Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Kekesalan Tita kepada Angga dan Leona


__ADS_3

3 hari kemudian.....


20.00 wita:


Sulaiman dan Adiyasa tiba bersamaan. Keduanya samasekali tak bertegur sapa. Naya menyambut keduanya ketika mereka melintasi meja makan, "Sayang, kalian sudah pulang...." sambutnya.


Sulaiman mencium punggung tangannya dan berlalu dengan perasaan malas jika harus berlama-lama di dekat Adiyasa.


Naya menatapnya berlalu. Ia bersedih dengan sikapnya yang terasa begitu dingin. Ia bertanya kepada Adiyasa dan Adiyasa mengangkat kedua bahunya masa bodo. Ia pun mencium pipi Naya dan naik ke lantai atas.


Naya bingung, ia kecewa dengan prilaku keduanya. Kenapa hanya karena cinta sampai harus menghancurkan persaudaraan mereka?


Selang beberapa saat Ilham juga tiba di rumah dan mengucapkan salam dari muka pintu.


"Kak," panggil Naya.


"Ada apa?" tanya Ilham semakin mendekat.


"Ini soal anak-anak. Mereka tak saling bertegur sapa beberapa hari ini. Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya gusar.


Ilham tersenyum, "Ini masalah hati. Mereka tahu mana salah dan benar. Kamu tak perlu khawatirkan apapun. Bisa temani aku habiskan gorengan ini?" candanya seraya mengangkat sebungkus gorengan di tangan kanannya.


Naya menghembuskan nafas dan tersenyum, "Kita makan bersama Sulaiman di ruang kerjanya."


"Beres! Com!" ajaknya, tapi aku ganti baju dulu.


Kebiasaan yang tak pernah pudar. Sulaiman duduk di samping Naya sementara Ilham duduk di seberang. Mereka tertawa lepas sambil menikmati gorengan itu. Sekali lagi Sulaiman bertanya kepada Tuhan dalam hatinya, "Kenapa Mama tak Engkau jadikan istri papa ku...."


Naya menyeka pinggir bibirnya yang berbalut minyak dengan lembut.


Dalam benaknya, Sulaiman tak tahu bagaimana masa depannya tanpa sosok wanita berhati malaikat ini.....


"Mama buatkan kopi untukmu. Kamu lembur kan malam ini?"


"Iya, Ma."


Naya bangkit. Sepeninggal nya Ilham beranjak duduk di sampingnya merangkul pundaknya dan memberikan nasihat, "Jangan berikan beban pada mama mu dengan memusuhi Adiyasa. Dia sangat khawatir dengan kalian berdua."


Sulaiman hanya diam.


Dapur:


Perlahan Rangga mengendap-endap dan tiba-tiba memeluk dan mencium leher Naya hingga ia mendesah, "Mas....."


"Mau," bisik Rangga.


Kalau sudah begini Rangga seperti bayi kecil yang meminta segera di kelonin.


"Aku antar kopi ini dulu ke kamar Sulaiman."


Rangga melepaskannya. Ia terasa terbakar dan tak sabar ingin segera melakukannya.


Naya menaruh kopi itu di meja kerja Sulaiman. Anak itu menarik tangannya dan memintanya duduk kembali bersamanya. Ia mulai manja seperti waktu sebelum dirinya memutuskan untuk sekolah di Amerika.


"Maaf, Sayang. Om Rangga sudah menunggu Mama. Lain kali kita ngobrol sampai jauh malam," ujar Naya membelai kepalanya.


Ilham geregetan. Ia menahan kekesalannya dalam diamnya. Baru saja ia menikmati waktu bersama wanita ini tetapi Rangga sudah merusak semuanya.

__ADS_1


"Mama pergi dulu."


Naya mencari sosok sang suami di dapur namun tak mendapatinya. Ia melangkah cepat naik ke lantai atas dan memanggil Rangga saat membuka pintu kamarnya, "Mas...!" teriaknya namun tak ada jawaban. Ia melangkah masuk dan tiba-tiba Rangga dari arah belakang mengangkat tubuhnya dan segera menidurkannya di ranjang.


Jantung Naya berdebar kencang. Ia sangat tegang.


"Berikan aku seorang bayi," bisik pria itu di telinganya.


"Mas.....!" desah Naya tatkala Rangga meniup telinganya. Desahannya membuat Rangga kian menggila.


Saling mencintai karena Allah takkan merasakan bosan walaupun sering bersama, bahkan rasa cinta itu terasa makin kuat dan menggebu ketika sepasang suami-istri sampai di usia tua mereka....


Naya kewalahan namun apa daya....Suaminya seperti singa jantan yang berhari-hari tak memakan daging rusa.


Tok! Tok! Rangga tak peduli siapa yang mengetuk pintu kamarnya dan tetap melancarkan aksinya.


Sekali lagi pintu kamarnya di ketuk namun sekali lagi tak di hiraukannya.


"Jangan-jangan....?" bisik Adi tersenyum tengil. Ia mengurungkan niatnya. Ia hanya ingin ngobrol santai bersama Rangga. Papan catur sudah ia tenteng. Cukup kecewa juga hatinya.


...................


Kediaman Pram:


"Pegal...." ringis Angga kesakitan sambil meregangkan tubuhnya. Seluruh Tubuhnya terasa ngilu. Leona masuk tanpa permisi kedalam kamarnya dan menaruh segelas susu di samping lampu tidurnya. "Kamu bisa memijat, Leona?"


"Pijat? Oh bisa, Tuan," jawabnya tanpa ragu.


Angga turun ke lantai dan duduk bersila.


Leona mulai memijitinya dari pundak hingga punggung bagian bawahnya dengan sekuat tenaga. Tak berselang lama wanita itu diam-diam mengepakkan kedua tangannya yang terasa mulai pegal.


