Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Rasa sakit Tita


__ADS_3

13.00 wita:


"Itu Tita?" tanya Indria menengok Tita di luar rumah kepada Naya. "Apa yang sedang dilakukannya?"


"Dia sedang memotret bunga untuk objek lukisannya."


Tita masa bodo dengan kehadirannya. Ia samasekali tak ingin menyapa Indria.


Adiyasa yang  di tunggu akhirnya tiba. Ia turun dari  mobilnya dan menatap Tita sejenak lalu berpaling.


"Ayo kita berangkat," pinta Naya kepada Indria dan ibunda gadis itu.


Tita meradang melihat kepergian mereka. Ia cemburu bukan main. Ia mencoba untuk tak emosi. Hatinya sudah sangat lelah dengan rasa sakit yang selama ini ia rasakan, "Jangan begini Tita....kamu harus kuat untuk dirimu...." batinnya seraya mengambil nafas berkali-kali untuk menetralisir rasa cemburu di hatinya.


Adiyasa dan Naya kembali saat azan magrib.... Adiyasa merasa lega karena persiapan pernikahannya sudah rampung. Tak ada potro prewed seperti yang dilakukan Sulaiman dan Tita karena ia dan Indria tak menginginkan hal itu. Kini tinggal dekorasi rumah yang akan sepenuhnya di lakukan oleh Naya.


.................................


24.00 wita


Tengah malam Adiyasa terbangun, ia merasa lapar dan menginginkan sesuatu yang manis-manis. Ia membuka bajunya dan berjalan keluar dari kamar. Langkahnya terhenti di pertengahan anak tangga. Ia secara tak sengaja bertatapan dengan Tita ketika wanita itu baru saja keluar dari kamarnya. Jantung mereka berdetak kencang. Adi buru-buru berpaling dan kembali berjalan menuju dapur. Ia lantas membuka kulkas dan sedikit tersentak melihat puding susu dengan wadah miliknya dulu, "Wah, siapa yang membuat ini?" tanyanya tersenyum. Ia menjamahnya dan memperhatikannya dengan teliti.


"Itu buatanku," ucap Tita halus.


Senyuman Adiyasa memudar seraya menoleh, "Oh, maaf. Aku pikir ini buatan Mama ku," balasnya kikuk.


"Tapi aku membuatkannya untukmu...."


Adiyasa terdiam dan menatapnya lekat.


"Sulaiman tak mungkin menyukainya dan aku membuatkannya untukmu karena hanya itu yang bisa kumasak." Matanya berkaca-kaca dengan hati yang terasa perih. Ia tahu ini salah tetapi semua ini di luar kehendaknya karena rasa cinta yang mendorongnya melakukan semua ini.


Adiyasa kembali menaruh makanan itu pada tempatnya.. Ia tak ingin ada perselingkuhan lagi antara dirinya dengan wanita ini.


"Maaf, aku akan kembali kekamar," bisiknya.


Saat ia melangkah keluar dari dapur Tita menarik lengannya dan memeluknya. Kesabarannya memendam rasa rindunya sudah benar-benar tak bisa ia tahan lagi....


"Tita jangan begini," pinta Adiyasa berusaha mendorong tubuhnya.

__ADS_1


"Aku tak bahagia....." desahnya. "Aku kesakitan dan kian lemah......."


Adiyasa tak tega dan melepaskan kedua tangannya dari tubuh wanita itu.


"Aku mohon biarkan aku memelukmu sejenak....."


Adiyasa menyerah dan ia membiarkan perasaannya mengalir hingga telapak tangannya membelai punggung Tita. Ia semakin mempererat pelukan itu dan Tita kian tenggelam. Kehangatan tubuh pria itu masih terasa sama saat ia dan Adi bercinta dahulu.


Joana merekam kejadian itu dan keesokan paginya ia memperlihatkannya pada Susan. Susan murka dan seketika jantungnya terasa sakit.


"Nyonya...anda tak apa?" tanya Joana ketakutan.


"Tidak, aku tak mengapa, Rahasiakan ini dari siapapun," perintahnya ketus. Ia mengatur posisi duduknya di tepi ranjang dan mengambil nafas...


"Apa saya ambilkan obat untuk Nyonya?"


"Sudah kukatakan aku tak apa-apa. Sekarang keluarlah!"


Nyali Joana menciut dan ia buru-buru meninggalkan kamar itu. Ia masih khawatir dengan kondisi Susan, "Ya Allah...sehatkan Nyonya ku..." pintanya mendongak.


