
"Ayah dan anak yang keren," celetuk Tuti, seorang resepsionis ketika Rangga dan Adiyasa memasuki hotel.
Adiyasa dan Rangga berpisah saat sampai di lantai dua. Rangga ke luar dari lift sedangkan Adiyasa melanjutkan perjalanan menuju lantai tiga.
Indria terkejut saat ia dan Adiyasa bertemu mata ketika sama-sama ke luar dari lift yang berbeda. Harusnya ia sudah ada di hotel satu jam yang lalu untuk menyiapkan sarapan bagi tamu.
"Pak," sapanya ragu.
Adiyasa menengok jam di tangan kirinya dan menegurnya begitu keras, "Kamu berniat bekerja atau bermain di tempat ini?"
Indria menunduk. Pria itu menegurnya di hadapan seluruh karyawan dan para tamu hotel yang berlalu lalang.
"Maaf, Pak. Saya tadi ada sedikit kendala," kilahnya.
"Panggilan alam atau karena macet? Alasan basi! Mulai besok jangan seperti ini jika kamu masih ingin tetap bekerja di tempat ini!"
"I-iya, Pak. Saya mengerti."
Adiyasa lantas meninggalkannya begitu saja. Indria menggerutu kesal dan mengutuknya berkali-kali.
Kesan Adiyasa kepada Indria bertambah buruk hingga ia berpikir jika Indria bisa bekerja di tempat ini karena ia adalah anak dari teman baik sang ayah, "Pekerja macam apa dia!" umpat nya.
14.00 wita:
Pesta ulang tahun yang lumayan besar tengah berlangsung di aula lantai empat. Acara itu adalah pesta ulang tahun seorang anak pejabat.
Rangga memantau acara itu bersama Adiyasa, Veronica dan Rindu sekertaris barunya. Acara berlangsung dengan lancar. Rangga mengontrol acara itu hingga usai. Saat kembali ke ruangannya ia merebahkan diri di sofa dan memejamkan mata sejenak.
"Bapak inginkan sesuatu?" tanya Rindu. "Apa punggung Bapak pegal lagi? Saya bisa bantu jika Bapak berkenan."
__ADS_1
Rangga mengernyit. Ia membuka mata dan menatapnya aneh, "Tidak, pergilah. Aku hanya ingin beristirahat."
Rindu berharap jika sang bos menerima tawarannya. Ia kecewa bukan main. "Sudah banget memikat hatinya! Lihat saja Rangga....aku pasti bisa mendapatkan mu!" geram nya berbisik.
Rindu sudah bekerja di hotel ini semenjak tiga bulan yang lalu. Wanita itu tadinya adalah seorang pemberi jasa ojek payung. Waktu itu Rangga hendak membeli kue untuk Naya. Saat ia keluar ternyata hujan sudah turun dengan deras. Rindu menghampirinya dan menawarkan jasa ojek payung. Saat Rangga usai membayar ia memberanikan diri bertanya padanya tentang pekerjaan. Sudah lama Rindu memperhatikannya, namun baru kali itu ia bisa mendekatinya, kira-kira sebulan kebelakang karena Rangga adalah langganan tetap di toko kue itu. Rangga tersentuh dan memberinya kartu nama. Selang dua hari wanita itu datang dengan membawa surat lamaran. Rangga terkejut saat membaca surat lamarannya karena ternyata ia adalah seorang sarjana jurusan pariwisata. Saat interview wanita ini itu juga ternyata sangat cerdas. Kebetulan posisi sekretaris tengah kosong karena sekretaris lama milik Rangga telah mengundurkan diri. Rangga tak terlalu berpikir panjang. Ia langsung menerimanya dan memberikan posisi sebagai sekretaris nya. Akan tetapi Rindu memiliki niat yang licik. Ia ingin menggantikan posisi Naya. Ia sudah tahu bagaimana kisah masa lalu sang bos dari beberapa pegawai. Beberapa kali ia bertemu dengan Naya saat Naya menyambangi sang suami.
Rindu memang lumayan cantik dan sangat cerdas sekaligus masih belia. Dengan mudah ia bisa memikat hati pria manapun, tapi terkecuali dengan Rangga. Sedikitpun pria itu tak pernah menoleh padanya dan ini membuat Rindu semakin tertantang untuk menaklukkan nya.
.....................
Minggu pagi:
Waktu yang di tunggu-tunggu Sulaiman akhirnya tiba. Saat ini ia dan keluarganya bertandang ke kediaman keluarga Pram untuk membahas masalah perjodohan nya bersama Tita. Tita tegang, bingung dan tak berkenan. Rasanya ia ingin berlari menuju sang kekasih yang tak ikut hadir.
