Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Permintaan Pram


__ADS_3

10.30 wita:


Tita membuka mata, pandangannya kabur dan tubuhnya terasa begitu letih akibat semalam duduk di pinggir kolam di bawah gerimis hujan.


Di depan cermin ia menatap tubuhnya yang nampak semakin kurus. Entah sudah berapa lama ia dan Adi berpisah....


Ia berjalan tertatih menuju lampu tidur dan mengambil ponselnya.


Tut...tut...


"Adi.." panggilnya.


"Tita," jawab Adiyasa


Adiyasa terlonjak lalu bangkit dari kursinya.


"Adi aku sakit...." rintih Tita lemah


"Sayang.." batin Adi.


"Temui aku....aku hanya mau dirimu...." pintanya


"Sayang..." bisik Adi.


Tangis gadis itu akhirnya pecah, "Temui aku....hiks...aku sudah tak sanggup menahan kerinduan ini....hiks. Aku hanya mau dirimu...hiks..."


Perasaan Adiyasa remuk-redam.


"Adi....aku rindu...."


"Iya, aku akan segera ke sana," ucap Adiyasa akhirnya.


Adiyasa berjalan cepat keluar dari ruangannya dan berkata pada Veronica jika ia ada urusan mendadak.


.........


Tita menyisir rambutnya dan memakai lipstick. Ia menyemprotkan parfum pada lehernya dan sedikit mengpleskan bedak pada wajahnya.


Saat Adiyasa tiba pelayan suruhan gadis itu mempersilahkannya masuk menuju kamarnya.


Ketika membuka pintu kamar itu nampak Tita duduk di tepi ranjang. Kecantikannya membius Adiyasa. Keduanya berpelukan erat melepaskan berjuta kerinduan yang selama ini mereka pendam


"Sayang....Tita...." desah Adi menghirup aroma rambutnya yang begitu wangi.


Secara tak sadar keduanya berciuman.


Tak ada yang mengetahui kehadiran Adiyasa di rumah itu. Adi sengaja datang dengan menggunakan ojek online.


Setelah berjuta kerinduan itu terlampiaskan dengan percintaan terlarang ia keluar dari rumah tu sebelum Pram atau yang lainnya mengetahui kedatangannya.


Tita menciun sapu tangan sang kekasih dengan begitu dalam. Ia bahagia dan tak menyesal sedikitpun dengan apa yang sudah diperbuatnya.


.........


Hotel Fatahillah:


"Pak, Bos meminta anda ke ruangannya," cegat Veronica.


Adiyasa rasanya tak sanggup untuk bertemu dengan ayahnya setelah apa yang di lakukanya. Akan tetapi ia tak mungkin menghindar.


Ruangan CEO:


"Papa sendiri?" tanyanya pada Rindu.

__ADS_1


"Iya, Pak. Sejak tadi beliau menunggu anda."


Adiyasa menghembuskan nafas dan masuk kedalam ruangan sang ayah. Rangga tengah sibuk di sofa dengan file-file yang menumpuk.


"Pa," sapa nya.


Rangga duduk dengan tegak dan meraih tangannya, "Kemarilah. Bagaimana menurutmu jika kita membangun taman mini pada lahan di samping hotel?"


Adiyasa mengusap keringatnya pada pelipisnya, "Oh, itu?" tanyanya tak konsen. "Untuk apa? Bukankah taman di belakang hotel kita sudah cukup? Rasanya tak perlu tambah lagi."


"Papa rasa memang ya. Tetapi tanah itu sudah cukup terbengkalai. Apa usulanmu?"


Adiyasa merasa dirinya begitu kotor. Ia tak bisa berpikir samasekali.


"Apa yang terjadi?" tanya Rangga.


"Oh, tidak. Aku hanya sedikit tak konsen, Pa. Apa bisa kita lanjutkan ini nanti? Aku ingin mandi. Tubuhku rasanya lengket."


Rangga curiga. Tak biasanya Adi seperti ini...


"Ya sudah mandilah. Papa menunggumu."


"Terimakasih, aku ke ruanganku dulu."


..........


Pagi ini Tita nampak berbeda. Wajahnya nampak lebih fres. Ia pun makan dengan lahap. Liana senang sekali dengan perubahannya, "Sayang, kamu mau salad nya?" tanyanya


"Iya, sedikit saja," pinta Tita.


Cuaca pagi ini sangat cerah. Langit tak berawan dan siulan burung-burung yang bertengger di puncak pohon yang berada di sekitar halaman dan terdengar hingga ke dalam rumah.


Tita menghabiskan semua makanannya dan lantas izin ke gallery nya.


Pram menbanting sendok dan garpunya. Liana dan Angga terkejut.