Sulaiman mondar-mandir di dalam kamarnya karena ia sudah tak tahan ingin segera mandi. Tita sudah hampir 1 jam berada di kamar mandi itu. Ia sengaja menggunakan lulur pada seluruh tubuhnya agar kulitnya kian tampak cerah di hadapan Adiyasa. Hatinya berbunga-bunga sekalipun masih terasa sakit. Sang suami beberapa kali mengetuk pintu kamar mandi itu namun ia semakin santai. Ia sengaja melakukan itu untuk memberi pelajaran pada Sulaiman karena sikapnya yang selama ini sangat menyebalkan.


"Sejam lagi...!" jawabnya enteng.


Pria itu melotot dan menggaruk kepalanya.


Tita tertawa puas dan Sulaiman mendengarnya, "Dia mempermainkanku...." sergahnya tak percaya. Untuk membuat Tita kapok ia pun mematikan lampu kamar mandi.


"Kak...kenapa lampunya di matikan...!" teriak Tita kesal.


Sulaiman nyengir. Tita memasang handuknya dan segera keluar. Nafas sulaiman terhenti melihat tubuhnya yang nampak menggairahkan. Ia pun berpaling dan menerobos masuk.


"Pria ini..." sergah wanita itu tak habis pikir. Ia bergegas mengambil dress dan kaus lengan panjangnya dan mengenakannya di ruang ganti.


Dandanannya cukup metereng. ia menggunakan semua alat make up nya dengan maksimal.


"Tumben?" tanya Sulaiman ketika keluar dari kamar mandi.


Tita tak begitu peduli dan tetap menyisir rambutnya.

__ADS_1


"Ada pesta?" singgung sang Suami.


Tita mendesah pendek. Ia berbalik dan berkata dengan tegas, "Apa aku tak boleh seperti ini sekalipun hanya di rumah? Lagipula aku akan pulang sejenak ke rumahku untuk mengambil barang-barangku."


"Siapa yang mengijinkanmu?" hardik Sulaiman, "Kamu tak meminta izin dan ingin berbuat seenaknya di hadapanku?"


Tita menegrnyit, "Memangnya kenapa? Apa memang seperti ini dirimu yang sebenarnya? Kamu bertindak buruk dengan tak mengijinkan seorang anak untuk pulang kerumah kedua orangtua kandungnya sejenak?"


"Aku sudah menghubungi Papa Angga untuk mengirim semua barangmu mengggunakan pic up. Aku akan tetap bertanggung jawab sekali pun pernikahan ini hanya sebuah permainan bagimu!"


Tita bangkit. Ia mendekat dan berucap dengan tegas, "Tak ada maksudku mempermainkan pernikahan ini. Cinta tak bisa di buat-buat di ciptakan atau di halangi. Jika hatiku menolak dirimu itu di luar kuasaku. Aku sudah menunjukkan dengan sikap ku selama ini tapi kamu tak peduli samasekali dan tetap ingin melanjutkan rencana pernikahan ini," tandasnya.


Sulaiman meraih pergelangan tangannya dan menggenggamnya dengan kuat. Rahangnya mengeras dan ia menatap Tita penuh amarah, "Aku bisa saja menggaulimu saat ini...tapi aku masih punya otak untuk tak memaksakan semua itu jadi jaga hatiku...." ia pun melepaskan pergelangan tangan sang Istri dengan kasar. "Siapkan kemejaku," pintanya.


Tita terdiam.


"Kamu tak mau? Apa aku harus melakukan kekerasan?" ancamnya


Karena ketakutan dengan terpaksa Tita mengikuti keinginannya. Diam-diam ia menghapus air matanya saat mengambil jas dan kemeja pria itu di dalam lemari.


"Siapkan kaus kaki dan dasiku." pintanya lagi.


Tita pasrah dan mengikuti keinginannya. Ia mencari-cari benda itu namun tak menemukannya, "Dimana kaus dan sepatumu?" tanyanya dengan suara serak.


"Di luar kamar."


Tita membuka kunci kamarnya dan Adiyasa terlihat sudah berada di meja makan beserta keluarga yang lain.


"Tita...." panggil Sulaiman.


"Iya sebentar," pintanya kesal. Ia menaruh sepatu itu di hadapan kaki sang Suami. Perasaannya terluka karena sikap Sulaiman yang seolah semena-mena terhadapnya, "Ada lagi?" tanyanya ketus namun halus.


"Kamu bisa memasang dasi? Pakaikan di leherku," pintanya lagi.


Ketika mengalungkan dasi itu di leher Sulaiman bibirnya dengan bibir sang suami sangat dekat. Sulaiman memandanginya dan ia berkeinginan untuk menciumnya.


"Sudah," ucap Tita dan menjauh.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2