Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Puding untuk Adi


__ADS_3

05.00 wita:


Assolatukhoirumminannaum!!


Derap langkah Rangga, Adiyasa, dan Ilyas serta beberapa pemuda terdengar meramaikan jalanan seperti biasanya. Sesekali Rangga menguap. Tubuhnya terasa sedikit letih dan rasa kantuknya hampir-hampir saja mempengaruhinya, tadinya ia akan memutuskan untuk tak sholat berjamaah di masjid. Akan tetapi pahala yang berlipat-lipat dari Allah swt mengalahkan semua itu.


Ketiganya berada di saf depan untuk pertamakalinya. Ilyas menengok kebelakang, ternyata ruangan mesjid masih sedikit lengang.


"Luruskan dan rapatkan saf," pinta Imam di hadapan mereka.


..........................


5.30 wita:


Para pelayan menerima tugas tambahan dari Susan untuk menyiapkan makanan kesukaan Tita. Wanita itu sudah beberapa kali menyambangi kamar Sulaiman akan tetapi sepertinya ia dan Tita belum juga terbangun.


Sedangkan Naya membuat bubur jahe untuk Rangga di dapur. Ia harap setelah memakan makanan ini stamina sang suami kembali pulih.


"Nona," bisik Sasa.


"Ada apa?" tanya Naya tanpa menatapnya. Tangannya dengan gesit mengaduk bubur di atas kompor.


"Ternyata Nona Tita pemalas juga ya? Udah jam segini tapi belum bangun..." bisiknya.


"Hentikan ucapanmu!" sergah Naya menoleh menatapnya, "Jangan banyak bicara mengenai dirinya. Apa ikan bakarnya sudah matang...?!" tanyanya ketus.


"Oh, i-iya Nyonya, saya lihat dulu." jawab Sasa ketakutan. Ia pikir Naya akan mendukungnya karena Tita bukan menantunya,


Rangga dan kedua putranya sudah tiba di halaman rumah. Ia tersenyum melihat Abdulloh yang tengah berolah raga pagi di taman . Ia lantas  meminta Ilyas untuk  menghampirinya.


"Kakek!" teriak bocah itu seraya menyambar telapak tangan Abdulloh. Ilyas lalu mencium tangannya dengan santun.


"Hari ini kamu ulangan kan?" tanya Abdulloh menyentuh puncak kepalanya.


"Iya, Kek. Tolong doakan aku ya. Aku tak mau ketua kelasku berhasil menyaingiku kali ini."


"Tentu, apa kakakmu sudah mengajarimu?"


"Sudah, sampai aku dan Kak Adi ketiduran di karpet."


Abdulloh tersenyum dan merangkulnya, "Cucuku...." desahnya bangga.


"Apa rasa sayang Kakek padaku akan tetap sama kalau nanti Kak Sulaiman punya baby?" tanya Ilyas mendongak menatap wajahnya..


"Tentu saja....." canda Abdulloh, "Memangnya siapa yang selama ini yang bisa menyaingi kasih sayangmu pada Kakek....?"

__ADS_1


Ilyas menarik janggot panjangnya dan berbisik, "Tak ada....kita masuk?" tanyanya bersemangat, "Aroma masakan Mama sudah tercium...."


Anak itu menggandeng tangan Abdullah dan berusaha berhati-hati menuntunnya kedalam rumah.


Sulaiman membuka mata. Ia sedikit terkejut melihat wajah Tita di sampingnya. Ia membalikkan tubuhnya menghadap wanita itu. Jemarinya menyentuh bibir dan dagu Tita dengan lembut, "Aku masih berpikir ini mimpi, Tita? Tapi sekalipun ini adalah nyata....tubuhmu ada di sampingku tapi hatimu berada brsama Adi...." batinnya.


Tita terganggu dan matanya perlahan terbuka. Ia menatap langit-langit kamar itu dan menoleh pada Sulaiman.


"Pagi..." bisik Sulaiman.


Tita seketika bangkit dan menjauh. Sulaiman menggeliat dengan santai kemudian bangkit, "Kenapa?" tanyanya ketus.


Tita menatapnya curiga.


Sulaiman tertawa renyah karena memikirkan pikiran kotor wanita itu terhadapnya, "Aku mandi junub dulu...." candanya.


Sontak Tita terkejut dan menatap bagian bawahnya ketakutan, "Apa yang sudah di lakukannya padaku!" bisiknya. Sulaiman mengambil handuk di dalam lemari dan masuk ke dalam kaamr mandi.


Tiita menoleh menatap kamar mandi itu, "Pria itu sudah melakukannya padaku....?" tanyanya. Ia lekas turun dari ranjang dan membuka celananya, "Huh....cih! Keterlaluan! Dia mencoba menggertakku!" geramnya kesal.