"Nggak kok, Tuan. Saya masih kuat. Tuan nikmati saja."


"Lanjutkan." Pria itu memejamkan matanya mencoba menikmati pijitan itu.


Tita terkejut saat membuka pintu kamar sang ayah. Pemandangan tak lazim dan tak pantas itu membuatnya marah. Ia melangkah cepat dan meminta Leona untuk segera keluar. Ia berjongkok di hadapan Angga dan menghardik nya, "Apa apaan sih, Pa? Kenapa seperti ini dengan bibi Leona?" ia tak sadar meninggikan suara karena tersulut emosi.


"Kamu jangan kasar begini," sergah Angga. "Kamu bisa bersikap sedikit lebih sopan kan? Dia yang sudah membesarkan mu!"


"Tapi kelakuannya tak baik, Papa juga begini.....apa Papa tak sadar jika dia menyukai Papa? Aku nggak mau punya ibu tiri!"


Angga mengusap wajahnya. Ia lalu menarik tangan Tita untuk lebih mendekat, "Papa samasekali tak berniat untuk menikah lagi. Papa juga tak punya perasaan apapun padanya. Papa hanya tak tahan karena pegal. Papa janji takkan pernah mengulanginya lagi."


Tita masih tak terima. Ia menunduk dan menghirup nafas pendek, "Aku tak mau Papa dekat dengannya. Bukan apa-apa hanya saja tak lazim."


"Ada apa kamu temui, Papa?" sela Angga berkelit.


"Aku sudah memutuskan, aku akan mengikuti jejak Papa sebagai seorang seniman. Aku akan serius menekuni dunia melukis."


"Kamu yakin?"


"Iya, Pa. Aku sangat yakin karena aku mengetahui karakter ku yang tak jauh beda dengan Papa."


Angga mengangguk. "Papa akan membangunkanmu sebuah galeri di samping galeri Papa. Papa sudah berniat untuk menyelenggarakan pameran di akhir bulan. Kamu harus kejar target jika ingin ikut bersama Papa."


Mata Tita berbinar, sudah tak tampak amarahnya. "Papa masih pegal? Biar aku yang pijiti."

__ADS_1


Angga tersenyum, "Kamu ingin menyogok Papa?"


Tita pura-pura cemberut dengan bias senyuman di wajahnya. Ia beranjak dan mulai memijit punggung Angga.


"Kamu lebih senang jalan bersama Sulaiman atau Adiyasa?" tanya Angga tiba-tiba.


Tita kikuk. Ia kembali teringat insiden ciuman itu. Ia merasa sangat bersalah pada Adiyasa.


"Kenapa diam? Jawab yang jujur."


Tita enggan untuk membahasnya, akan tetapi jika ia menjawab jujur mungkin perjodohan nya dengan Sulaiman akan batal. "Adiyasa," ungkapnya.


"Tapi kalian tak serasi. Kamu lebih cocok bersama Sulaiman. Lagipula bagaimana mungkin kalian akan bersatu? Papa sudah tahu jika dia sudah di jodohkan. Pemuda macam apa yang mengkhianati hubungannya di belakang calon istrinya?"


Tita tak mampu menjawab.


Angga berbalik dan meraih telapak tangannya, "Dengar, Papa hanya ingin yang terbaik untukmu. Papa sudah menimang semuanya dengan pertimbangan panjang. Sulaiman adalah pria yang paling tepat untukmu. Dia mapan dan bertanggung jawab. Dia bukan hanya akan menjadi imam untukmu tapi sekaligus bisa menjadi seorang ayah sebagai pengganti Papa jika Papa sudah tak ada."


Angga membelai rambutnya dan menyentuh wajahnya, "Hanya ini yang Papa inginkan dari mu."


Apa yang harus di sela oleh Tita? Semua perkataan Angga adalah benar. Tetapi ia menafikan cinta yang kini dirasakannya seolah menutup mata.


"Belajarlah untuk bisa mencintainya. Papa yakin kamu pasti bisa. Papa dan nenek mu sudah mengatur pertemuan bersama keluarga Sulaiman untuk membahas masalah pertunangan kalian."


.....................


07.30:


Adiyasa, Ilyas, dan Rangga pamit terlebih dahulu. Naya menghentikan aktivitas sarapannya dan mengantar kedua anak dan suaminya ke halaman depan.


"Jika hamil beritahu aku," bisik Rangga di telinganya.


Naya mencubit pinggangnya gemas. Ia menunggu ketiga pria itu menghilang di balik gerbang.


Sulaiman dan Ilham menyeka mulutnya dengan serbet dan memohon izin.


"Sayang, coba Mama lihat dasimu," pinta Naya sembari berjalan mendekati Sulaiman, "Ini masih belum rapi. Kamu tak teliti begini."


"Aku butuh istri," ucapnya.


Naya tersenyum tipis, "Mama juga menginginkannya."


"Jadi Mama mendukung ku?"


Naya mengangguk, "Apapun yang terbaik untukmu Mama akan selalu mendukung."


Tak di sangka Sulaiman memeluknya. "Putra ku Sulaiman," bisik Naya mengelus punggungnya.


"Terimakasih, Ma."


Naya tak mungkin membedakan dirinya dengan kedua putra kandungnya. Sekalipun Sulaiman tak terlahir dari rahimnya namun ia memiliki posisi yang sama dengan Adiyasa dan Ilyas di hatinya.


"Jangan ngebut di jalan. Nanti Mama buatkan donat kesukaanmu."


Sulaiman melepaskan pelukan itu dan mencium tangannya memohon pamit.


"Pergi dulu," ucap Ilham singkat.

__ADS_1


"Iya, Kak."


Bersambung.....


__ADS_2