"Tita, apakah kamu tidak keberatan dengan perjodohan ini?" tanya Ilham.
"Samasekali tidak. Dia sudah bilang semalam jika ia sudah menyetujuinya," sela Angga mendahului sang putri. Ia sengaja melakukan ini agar semua berjalan sesuai kehendaknya.
"Pertunangan mereka sebaiknya di adakan dalam minggu ini agar ikatan cucu kita semakin kuat dan jelas," ujar Susan kepada Liana dan Pram.
Naya mengangguk bersama Rangga di susul keluarga yang lain. Bahkan Rangga ingin bila perlu Sulaiman dan Tita segera di menikah.
Di tempat lain....
Adiyasa termenung di pinggir kolam. Sesekali ia memainkan air menyiramkannya ke tengah kolam. Sudah tak ada lagi kesempatan untuk dirinya dan Tita. Rasa kasih sayang dirinya dan gadis itu terhadap kedua orangtua mereka mengalahkan rasa cinta dan ego yang mereka pendam.
"Apa aku bisa merelakan mu....? Apa aku sanggup melihat mu dengannya di pelaminan....?" Ia memejamkan matanya dan mendongak, "Ya Allah.....!" sergahnya kalut.
Tak di duga Indria datang bertamu dengan membawa kue atas permintaan ibundanya untuk Naya. Lala menyambutnya dan mempersilahkannya duduk. Ia segera memberitahu Adiyasa dengan langkah centilnya ke kolam renang pada halaman belakang ujung rumah itu. Indria menatap ke sekeliling, ia berdecak kagum dengan dekorasinya yang elegan dan kekinian rumah nan megah itu.
__ADS_1
Adiyasa bangkit membuka kaos oblong nya dan langsung menceburkan diri.
"Tuan Muda!" teriak Lala berlari kecil. Hampir saja ia terpeset.
Adiyasa muncul ke permukaan, "Ada apa?" tanyanya dingin.
Lala merasa takut karena ia tahu jika mood tuan nya itu sedang tidak baik.
"Nona Indria ada di depan, Tuan. Dia mencari nyonya Naya tapi saya bilang hanya ada Tuan Adi di rumah."
"Apa-apaan ini?" desis Adiyasa emosi. "Antar dia kemari jika dia ingin!"
"Ba-baik, Tuan."
Sesuai keinginan sang tuan muda Lala mengantar Indria menuju kolam renang. Indria tak ada keinginan untuk bertemu dengan Adi. Tapi apa boleh buat, tak mungkin ia memutuskan pergi begitu saja tanpa bertemu dengannya.
Adiyasa menyelam hingga ke dasar. Indria berdiri di pinggir kolam menunggunya timbul ke permukaan. Ia menaruh sekotak kue tar yang ia bawa di meja dan duduk menatap pria itu yang masih asyik berenang dan samasekali tak peduli dengan kehadirannya.
"Adi!" panggilannya. "Bisa stop sebentar! Aku hanya sebentar di sini!"
Pemuda itu menggubris nya dan ia berenang ke pinggir kolam lalu naik. Indria malu-malu menatap tubuh kekar dan atletis nya lalu mengalihkan pandangannya pada oleh-oleh yang ia bawa, "Nih, ada titipan dari mamaku untuk tante. Aku hanya menyampaikan ini. Tolong di sampaikan."
"Jelas," sela Adiyasa masa bodo sembari menghanduki wajahnya.
Indria bangkit, "Ya sudah kalau begitu. Aku permisi. Assalamualaikum." Wajahnya cemberut dan kaku. Ia jengkel sekali.
"Wa'alaikum salam," jawab Adi seraya menatap kepergiannya. Sejenak kesedihannya karena Tita buyar tanpa ia sadari sebab kehadiran Indria. Ia mencoba mencicipi kue yang wanita itu bawa dan terkagum dengan rasanya yang sangat enak.
Kesepakatan sudah di buat, pertunangan Sulaiman dan Tita akan di adakan minggu yang akan datang. Naya berharap ini yang terbaik untuk kedua putranya.
__ADS_1
Tita langsung menuju kamarnya dan mengunci pintu setelah keluarga Fatahillah pergi. Air matanya benar-benar sudah tak terbendung. Ia duduk di meja rias nya dan menatap wajahnya sambil menangis tersedu-sedu. "Apa tindakan ku ini benar dengan menuruti semua keinginan keluarga ku? Apa aku bisa tetap bertahan dengan membisu.....? Papa ku sudah banyak melalui penderitaan selama ini....tapi aku juga ingin bahagia dengan pilihanku! Apa semua ini benar!" ia terus bertanya-tanya dalam keheningan.
Bersambung.....