
"Dia tampan sekali kan?"
"Matanya seperti matamu.." ucap Adiyasa tertawa kecil
"Ini Mama dan Papa sayang...." bisik Tita sambil menyentil pipi bayi itu.
Di luar ruangan bersalin situasi tegang dan panas. Sulaiman akhirnya berkata yang sesungguhnya tentang kenyataan jika Adiyasa lah ayah biologis bayi yang di lahirkan istrinya. Ia sudah tak bisa berbohong lagi dan tak tahu alasan apa yang harus ia kemukakan saat seluruh keluarganya bertanya-tanya mengapa Tita bisa melahirkan lebih cepat. Di samping itu pula ia merasa tak kuat menerima anak dari hasil perselingkuhan istrinya. Liana hampir jatuh pingsan dan Pram berusaha menguatkannya dengan pelukan, sedangkan Indria menangis dalam pelukan Max. Naya dan Rangga begitu terpukul dan terluka. Pram sangat meneyesal karena dulu memaksakan kehendaknya pada Tita dan Adiyasa. Dan Angga...ia berdiri mematung. Rasanya ia ingin masuk kedalam runag bersalin itu dan menghukum Tita.
"Ini penipuan!" geram Max.
"Aku ingin pulang Pa....aku tak ingin di sini.....!" pinta Indria histeris. Ibundanya pun tak tahan lagi berada di tempat itu....
"Ayo Pa. Kita pulang! Kita bawa putri kita ke rumah kita!" sergah Prisil menangis.
"Max...." panggil Rangga mengiba.
"Sudah.....!" sergah max mengangkat telapak tangan kanannya, "Hubungah kita terputus sampai di sini..."
Tangisan Naya semakin keras. Rangga menarik dan memeluknya dengan erat."Ya Allah apa ini....?" tanyanya tak mengerti.
Max dan Prisil akhirnya pergi dengan membawa Indria. Di dalam mobil tangisan Indria kian kencang. Melihat keadaan putrinya Max memintanya untuk segera berpisah dengan Adiyasa. Indria menyesal kenapa ia harus menikahi pria pembohong dan kotor seperti Adiyasa....
Susan dan Abdulloh kecewa dan marah kepada Rangga dan keluarganya. Ini adalah suatu kesalahan dan dosa besar di matanya. "Aku tak mau di sini!" pinta Susan murka. Ia mengajak Abdulloh dan putranya Ilham juga Sulaiman enyah dari tempat itu. Melihat kepergian mereka Rangga hancur....
"Pa....jangan marah sama Kak Adi....kasian kakak ku...." tangis Ilyas menggoyang-goyangakn ujung jasnya.
Rangga pun menariknya kedalam pelukannya.
Adiyasa membawa keluar putranya. Ia terkejut mendapati keadaan seluruh keluarganya menangis. "Ada apa ini?" tanyanya bingung.
Liana sebagai seorang nenek tak tega jika harus memarahi atau mengutuknya. Ia segera mendekat melihat bayi itu, "Buyutku...." bisiknya menangis.
Naya pun lantas melepaskan diri dari Rangga dan menegok cucunya. Senyuman dalam tangisnya terukir dan itu membuat Adiyasa tak tahan, "Kenapa, Ma? Apa yang terjadi?"
Naya tak menjawabnya dan mengambil bayi itu. Ia mendekatkannya pada sang suami, "Cucu kita, Mas..."
Kasih sayang seorang ayah dan kakek lebih dominan di rasakan Rangga di bandingkan dengan amarahnya. Ia pun luluh dan mencium kening bayi tak berdosa itu.
"Nek...sebenarnya apa yang sudah terjadi? Kenapa semua orang menangis?"
"Kami semua sudah tahu jika anak itu adalah anakmu bukan anak Suaiman," sergah Liana.
"Benarkah?" tanya Adiyasa dengan tatapan nanar..
__ADS_1
"Ini semua kesalahanku...aku yang berdosa dalam hal ini," ucap Pram bersedih.
Liana menatapnya bingung.
"Andai dulu aku tak memaksa cucu kita meneruskan pernikahan mereka ini semua takkan terjadi."
Sementara itu Angga masih diam mematung.
"Aku minta maaf. Aku siap menerima hukuman apapun dari kalian," pinta Adiyasa.
Angga pun mendekat padanya dan tiba-tiba memeluknya. "Ini kesalahan Papa, kami sebagai orang tua yang bersalah."
Perkara itu terkuak dan tuntas keesokan harinya. Susan pun meminta Rangga membawa keluarganya pergi dari rumahnya karena ia tak bisa menerima pengkhianatan Adiyasa terhadap cucu kesayangannya Sulaiman. Rangga menerimanya dengan ikhlas dan tak menaruh dendam sedikitpun. Ucapan talak juga sudah di ucapkan Sulaiman melalui sambungan telepon. Liana bersikeras meminta Rangga tinggal bersamanya di rumahnya. Angga tak keberatan dan Pram menyambutnya dengan tangan terbuka.