.........................


Di meja makan Tita merasa begitu canggung. Hingga detik ini Adiyasa belum nampak juga. Pria itu bersiap di kamarnya dan turun dengan lambat  sambil mengancing lengan kemejanya di anak tangga. Melihat sosoknya jantung Tita merdetak kencang. Ia berusaha bersikap biasa di hadapan seluruh keluarga, akan tetapi Sulaiman dapat melihat dengan jelas jika wanita ini panik dan resah.


"Ya, Nek?"


"Harusnya kamu sendokkan terlebih dahulu nasi untuk suamimu," selanya ketika Tita terlebih dahulu menyendok nasi untuk dirinya.


Tita tak ngeh. Ia tak mengerti ucapan Susan.


"Nih," Sulaiman menyodorkan piringnya.


Tita menatap piring itu sejenak.


"Aku ingin nasi merah," pinta Sulaiman.


Dengan terpaksa Tita menuruti kemauannya.


Adiyasa duduk di hadapannya dengan santai. Ekspresi yang ditunjukkannya biasa saja, namun perasaannya saat ini berkecamuk.


"Aku tak suka kol," ucap Sulaiman saat Tita hendak menyendok makanan itu. Tita menatapnya bingung. "Ikan bakar saja," pintanya.


Tita kesal bukan main. Ia merasa menjadi babu suaminya sendiri.


"Tolong tuangkan air," pinta Sulaiman lagi.

__ADS_1


Sekuat hati Tita menuruti permintaanya, "Ada lagi?" tanyanya sinis.


"Terimakasih, Sayang.  Aku beruntung memiliki istri seperti dirimu," sela Sulaiman. Karena amarah dan dendamnya pada Adiyyasa dan wanita ini ia berusaha membuat keduanya tak nyaman.


"Fitting bajunya hari ini. Kita berangkat bersama. Indria dan Mamanya akan sampai pukul 1. Jangan sampai telat, Nak," pinta Naya.


Perasaan Tita sakit bukan main mendengar kalimat itu dari Naya.


"Iya, Ma. Aku takkan lupa," jawab Adiyasa. Sedikitpun matanya tak ingin melihat wajah Tita.


...........................


Tengah hari:


Tita senang Susan menyiapkan galeri untuknya melukis di ruangan samping rumah di  halaman depan. Bahkan Susan memberinya ruangan yang sangat luas dengan dekorasi yang di sukai cucu mantunya itu. "Apa ada hiasan yang kamu inginkn untuk di pajang?" tanyanya menatap pekerja yang sedang mendekorasi ruangan itu


"Sofa yang lebih besar karena aku akan menghabiskan kebanyakan waktuku di sini."


Wanita ini ternyata belum sadar jika dia sudah menjadi seorang istri, batin Susan kecewa. Tita seolah menganggap dirinya masih dalam keadaan lajang hingga ia tak berpikir melakukan sesuatu untuk Sulaiman atau untuk rumah ini.


Ia tiba-tiba kepikiran ingin membuatkan puding susu untuk Adiyasa, seingatnya pria itu sangat menyukainya. " Aku kedalam dulu, ada yang ingin aku lakukan," ucapnya tiba-tiba.


"Baiklah," angguk Susan.


Untuk pertamakalinya Tita menginjakkan kakinya di dapur, dan ini hanya karena Adiyasa yang seharusnya ia lakukan karena Sulaiman. Ia melihat-lihat wajan kecil bergagang yang tergantung.


"Anda mencari apa?" tanya Kiran, seorang pembantu.


"Aku mau buat puding, biasanya pakai yang mana?"


"Oh, yang ini," ucap pembantu itu sembari mengambil wajan di hadapannya. "Anda akan membuat apa?"


"Puding susu. bahannya ada kan?" harap Tita.


"Ada, Nona. Biasanya Nyonya Naya membuatnya untuk Tuan Adiyasa. Apa Nona mau menggunakan yang itu?"


Memang ini yang diinginkan Tita. Senyum tipis terukir di wajahnya, "Ya, itu saja," pintanya.


Kiran berpikir jika Tita akan membuatnya untuk Sulaiman. Ia tak menaruh kecurigaan sedikit pun.


Tita mulai mencamput bahan puding itu dengan dua gelas susu low fat dan memasaknya dengan api kecil. Ia sangat berharap Adi menyukainya.


Ia mengambil sebuah wadah berbentuk kucing dan menuangkannya lalu memasukkannya kedalam kulkas. Tanpa mengatakan jika ini adalah buatannya ia yakin Adi tahu dirinya yang membuat makanan ini


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2