
"Jangan, Kak....." desah Tita
"Jangan kenapa....sudah kepalang basah...."
Tita mulai menangis dan kian berontak. "Aku nggak siap...tolong jangan!" teriaknya.
Sulaiman terkejut dan lantas melepaskannya. Ia menatap wanita itu tak habis pikir.
"Aku nggak siap...." bisik Tita.
Sulaiman mendekat dan menyentuh lengannya. "Kenapa?"
"Aku tak menginginkan ini Sulaiman! Aku tak menginginkanmu!"
"Kenapa?! teriak Sulaiman. "Aku suamimu sekarang!"
Tita terkejut dan mundur. Ia akan mengatakan yang sesunguhnya pada pria ini.
"Aku sudah menjadi milik Adiyasa."
"Maksudmu?"
"Aku sudah menyerahkan diriku padanya. Aku tak bisa melakukan ini denganmu..."
Sulaiman bagai di sambar petir. Ia surut dan menjatuhkan dirinya di tepi ranjang. Ini semua di luar dugaannya. Istri dan adiknya telah menghancurkan mimpi-mimpinya.
"Maaf...aku tak mampu menjalani semua ini denganmu...hiks..."
"Tutup mulutmu!" sergah Sulaiman tertunduk dengan mata memerah. "Ucapanmu menjijikan dan aku tak ingin mendengarnya lagi!
Ia bangkit menuju balkon dan berteriak sekeras-kerasnya. Tita ketakutan dan tubuhnya kaku dengan tangisan yang perlahan mereda.
Malam ini naas bagi keduanya. Sulaiman memutuskan untuk tetap di balkon itu, sedangkan Tita duduk bersandar pada ranjang hingga pagi tiba.
....
09.00 wita:
__ADS_1
Sulaiman membersihkan diri dan Tita menyusul.
"Kamu mau kemana?" tanya wanita itu bingung sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk
"Kita pulang hari ini. Aku tak tahan berlama-lama di tempat ini. Cepat bereskan barang-barangmu," tandas Sulaiman ketus.
Tanpa izin meski satu kalimat kepada Rangga keduanya meninggalkan hotel. Dalam perjalanan tak satu kata yang terucap.
Sulaiman tiba-tiba menepi dan menghentikan mobilnya, "Dengarkan aku, aku ingin kamu tak memberitahukan semua yang terjadi pada keluargaku. Ikuti semua ucapan dan permainanku," pintanya.
Tita tak mengerti dengan ucapannya. Ia tersenyum sinis tak habis pikir, "Kenapa kamu tak langsung men talakku? Semuanya sudah jelas dan kita bisa berpisah detik ini juga."
Sulaiman kian berang namun ia berusaha meredam emosinya sekuat hati, "Aku tak akan pernah dan takkan pernah melepaskanmu seumur hidupku, kita akan menjalankan pernikahan ini sesuai keinginanku!"
"Tak bisa...tak bisa seperti ini. Apa kamu akan menjadikanku boneka mainanmu? Aku takkan mau mengikuti permainan kotormu ini!" tandas Tita emosi.
Sulaiman tersenyum dan geleng kepala, "Lalu apa maumu? Kamu akan melakukan hal gila lagi dengan membunuh satu per satu kelaurgamu dan keluargaku? Di mana pikiran dan hati nurani mu!"
Tita bungkam. Ia tak bisa lagi menyela ucapan Sulaiman.
Sulaiman kembali ke posisi duduknya dan menyalakan mesin mobilnya.
Rangga menerima laporan jika Sulaiman dan Tita meninggalkan hotel. Ia terkejut dan mencoba menghubungi keduanya aka tetapi ponsel Tita dan Sulaiman di matikan, "Apa sebenarnya yang terjadi?" bisiknya.
Adiyasa juga mendapatkan laporan yang sama. Ia yakin jika sesuatu hal yang buruk telah terjadi antara Sulaiman dengan Tita.
