Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Penetapan hari pertunangan Adiyasa


__ADS_3

Rabu pagi:


Kediaman Pram sudah mulai di hias dengan beberapa pajangan dan lampu di setiap sudut. Liana nampak begitu sibuk memerintah semua tukang dekorasi sesuai keinginannya. Sedangkan Tita seolah tak peduli dan mencurahkan seluruh isi otaknya dengan lukisan-lukisan yang rencananya dua minggu kedepan akan masuk kedalam pameran yang akan di selenggarakan oleh Angga.


"Cantik sekali, Nyonya," puji Leona seraya mendekat.


"Aku ingin acara cucuku menjadi acara tak terlupakan bagi keluarga ini," gumam nya menatap keseluruh penjuru ruangan.


"Tentu, Nyonya. Ini akan menjadi pesta akbar keluarga Pram."


"Tentu. Apa Tita sudah memakan makan siangnya?" tanya Liana seraya menatapnya.


"Belum, Nyonya. Nona masih sibuk dengan lukisannya. Saya sudah beberapa kali menyambangi nya. Tapi saya tak berani menegurnya."


Liana mengangguk. Ia tak ingin memperburuk keadaan dengan memaksa Tita. "Pantau dia. Jangan biarkan dia melakukan hal konyol."


"Baik, Nyonya. Kalau begitu saya lihat keadaannya dulu."


...................


21.00 wita kediaman Max:


Kehangatan begitu terasa. Tak ada sekat antara Rangga dan Max. Mereka berbicara gamblang tanpa ada yang di sembunyikan seolah keduanya memiliki ikatan darah. Adi dan Indria hanya diam mendengar kekonyolan keduanya sedangkan Naya dan Prisil terlibat obrolan ibu-ibu sementara Ilyas asyik menikmati kue yang terhidang.


"Astaga....sampai kapan obrolan konyol Papa ku akan berlanjut? Aku seperti kambing congek di sini," batin Adi.


Sementara Indria merasa sudah tak betah karena sejak tadi hanya diam mematung. Adiyasa sekilas menatapnya dan berinisiatif untuk mengajaknya berbicara, "Kamu semalam aku lihat naik ojek. Kenapa tak pakai mobil atau motormu sendiri?"


Sontak semua mata menatapnya.


"Aku?" tanya Indria.


"Ya, memangnya aku berbicara dengan siapa?"


Indria merengut, "Kamu bisa tidak berbicara halus dan sopan? Kenapa bawaan mu maunya marah terus terhadapku? Sedikit halus bisa kan?"


Adiyasa tersentak. Ia tak mengira wanita ini berkata kasar padanya, "Kamu lupa aku atasanmu?" hardik nya.


Indria melotot, "Tuan, ini di luar hotel. Aku tak punya kewajiban untuk sopan dan bersikap tunduk padamu! Lagipula sekarang posisi kita adakan calon tunangan, kamu masih sadar kan?"


Adi merasa geli. Tiba-tiba ia tertawa lepas, "Hahaha....ternyata selama ini kamu menganggapku seperti itu? Tak sangka aku...."


Indria malu luar biasa.


"Sori," pintanya dengan tawa yang berusaha ia redam, "aku hanya bercanda. Ya, aku tahu hubungan kita seperti itu."


"Trus kenapa ketawa!" bentak Indria manyun.


"Geli aja dengernya."


Kedua ibunda mereka tersenyum.

__ADS_1


"Mirip Tom and Jerry. Bagaimana mau menikah kalau begini?" celetuk Ilyas sambil asyik mengupas pisang di tangannya.


Adi menyentuh kepalanya dan mengusap nya, "Masih kecil ikut obrolan orang dewasa. Emangnya ngerti?"


Melihat itu hati Indria tersentuh.


"Kan Abang yang selalu cerita soal Kak Tita, jadi aku ngerti sedikit-sedikit."


"Tita....?" tanya Indria dalam hati.


"Jadi hari apa Tita dan Sulaiman akan bertunangan?" tanya Max.


"Tiga hari lagi. Persiapannya sudah hampir rampung. Kamu dan keluarga nanti bisa datang kan?" harap Rangga.


"Kalau di undang," canda Max.


"Tentu saja. Kamu adalah bagian dari keluargaku. Kartu undangan untukmu akan di desain khusus," canda Rangga balik. Keduanya kembali tertawa terbahak-bahak.


Hati Indria lega karena ternyata Tita akan melangsungkan pertunangan dengan pria lain. Kecurigaan dan kecemasannya seketika buyar.


"Adi, kamu sudah memutuskan tanggal pertunangan mu?" tanya Max.


"Minggu depan ini."


Indria terkejut bukan main. Rangga dan Naya pun terkejut, "Kamu serius, Sayang?" tanya Naya.


"Iya, Ma. Aku serius. Bukankah lebih cepat lebih baik?"


"Kalau begitu acara pertunangan Adiyasa dan Indria kita adakan setelah acara pertunangan Sulaiman di rumah keluarga ku, setuju?" tanya Rangga bersemangat.


Naya enggan untuk mengangguk namun apa yang sudah di rencanakan dan di katakan suaminya ia tahu pasti itu adalah benar dan terbaik sekalipun ini mendadak. "Aku setuju, Mas," jawabnya.


