Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Siasat Rindu


__ADS_3

22.00 wita:


"Lepaskan!" teriak Rindu meronta dalam pelukan pria botak bertubuh kekar dengan tawa mengerikannya. Keadaan jalanan yang tak jauh dari hotel Fathillah sudah cukup sepi. Rindu terus meronta ketakutan hingga Rangga tiba menggunakan mobilnya  "Pak tolong saya!" teriak Rindu.


"Lepaskan dia!" ucap Rangga geram menunjuk wajah pria itu seraya menutup pintu mobilnya.


Pria itu pun melemparkan tubuh Rindu dengan kasar hingga ia terpental di atas aspal.


"Kurang ajar! Kamu berani merusak kesenanganku!!" sergah Pria itu murka.


Duel sengit terjadi antara Pria botak itu dengan Rangga . Berkali-kali Rangga berhasil menghajarnya dan pria itu berkali-kali berusaha membalas. Rindu lantas mencari sesuatu yang bisa membantu Rangga. Ia mendaratkan satu pukulan balok kayu di pundak pria botak itu hingga ia tergeletak tak berdaya.


Rangga melotot. Wanita itu melepaskan balok kayu di tangannya dan menarik Rangga menuju mobil.


"Bapak akan mengantar saya pulang?" tanya Rindu dalam perjalanan.


Rangga tak menjawab. Ia nampak kacau akibat perkelahian itu.


"Saya minta maaf....saya sudah merepotkan anda." Rindu berpura-pura bersedih dengan nada melemah.


"Sudah," celetuk Rangga, "Jangan bicara lagi."


Rindu lantas diam seribu bahasa. Diam-diam ia tersenyum.


Keduanya tiba di kost an Rindu. Wanita itu segera melepas sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil, "Sssst," ringisnya kesakitan ketika mencoba mengangkat kakinya untuk berpijak pada aspal.


"Kamu bisa?" tanya Rangga khawatir. Ia menengok lutut Rindu yang bersimbah darah.


"Bisa, Pak."


Rindu bangkit namun saat berdiri ia terjatuh kembali, "Aw...ya Tuhan...." ringisnya.


Rangga tak tega dan segera turun dari mobil, "Lukamu cukup parah," ujarnya. Ia dengan terpaksa menggendong Rindu hingga memasuki kamar kos wanita licik itu. Perlahan ia menidurkannya di ranjang dan melepaskannya sedikit kasar, "Istirahatlah. Besok kamu tak perlu masuk. Aku memberimu izin selama tiga hari."


"Terimakasih, sekali lagi saya minta maaf karena merepotkan anda."


Rangga hanya mengangguk dan meninggalkannya.


"Sial!" pekik Rindu kesal seraya memukul pinggir kasurnya. Ia mengeluarkan botol yang berisi obat perangsang dari saku jasnya. Rangga bertindak demikian karena ia tak ingin berlama-lama berdua dengannya. Sebetulnya Rangga berniat mengobati lukanya akan tetapi suasana kost itu tak mendukung. Ia tak ingin terjadi hal buruk bersama Rindu. Cukup satu kali ia mengkhianati Naya dan tak akan mengulangi kesalahan yang sama lagi.

__ADS_1


..................


Malam ini Adiyasa samsekali tak nampak. Tita tahu jika pria itu pasti sengaja menghindarinya. Adiyasa menghabiskan waktunya di kamar Ilyas. Ia mengajar sang adik karena Ilyas akan menghadapi ulangan esok hari. Secara tak sadar keduanya tertidur di atas karpet usai belajar online pada posel mereka. Sementara itu Naya resah menunggu kepulangan Rangga. Berkali-kali ia keluar dari kamar dan menengok ke arah pintu. Perasaannya tak menentu. Ia sudah menghubunginya akan tetapi tak ada jawaban.


"Sayang...." ucap Rangga di ambang pintu. Ini seperti keajaiban bagi sang istri. Naya berlari menghampirinya dan langsung menjatuhkan diri kedalam pelukannya.


"Hiks...."


Rangga berusaha menengok wajah Naya, "Sayang, kok nangis sih?"


"Hiks..aku takut Mas tak kembali...."


Rangga membelai kepalanya dengan lembut. Ia yakin jika Naya mendapat firasat yang buruk dengan apa yang terjadi tadi...


"Sayang, Mas laper," candanya tiba-tiba.


