Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Ketahuan


__ADS_3

Adiyasa segera bangkit dan menarik tangan Tita lalu mendekapnya di pojok ruangan. Para pengunjung histeris ketakutan dan berusaha melindungi diri. Dua orang satpam memberikan instruksi untuk berlindung menjauhi kaca. Keributan itu bertambah kacau setelah suara senapan terdengar dari arah barat. Massa yang bentrok lari kocar-kacir berusaha melarikan diri dari kejaran polisi. Terlihat beberapa orang pria bersimbah darah dan di amankan oleh pihak kepolisian. Seorang reporter tv meliput acara itu dan memberitakannya secara live.


Selang beberapa menit suasana jalan raya menjadi sedikit kondusif. Motor dan mobil yang terparkir tak ayal menjadi sasaran dari kericuhan itu.


"Tenanglah...semuanya akan baik-baik saja," bisik Adi.


Tita masih ketakutan dan kian mendekapnya, "Bagaimana kita bisa pulang...?" tanyanya.


"Jangan takut, kita bisa pergi dari tempat ini sebentar lagi," jawab Adi meyakinkannya.


Karena sudah terlihat aman Adiyasa menggandeng tangan Tita keluar dari cafe. Kamera berhasil menyorot keduanya. Adiyasa geram karena mobilnya ringsek akibat lemparan batu pada bagian depan.


"Aku minta maaf...." pinta Tita.


Adiyasa menyentuh wajahnya dan menyapu tetesan air matanya yang jatuh. Ia membuka pintu mobil dan memintanya  untuk masuk. "Mobilmu akan ku suruh ambil Pak Narji," ucapnya. Ia tak mungkin membiarkan Tita menyetir dalam kondisinya yang masih syok.


Indria terpaku menatap layar televisi. Ia tak pernah mengira Adiyasa tega melakukan ini terhadapnya....


" Tuan Adiyasa dan Nona Tita ngapain di tempat itu?" sergah Sinti


"Astaga....semoga mereka tak kenapa-kenapa?" ucap Lin khawatir.


 "Itu tawurannya besar sekali, tapi untuk apa Tuan Adi dan Nona Tita ketemuan di luar? Kan masih bisa ketemu di rumah?" sela Mila polos.


Ketiga pembantu itu terus bergunjing sampai-sampai panggilan Naya tak mereka dengar. Naya terpaksa mencari mereka di kamar ketiganya bergantian dan menemukannya sedang berkumpul di kamar Sinti.


"Astaga!" bentak Naya. Sontak pembantu-pembantu itu bangkit seraya memperbaiki baju seragam mereka. "Kalian sedang apa? Aku panggil ribuan kali tapi kalian samasekali tak menjawab!"


"Maaf Nyonya Naya....kami sedang menonton acara tv..." jawab Sinti ketakutan.


"Terserah...sekarang siiapkan makan siang untuk Ilyas dan bawa ke kamarnya."

__ADS_1


"Baik Nyonya, akan segera di laksanakan," ucap Sinti.


Indria menyeka air matanya dan mematikan televisi. Ia menaruh remot dan berlalu dari ruang keluarga.


 Naya terkejut saat ia melintas menuju lantai atas dengan air mata yang terus menetes, "Apa yang terjadi?" sergahnya dan lekas menyusulnya...


"Nak," panggilnya mengetuk pintu kamar Indria.


Dengan isakan tangis yang kian kencang Indria membuka pintu.


"Ya Allah apa yang terjadi Sayang...?" sergah Naya


Indria lantas memeluknya dan menangis keras, "Mas Adi hiks...Mas Adi sedang bersama Tita....."


Naya melotot. Seketika amarahnya muncul, "Di mana mereka sekarang?"


"Aku lihat mereka sedang berdua di cafe di dalam televisi...hiks..."


Naya mengusap punggungnya dan menuntunnya menuju ranjang, "Sabarlah Nak...."


Naya kembali memeluknya. Entah apa alasan atau pikiran yang terlintas di otak Adiyasa hingga ia berbuat serendah itu....?


Detik demi detik hingga selang 30 menit ia dan Indria menunggu kepulangan Adiyasa dan Tita di ruang tamu. Susan menghampiri keduanya dan ikut duduk di samping Indria.


Hingga akhirnya yang di tunggu tiba. Indria, Naya, dan Susan bangkit. Melihat ketiga wanita itu Tita dan Adiyasa lumayan cemas karena mereka pulang berdua.


"Mas kalian dari mana?" tanya Indria masih dalam norma kesopanan kepada Adiyasa.


Adiyasa sedikit bingung dan tegang dengan sikap dan raut wajahnya yang sembab."


"Jawab!" desaknya sambil menggoyang lengan pria itu gusar.

__ADS_1


"Aku tak sengaja bertemu dengannya di cafe ketika makan siang. Tadi Tita bilang ia membeli kuas dan saat ia ingin rehat di cafe secara kebetulan kami bertemu."


"Benar begitu?" tanya sang istri lagi.


"Ya," jawab Adi seraya menyentuh pipinya.


Seketika Indria memeluknya dan kembali menangis. Ia sangat takut kehilangan Adiyasa.


Entah dari mana orang rumah tahu pertemuannya bersama Adi, tetapi masalah besar ini bisa ia dan Adiyasa tanggulangi. Tita lega dan sangat bersyukur. Akan tetapi Naya samasekali tak percaya sedangkan Susan meragukannya. "Aku ke kamar dulu," ucapannya


"Tunggu, kamu tak mengapa kan?" sergah Indria mengapai telapak tangannya, "Aku tahu pertemuan kalian dari berita di tv saat tawuran terjadi tadi."


"Tidak, untungnya ada Adi bersamaku. Aku cukup ketakutan tetapi sekarang sudah tak lagi."


"Syukurlah," ucap Indria lega.


Adi tak mengira dengan semua ini. Pertemuan rahasianya terkuak dengan cara seperti itu. Ia cukup kapok melakukan hal gila itu dan bersumpah untuk tak melakukannya lagi.


"Aku harus kembali ke hotel, nanti kita cerita-cerita," pintanya tersenyum tipis pada Indria. Ia menjamah kepala wanita itu dan mengecup keningnya.


"Hati-hati, Mas..."


"Iya."


Naya menatapnya tajam. Ketika menatap matanya nyali Adiyasa menciut. Ia segera berpaling dan mengucap salam.


Hari ini cukup bagi Tita. Sekalipun tadi adalah pengalaman yang sangat mengerikan namun ia cukup senang karena bisa sejenak berdua bersama Adiyasa. Ia menaruh tasnya di atas tempat tidur dan duduk dengan rilek.


Triit! Triiit!


"Papa?" celetuknya saat melihat layar ponselnya.

__ADS_1


"Tita? Kamu sekarang di mana?" Angga to the point, "Papa melihatmu di tv bersama Adi, kamu selingkuh dengannya?!"


Bersambung....


__ADS_2