Sesampainya di rumah seluruh keluarga yang tengah bercengktama di ruang tamu langsung bangkit. Tita dan Sulaiman berusaha membuat mimik wajah ceria saat mereka turun dari mobil.
"Apa ini!" tanya Susan. Ia dan yang lainnya mendekat, "Kenapa kalian pulang secepat ini?"
"Kami ingin menjalani bulan madu bersama keluarga," jawab Sulaiman tersenyum. Ia memeluk Tita dengan mesra, "Bukan begitu Sayangku?"
"Tita melotot dan terpaksa menjawab ya sambil tersenyum.
Keluarganya masih kebingungan. Akan tetapi masuk akal juga dalih keduanya.
"Ayo kita masuk! Ceritakan bagaimana malam pengantin kalian berdua semalam," canda Rosi jahil.
__ADS_1
Tita terlihat kikuk dan tak tenang hingga membuat Rosi dan yang lainnya tertawa ceria.
Kamar Sulaiman lumayan sempit bagi sang istri. Tita memperhatikan ranjang Sulaiman yang sangat mungil. ia berpikir jika tidur berdua dengan pria ini akan terasa sangat sesak dan tak ada sekat untuknya.
"Kenapa?" tanya Sulaiman sinis. "Kamu tak suka tempat ini?"
"Kamarmu terlalu sesak. Apa tak ada kamar lain yang bisa di tempati?"
Sulaiman mendekat dan menjamah pundaknya. Tita melotot, "Aku sengaja. Ini supaya kita semakin dekat hingga tak ada jarak sedikitpun," bisiknya sinis. Ia kemudian melepaskan Tita dan kembali memasukkan baju-bajunya kedalam lemari.
Ini semua tak benar bagi Tita. Dalam pikirannya pria ini sudah membencinya, tetapi kenapa dia masih mempertahankan pernikahan ini? Apa sebenarnya rencana pria ini terhadapnya....?
Tita keluar dari kamar itu dan menatap pintu kamar Adiyasa. Sedikit perasaan bahagia terselip di dadanya. Kini ia dan Adiyasa tinggal dalam satu atap dan dirinya bisa melihat wajah peria itu setiap saat.
"Aku takkan membiarkanmu memiliki kesempatan bersama dengannya," bisik Sulaiman di telinganya. Tita terkejut dan berbalik. Sulaiman menyentuh bibirnya dan mengecupnya, "Aku akan berusaha untuk merebut hatimu dari adikku, Sayangku...."
Tita kesal dan menyingkir kembali kedalam kamarnya.
Kamar Susan:
"Jadi mereka tak memberitahukan kepergian dari hotel?" tanya Susan tak menyangka.
"Ya, Ma. Ponsel keduanya pun mati. Apa Mama melihat sesuatu yang ganjil dari keduanya?" tanya Rangga mondar-mandir di depan jendela kantornya. Rindu sesekali menatapnya dan mendengarkan dengan sesama sembari membereskan file-file di atas meja.
Susan berpikir sejenak, "Mama tak menemukan sesuatu yang ganjil. Tapi Mama akan mencari tahu kebenaranya."
"Baiklah. Terimakasih Mama menghubungiku."
Susan menutup poselnya. Ia lantas menghubungi Joana, salah-satu pelayan di rumah itu dan memintanya segera menemuinya.
"Ada apa, Nyonya?" Joana berharap ia tak melakukan kesalahan.
"Aku ingin kamu memata-matai Tita dan Sulaiman. Beritahukan padaku apa yang di lakukan keduanya. Jangan lewatkan momen apapun yang terjadi antara mereka dan segera laporkan padaku. Ingat, ini hanya antara diriku denganmu. Jangan sampai Tita da cucuku mengetahui hal ini ataupun siapapun itu. Mengerti?"
"Iya, Nyonya. Saya mengerti. Saya takkan melakukan kesalah sedikit pun.
"Keluarlah," angguk Susan.
__ADS_1
Bersambung...