Naya pun menengok dan menyentuh wajah suaminya itu, "Mas laper? Aku sudah sediakan makanan di kamar. Aku basuh kaki Mas dulu terus berbaring di ranjang. Aku akan menyuapi Mas dan memijiti kaki Mas."


Naya kasihan dengan keadaan sang suami yang nampak begitu lelah dan lusuh.


Untuk membuat hati Naya tentram terpaksa Rangga menuruti keinginannya, padahal Naya juga terlihat sangat letih.


....................


Rindu terpaksa memberinya sejumlah uang.


"Kok cuma segini?! Kurang!"


Rindu melotot, "Maumu segimana? Ini sudah lebih dari cukup!"


Pria itu pun mendorong tubuhnya ke dalam kamar dan mencoba menidurinya. Rindu berontak dan menendang *********** dengan lututnya yang terluka.


"Awwww! Sialan!!" berang pria itu tertunduk menahan rasa sakit.


Terlunta-lunta wanita itu mengambil sapu dan memukulnya secara membabi-buta, "Sialan! Ini pantas untukmu! Keluar! Keluar dari kamarku!!" teriaknya hingga teman kost nya terbangun di kamar sebelah dan keluar dari kamar mereka.


"Dia mencoba menodaiku!" pekiknya


"Astaga! Tangkap dia!" seru Omar kepada semua teman prianya.

__ADS_1


Pria berkepala botak itu pun di bekuk dan di bawa ke kantor polisi. Rindu putar otak agar kelicikannya bersama pria itu tak terbongkar di hadapan pihak kepolisian. Dengan berderai air mata ia menjelaskan kronologis penyerangannya di tengah jalan hingga lututnya terluka akibat pria itu yang ingin melakukan pelecehan seksual padanya, "Dia belum puas Pak dan mengikuti saya hingga ke kost. Dia lagi-lagi ingin memperkosa saya...hiks..."


"Bohong, Pak! Dia menyuruh saya melakukan semua itu untuk menggaet bosnya dan saya hanya meminta bayaran setimpal padanya," ucap pria itu mebela diri.


"Apa dengan mencelakai diriku seperti ini?!" Rindu menunjukkan kedua lututnya yang terluka parah, "Bos saya menjadi saksi, Pak. Beliau yang membantu saya ketika di serang.."


Polisi akhirnya menghubungi Rangga untuk meberikan kesaksian. Rangga mendatangi kantor polisi bersama Naya.


"Apa benar anda adalah bos dari nona Rindu?" tanya penyidik.


"Iya," jawab Rangga.


"Apa benar saat kejadian pelecehan di jalanlan yang tak jauh dari hotel Fatahillah anda menolong nona Rindu ketika hendak di lecehkan?"


"Benar, Pak. saya memang menolongnya dari pria itu ketika dirinya hendak di lecehkan. Saat itu saya baru saja keluar dari hotel dan memergoki keduanya."


"Lalu setelah itu anda dan nona Rindu kemana?"


"Saya mengantarnya hingga kost nya dan lantas meninggalkannya."


"Setelah itu?"


"Tak ada lagi," tadas Rangga.


Polisi mengambil kesimpulan jika ini murni kasus percobaan pemerkosaan. Polisi juga menanyakan pria berkepala botak itu kepada teman-teman Rindu namun mereka samasekali tak mengenalnya dan tak pernah bertemu sebelumnya. Akhirnya pria itu di jebloskan kedalam penjara. Rindu lega karena lolos dari perkara ini.


Naya melihat ada yang ganjil dari Rindu. Ia tak sepenuhnya percaya terhadap wanita itu.


"Kenapa, Sayang?" tanya Rangga tanpa menoleh karena ia sedang menyetir.


"Apa Rindu sebelumnya menampakkan gelagat yang aneh terhadap, Mas?"


"Maksudmu?"


"Apa dia pernah mencoba mendekati Mas Rangga?"


Rangga tersenyum, "Nggak lah, Sayang....dia mana berani sama Mas."


Naya terus berpikir keras. "Aku hanya sedikit curiga padanya. Aku tak percaya dia itu wanita baik-baik."

__ADS_1


Rangga menarik telapak tangannya, "Jangan khawatir. Aku takkan pernah memberikan ruang bagi wanita manapun untuk mencuri hatiku. Hanya Naya Indriani yang mempunya tahta sebagai ratu di kehidupan Rangga Fatahillah," ujarnya menggoda sang istri. Namun kekhawatiran Naya tak lenyap sedikit pun.


Bersambung.....


__ADS_2