Rangga tersenyum dan kian terpukau padanya. Max dan Prisil pun mengangguk setuju.


"Mama akan siapkan kartu undangannya. Kita bahas ini besok ya, Nay?" pinta Prisil bertanya.


Naya menyentuh telapak tangannya, "Iya, besok ketemuan di rumah setelah suami dan anak-anak kita pergi bekerja."


Adi tertegun. Hatinya terasa begitu dingin dan mencekam. Hari di mana ia harus menikahi wanita yang samasekali tak ia cintai dan masih asing baginya semakin dekat, "Maafkan aku, Tita...." batinnya merintih.


Rangga menatap jam pada dinding rumah itu dan memutuskan untuk pamit. Max dan keluarga kecilnya mengantarnya menuju depan rumah. Ia dan Max berpelukan sangat erat seolah enggan untuk berpisah.


"Assalamualaikum!" salam Rangga beserta Naya dan kedua putra mereka.


"Wa'alaikum salam!"


"Hati-hati Pa-Ma!" seru Indria.


Rangga dan Naya tersenyum. Adiyasa tersentuh menatapnya.


Sepeninggal Rangga dan keluarganya Indria naik menuju kamarnya. Di dalam kamar itu ia mengambil gaun pesta yang selama ini sudah disimpannya untuk acara spesialnya suatu hari nanti.

__ADS_1


"Cantik, kamu cantik sekali Indria...." pujinya di depan cermin.


Ia berputar-putar bersama gaun itu dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Ia benar-benar merasa begitu bahagia. "Adi...." desahnya.


"Sayang!" panggil Prisil sembari mengetuk pintu. Indria terkejut dan buru-buru ia bangkit lalu menaruh gaun itu kembali kedalam lemari.


"Iya, Ma." Ketika pintu terbuka ia nyengir kuda, "Hehehe, ada apa, Ma? Tumben samperin aku," candanya cengengesan.


Prisil curiga, "Ayo ngapain....?"


Senyum Indria kian mengembang. Ia lantas merangkul lengan ibundanya dan mempersilahkannya masuk. "Duduk dulu," pintanya pada sisi ranjang.


"Kamu tumben seperti ini? Terakhir waktu di tembak kakak kelas mu dulu," goda Prisil.


"Idih, Mama....itu sih cinta monyet. Sekarang beda....."


Prisil mengangguk lalu mencubit pipinya, "Jatuh cinta pada calon sendiri...."


Indria jadi malu dan ia pura-pura menutup wajahnya dengan tangan kanannya, "Mmm malu....."


Tawa Prisil pecah dengan tingkah gemasnya. Ia lantas merangkul sang putri dan menaruh kepalanya pada pundaknya, "Nanti kalau sudah menikah jangan sampai lupakan Mama dan Papa. Sering-sering main kemari...."


Indria lantas memeluk pinggangnya dengan sangat erat. Ia jadi sedih dan hatinya nelangsa. Hari di mana ia harus meninggalkan rumah ini pasti akan tiba cepat atau lambat. Hanya dirinya milik ayah dan bunda nya dan ia ingin selalu ada untuk mereka.


"Tapi satu hal yang harus kamu camkan. Saat sudah menjadi isteri Adiyasa, kamu adalah sepenuhnya miliknya. Surgamu ada padanya....bukan pada Papa dan Mama lagi. Kemanapun ia pergi dan apapun ucapannya kamu harus menurutinya. Dia adalah imam dan satu-satunya pria yang punya tempat tertinggi dalam hidupmu."


"Iya, Ma. Indria paham. Nasihat Mama akan selalu aku ingat sampai ajal menjemput ku."


Prisil mengecup keningnya dan mengusap lengannya, "Ya sudah. Papa mu sudah nunggu Mama di kamar."


"Ngapain, Ma?" tanya Indria seraya mengangkat kepalanya.


"Emangnya ngapain?"


"Hehehe cuma Mama yang tau," celetuknya jail.


Prisil jadi salah tingkah. Ia berpikir jika ucapannya seharusnya tak ia ucapkan.


"Udah deh, silahkan temui raja yang tengah haus akan belaian permaisuri Ibunda Prisil," canda Indria kian menjadi.


Wajah Prisil bersemu merah dan ia bangkit lalu segera berlalu dengan gusar. Indria kembali menutup pintunya.


"Sholat witir aja, siapa tahu aku kelolosan tidur nanti," gumam nya dan melilit rambut panjangnya kemudian menjepitnya. Ia mengambil air wudlu di tempat khusus dan mendirikan sholat witir satu rakaat.


Adiyasa juga melakukan hal yang sama. Ia merasa sudah letih dan berusaha sekuat tenaga mendirikan sholat witir sebelum tidur.


Doa-doa keduanya mereka panjatkan untuk kedua orangtua mereka dan untuk hubungan yang saat ini mereka jalani agar semuanya berjalan sesuai dengan harapan.


"Ya Allah....aku ridho dengan takdir-Mu," ucap Adiyasa.


"Aku mohon yang terbaik untuk kami...." pinta Indria.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2