"Aku akan kembalikan hotel milik papa," ucap Rangga usai mandi masih dengan mengenakan baju handuknya.
"Aku rasa itu hal yang benar. Aku juga tak enak hati jika kita tak memulangkan apa yang tak pantas menjadi kita miliki," balas Naya sembari membantunya mengeringkan telinganya menggunakan handuk.
Tok! Tok! "Rangga! Naya! Kita sarapan dulu!" panggil Liana.
Naya bergegas membukakannya pintu.
"Kita sarapan dulu. Mama sudah memasak spesial untuk kalian," ucap wanita tua itu tersenyum ceria.
Tita membawa putranya ke meja makan. Adiyasa menyusul dan duduk di seberangnya. Angga menatap wajah bayi itu dan ia merasa aneh karena bayi itu terlalu mirip dengan Adiyasa. Tanpa sadar tawanya keluar, "Heh...."
"Kamu kenapa?" tanya Pram. Ia melipat korannya lalu mengambil secangkit kopinya.
"Putra Tita mirip sekali dengan Adiyasa."
Pram pun tersenyum geli seraya menyeruput kopinya.
Naya dan Rangga duduk di samping Adiyasa dan Ilyas. Melihat Liana kerepotan seorang diri membawa masakannya menuju meja makan Naya pun bangkit dan membantunya.
"Mama saja, Nak. Kamu duduk saja," pinta Liana saat Naya mengambil semangkuk sup dari tangannya.
"Tak apa, harusnya aku juga membantu Mama membuat sarapan."
"Baiklah," jawab Liana senang.
Setelah sarapan itu seluruh keluarga berkumpul di ruang kerja Pram. Ilyas hari ini pun libur dari sekolahnya agar ia tahu rencana keluarganya selanjutnya.
"Apa rencanamu selanjutnya Adi?" tanya Pram.
__ADS_1
"Aku sudah mentalak Indria sesuai keinginannya semalam. Ia mendesakku untuk menceraikannya."
Tita tersenyum. Kebahagiaan yang selama ini ia impikan akhirnya dapat ia rasakannya kini.
"Lalu apa rencanamu selanjutnya?"
"Aku akan menikahi Tita setelah proses perceraiannya selesai."
"Sebelumnya aku memohon maaf," sela Rangga. Seluruh keluarga menatapnya. "Kami akan mencari rumah baru. Aku tak ingin merepotkan Mama dan Papa. Adiyasa dan Tita pun belum memiliki ikatan jadi menurutku ada baiknya kita tak tinggal bersama."
Liana samasekali tak setuju. Selama dua hari ini ia tinggal bersama anak dan menantunya itu ia mersa lebih tenang dan bahagia, akan tetapi Pram setuju dengan keputusannya pun dengan Angga sebagai seorang ayah.
"Keputusan Rangga sudah benar. Tak baik jika Tita dan Adiyasa tingga dalam satu atap. Ini akan menjadi polemik baru karena jika di ketahui warga sekitar tentang keadaan ini merekak takkan terima," tukas Pram.
"Baiklah, tetapi kalian harus berjanji nanti saat ikatan pernikahan Adiyasa dan Tita terjadi kalian akan kembali ke rumah ini," desak Liana kepada Rangga dan Naya.
"Kami berjanji," ucap Rangga.
Tita menoleh menatap Adiyasa, "Aku ingin kamu sering mengunjungi kami," pintanya pada pria itu memelas.
Adiyasa tersenyum ragu, "Iya, tentu saja aku akan sering menemui kalian."
Rapat itu usai. Rangga dan Adiyasa memohon pamit untuk menyelesaikan urusannya dengan Abdulloh sekaligus mencari kontrakan baru sebagai tempat tingga sementara.
..................................
Kediaman Fatahillah:
Susan memasang wajah buram tatkala Rangga dan Adiyasa turun dari mobil mereka. Ia samasekali tak mengharapkan bertemu dan melihat wajah Rangga dan Adiyasa lagi. Ia bangkit seraya mengehempaskan majalah di tangannya ke atas meja.
"Assalamualaikum, Ma," sapa Rangga.
"Ada apa kalian kemari?" tanyanya ketus.
"Kami ingin membicarakan sesuatu dengan Papa,"
"Suamiku sedang beristirahat!"
"Kami tak menginginkan apapun. Kedatanganku dengan Adiyasa untuk menyerahkan Hotel Fatahillah kepada Papa.
Ijinkan kami bertemu dengan Papa sejenak. Ini untuk terakhir kalinya kami datang," pinta Rangga halus.
Susan tak mengira hal ini. Dengan ragu ia pun mengizinkannya.
__ADS_1
Bersambung....