Pram tak menjawab dan bangkit meninggalkan meja makan. Ia kembali melihat rekaman saat kedatangan Adiyasa pada monitor. Ia yakin jika sudah terjadi sesuatu di luar akal sehat antara Tita dan Adiyasa.


..........


20.00:


Tut...Tut...


Indria menunggu dengan sabar jawaban dari Adiyasa. Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamar dan masih tetap bersabar.


Adiyasa menatap layar ponselnya dan menaruhnya kembali di atas meja. Rasanya ia sudah tak pantas untuk wanita itu. Baginya hubungan mereka sudah terputus.


"Ada apa ini? Kenapa Mas Adi tak mau mengangkat panggilan ku?" tanya Indria. Ia berusaha berpikir positif. Ia berpikir mungkin saja Adiyasa berada di kamar mandi atau ia meninggalkannya ponselnya.


Adiyasa beristigfar berkali-kali. Ia sudah memutuskan untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya pada Tita. Apapun hal buruk yang akan terjadi ia tetap harus melakukan itu. Tetapi apa ia sanggup melihat kehancuran kedua orangtuanya...? Pikirannya berkecamuk.


.........


23.00 wita:


Seharian ini Pram tak banyak bicara dan tetap di ruang kerjanya. Liana dan Angga bingung. Mereka tahu pasti ada masalah besar yang telah terjadi akan tetapi mereka tak berani menegurnya.


"Halo," panggil Pram.


"Kakek?" jawab Adi.


"Kakek ingin kita bertemu. Datanglah ke rumah sekarang juga."

__ADS_1


Adiyasa tertegun, ia pun menyanggupi dan memenuhinya.


Pram juga meminta Leona memanggil Tita. Malam ini juga semuanya harus usai.


15 menit kemudian....


"Apa yang sudah kalian lakukan kemarin?" tanyanya pada Adi dan Tita yang kini berada di hadapannya.


Adi dan Tita terkejut dan tak berani menjawab. Mereka berpaling tak berani menatap matanya.


"Apa kalian berzina?"


Adi ketakutan. Ia tak mengira jika kakek nya mengetahui perbuatannya.


"Sekarang bersumpahlan demi Tuhan jika kalian takkan mengulanginya lagi dan berpisah," pintanya.


Sontak Tita menatap matanya.


"Bersumpahlah..."


"Tidak!" timpal Tita tak terima.


"Tita jangan begini...." pinta Adi.


"Tapi ini tak adil! Kenapa kalian semua tak menginginkan aku adiyasa bersatu! Apa salah kami dan dosa apa cinta kami!!" teriak Tita tak terkontrol.


Adiyasa menggenggam tangannya kuat.


"Lalu apa maumu? Apa kalian ingin menghancurkan dan membunuh keluarga kalian?!" hardik Pram emosi.


Adiyasa menatapnya nanar. Ia merasa dirinya begitu egois.


"Kakek minta kalian berpisah dan ini semua demi kebaikan kalian, aku kakek mu dan aku ingin yang terbaik demi kebaikan kita bersama!" Dadanya terasa sakit. "Akh..."


.


Adi dan Tita terkejut. Keduanya bangkit dan menghampirinya.


"Kakek....!" tangis Tita.


"Kakek kenapa?" sergah Adiyasa takut.


"Bersumpahlah..." pinta Pram menahaan sakit.


Tita menejamkan matanya kuat, "Iya...iya Kek..." ucapnya terpaksa. Ia sangat menyayangi Pram dan tak sanggup untuk kehilangan dirinya.


"Baik," bisik Adi.


Adiyasa membawa hati Tita pergi bersamanya.


Di perjalanan ia menitikkan air mata. Apa lagi kini yang tersisa di hatinya? Tak ada. Kini ia benar-benar terpuruk.


Tita merasakan hal yang sama. Hatinya dingin. Ia mendekap tubuhnya di atas ranjang. Air matanya kini sudah mengering.


Indri kembali menghubungi Adiyasa. Adi menjamah ponselnya dan mengangkat panggilan itu, "Iya," jawabnya.


"Mas di mana? Aku telpon sejak tadi tapi Mas nggak ngangkat."


"Aku sedang ada urusan. Ada apa?" tanya Adi dingin.


"Oh, nggak. Aku cuma ingin telponan saja denganmu. Nggak apa-apa kan?"


"Maaf Indria, aku sedang ada di jalan. Besok saja kita sambung."

__ADS_1


Indria terkejut Adi menutup pembicaraan mereka begitu saja. Ia mengingat-ingat kesalahan apa yang sudah di perbuatnya pada pria itu, "Mas..."


Bersambung...


__ADS_2