati saja, jangan ngebut," pintanya.


"Sip Bos," canda Adi.


Dalam perjalanan Adiyasa berusaha berhati-hati mengemudikan mobilnya. Pandangan di depan sedikit agak buram karena air hujan. Kondisi jalanan juga sangat ramai. Ketika hampir mendekati sebuah hotel kecil ia terpaksa harus menghentikan mobilnya karena kemacetan akibat sebuah pohon besar tumbang. Beberapa polisi berusaha mengatur lalu lalang kendaraan yang melewati jalan itu.


"Bagaimana ini?" tanya Indria khawatir.


"Tenanglah, sebentar lagi kita pasti bisa jalan. Pohon itu kelihatannya sudah hampir selesai dibersihkan," ucap Adiyasa berusaha membuatnya tenang.


Tiba-tiba polisi melalui pengeras suara berkata jika sepanjang jalan menuju kawasan Cakra Negara tak bisa di lewati akibat pohon bertumbangan. Seluruh pengendara di minta untuk bersabar sampai kondisi jalanan kembali normal.


Indria sudah tak tahan ingin segera beristirahat karena tubuhnya terasa kian tak enak, "Mas, aku sakit," rintihnya menggigil.


Adiyasa terkejut. Ia pun menyentuh pergelangan tangannya, "Astaga kamu demam."


"Aku nggak tahan, Mas. Aku mau tidur," pintanya.


Adiyasa berpikir sejenak. Tak ada pilihan lain melihat kondisi Indria yang terlihat begitu drop. Ia menepikan mobilnya dan masuk kedalam area parkir hotel.

__ADS_1


"Kok kita ke sini, Mas? Aku mau pulang...."


Adiyasa menyentuh kepalanya, "Untuk sementara waktu kita singgah di hotel ini. Kita istirahat di hotel ini sampai jalanan di buka kembali.


Indria sedikit takut karena ia hanya akan berdua bersama Adiyasa dalam satu kamar. Tetapi ternyata Adiyasa memesan dua buah kamar, "Kita tidur pisah ya, Mas?"


"Iya," angguk Adi.


"Alhamdulillah...." desah nya.


"Kamu pikir kita akan sekamar?" canda Adi. "Aku masih normal dan tak ingin sampai kecelakaan terjadi."


Pipi Indria bertemu merah. Ia malu dengan pikiran kotor nya.


Setelah di dalam kamarnya Adiyasa dan Indria menghubungi kedua orangtua mereka untuk memberi kabar. Naya meminta Adi untuk tetap menjaga Indria dan tak lengah.


"In!" panggil Adi mengetuk pintu kamarnya.


Indria berjalan sempoyongan menuju pintu, "Ada apa, Mas?"


"Aku akan menemanimu. Pikiran ku tak tenang jika kita terpisah."


Indria ragu.


"Aku takkan aneh-aneh. Aku akan tidur di sofa."


Indria terdiam, "Baiklah," angguknya menyerah.


Hingga pukul empat dini hari Adi mengawasinya. Ia juga tak bisa tidur memikirkan ibundanya yang sudah pasti cemas dengan keadaannya. Sampai subuh tiba ia hanya memainkan ponselnya dan bangkit untuk menunaikan sholat.


Setelah usai ia membangunkan Indria. Ia merasakan tubuh wanita itu sudah kembali normal.


"Mas...." desah Indria terbangun.


"Sholat dulu. Subuh sudah dari tadi."


"Aku nggak bawa mukena...."


"Tuh, sudah tersedia kok."


Gadis itu bangkit bersusah-payah. Tubuhnya terasa begitu berat.


Pagi pun menjelang.....


"Mas nggak tidur ya semalam?" tanya Indria saat Adi menyalakan mesin mobilnya.


"Nggak, aku nggak ngantuk samasekali."


"Maaf, aku sudah membuatmu repot. Apa yang harus ku lakukan untuk menebusnya?"


Adi tersenyum, "Kis..."


Indria melotot. Ia lantas mencubit lengan Adi karena gemas, "Nakal!" celetuknya.


Adi tertawa renyah. Ia pun meluncurkan mobilnya dengan santai.


Setelah mereka sampai di kediaman Indria ia menjelaskan segalanya pada Max. Max berterimakasih dan mengajaknya untuk sarapan bersama, akan tetapi keinginannya untuk segera tiba di rumah membuatnya menolak tawaran itu.


Rasanya ini semua seperti mimpi bagi Indria. Ia dapat merasakan perhatian dan rasa cinta Adiyasa yang begitu tulus. Akan tetapi ini semua hanya tentang tanggung jawab bagi Adi. Rasa cintanya kepada Tita jauh lebih besar.


........


Beberapa hari kemudian...


Cita memberanikan diri menghubungi Sulaiman. Ia berniat untuk mengajaknya makan siang bersama.


"Gadis ini...?" bisik Sulaiman. Ia menggeser layar ponselnya dan menyalakan speaker.


"Halo, Mas Sulaiman!" pekik Cita.


Sulaiman tersentak, "Ada apa, Cita?"


"Maaf, Mas. Apa Mas ada waktu hari ini? Aku ingin mengundang Mas makan siang di warung ku. Ini semua sebagai ucapan terimakasih ku atas bantuan Mas memberiku pekerjaan."


"Oh, sama-sama. Harusnya aku yang berterimakasih karena kamu mau menjadi model perusahaan ku."


"Tapi aku mau kita makan siang bersama. Bisa kan Mas?" pintanya seakan memaksa."


"Duh gimana ya? Maaf tapi aku tak punya waktu luang. Pekerjaan ku sangat padat. Kapan-kapan saja kita makan bareng. Nanti jika ada waktu luang aku akan menghubungi mu."


"Janji?" tanya Cita memaksa.


"Apa-apaan wanita ini...?" batin Sulaiman.


"Mas? Halo...."

__ADS_1


"Iya, tentu. Nanti aku akan memberi kabar," tutup Sulaiman.


Bersambung..


__ADS_2