
Abdulloh melepas kacamata dan buku yang di bacanya. Rangga dan Adiyasa memberanikan diri untuk masuk mendekat. "Pa, aku ingin membicarakan sesuatu."
Abdulloh tanpa basa-basi mempersilahkannya duduk.
Rangga mengutarkan maksud kedatangannya. Abdulloh meresponnya negatif dan tak menerima penyerahan hotel Fatahillah. Baginya Hotel itu sudah sepenuhnya milik Rangga dan ia tak memiliki hak atasnya lagi
"Aku tak bisa mengelolanya lagi. Aku merasa tak pantas," ucap Rangga ragu.
"Terserah, bagiku hotel itu sudah menjadi milikmu dan aku tak berkeinginan menerima atau mengelolanya lagi". Sebagai seorang ayah ia masih memiliki rasa kasih sayang dan tak mungkin ia menghukum Rangga berlebihan seperti itu. Apalagi ia tahu jika putranya ini tak mengetahui perkara Adi dan Tita. "Pergilah. Aku harus beristirahat." Ia bangkit dari kursinya dan meninggalkan ruangan itu.
Rangga paham dengan isi hatinya. Ia sudah bisa menebak jika Abdulloh tak kan mau menerima pengembalian hotel miliknya.
"Kita jangan menekan Kakek, Pa. Ini akan lebih mengganggu pikirannya," saran Adi.
__ADS_1
Susan menunggu dengan sabar di ruang tamu. Rangga dan Adiyasa menghampirinya dan berucap apa yang di ucapkannya kepada Abdulloh, "Aku serahkan pada Mama karena Papa tak mau menerimanya," ujar Rangga. "Besok surat-suratnya akan aku bawa."
"Tentu, dengan senang hati aku menerimanya karena kamu apalagi putramu ini tak pantas menerimanya," tandas Susan.
"Baiklah, kami permisi," pinta Rangga. Ia ingin sekali untuk terakhir kalinya merasakan pelukan dari Susan, tetapi itu sangat mustahil ia mendapatkannya.
Susan tak peduli dengan tanggapan Abdullah. Apa yang di lakukan Rangga sudah tepat baginya.
.......................
Rangga berniat membeli tanah yang di jual di sekitar kawasan itu untuk membangun hotel sederhana. Naya sangat mendukungnya dan terus memberinya kekuatan. Hingga 5 bulan berselang hotel itu berdiri tegap. Tak butuh waktu lama untuk menarik pengunjung. Hotel itu mulai di kenal luas karena bentuk arsitekturnya yang mewah walau sederhana dengan fasilitas serta pelayanannya yang tak kalah dari hotel kelas kakap.
Acara pernikahan Adiyasa dan Tita mulai di rancang. Pernikahan itu akan di buat besar-besaran. Mendengar hal itu dari kabar angin Sulaiman sudah mengikhlaskannya dan tak menaruh amarah lagi. Kini ia pun sedang menjalin hubungan serius bersama Cita. Dan Indria, ia memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Eropa. Ia ingin melupakan semua kenangan bersama Adiyasa di kota ini.
__ADS_1
...
Minggu, 3 October:
Segala puji dan syukur terucap dari bibir Adiyasa setelah ia mengucapkan ijab kobul. Tita tak dapat membendung air matanya yang terus mengalir.
"Jangan ada air mata lagi," bisik sang suami menghapus wajah cantiknya.
"Aku menangis bahagia, Mas. Aku bahagia dan bersyukur kita kini telah bersatu."
Adiyasa mengecup puncak kepalanya seraya mendoakannya.
Alunan solawat dan rebana mewarnai langkah keduanya keluar dari ruangan ijab kobul menuju taman. Rumah keluarga Pram sangat sesak dan riuh karena tamu undangan bukan hanya dari kalangan tetangga dekat melainkan seluruh keluarga besar Pram dari kampung halamannya. Abdullah dan Susan yang ikut hadir karena terpaksa. Adi kecewa karena Sulaiman tak hadir. Baginya sampai kapan pun Sulaiman akan tetap menjadi kakaknya.
__ADS_1
Tamat