
Tita kembali masuk ke dalam rumah dan menemui Susan di ruang kerjanya.
Tok! Tok! "Nek!" panggilnya.
"Masuk!" pinta Susan.
Tita duduk di hadapannya dan menceritakan perlakukan pelayan-pelayan itu terhadapnya.
"Aku yang meminta mereka," tandas Susan.
Tita terpaku.
"Bukankah memang semua itu adalah tugasmu?" sela Susan santai, "Dimana salahnya jika seorang istri melakukan pekerjaan rumah untuk suaminya sendiri?"
Tita menatapnya nanar.
"Mulai detik ini semua keperluan Sulaiman kamu yang akan mengerjakannya. Aku melakukan semua ini agar kamu terbiasa. Di rumahmu kamu adalah seorang majikan pun di rumah ini juga. Tetapi untuk kebutuhan suamimu kamu yang akan menanggungnya sebagai bentuk dari tanggungjawabmu."
Tita paham. Tetapi harusnya Susan mengatakan semua ini dengan baik-baik padanya, bukan dengan cara seperti ini.....
"Baiklah, aku mengerti. Tapi aku harap lain kali Nenek bicarakan ini sebelumnya denganku. Aku akan melakukan semua kewajibanku seperti keinginan Nenek," ucapnya. "Aku permisi," pintanya.
Susan puas. Ia harap dengan apa yang di lakukannya pada Tita ia bisa berubah.
Tita mulai membersihkan kamarnya dengan amarah. Ia melakukannya dengan sangat kasar hingga hatinya terasa lelah. Ia mencuci bajunya dan baju Sulaiman, ia juga menyapu dan membersihkan meja riasnya dan meja kerja sang suami. Ia pun mengepel dan melipat baju-bajunya dan menatanya di dalam lemari.
__ADS_1
Ia menyeka keringatnya dan merebahkan tubuhnya di ranjang. "Apa seperti ini selamanya?" bisiknya," jika aku melakukan semua ini untuk Adiyasa aku samasekali tak masalah bahkan aku akan merasa amat bahagia....." Ia memejamkan matanya sejenak.
Dengan tangan dan kaki yang cukup pegal ia kembali melukis di galerinya. Ia memaksakan diri karena lukisan ini sudah ia targetkan akan rampung dalan dua hari.
Di hari kedua ia melakukan hal yang sama hingga hari keempat di mana Naya mulai mendekorasi taman di depan rumah untuk prosesi pernikahan Adiyasa dan Indria. Rumah ini seperti neraka baginya. Ia ingin berteriak dan merusak semua itu, apalagi ketika melihat senyuman Indria kala melihat persiapan pernikahannya dengan laki-laki yang seharusnya menjadi miliknya......
..........................
3 hari kemudian, 18.00 wita:
Hingar-bingar kemeriahan pesta pernikahan Adiyasa dan Indria di gelar di taman kediaman keluarga Fatahillah. Indria tak menyadari di balik senyumani Adiyasa sang suami menangis. Adiyasa merasa mengkhianati Tita dan ini terasa begitu berat baginya.
"Mas..." bisik Indria seraya memeluk Adiyasa di dalam kamar. Kini saatnya ia dan pria itu melakukan malam pengantin.
"Kita akhirnya menikah....aku bahagia sekali...." desahnya.
Terpaksa Adiyasa melepaskan kedua tangannya dan menjauh. Indria mengeryitkan alisnya kebingungan. Ia mendekati sang suami dan menatap wajahnya yang terlihat sangat tegang, "Ada apa?" tanyanya tak mengerti. Ia menyentuh wajah pria itu dan membelainya dengan sangat lembut, "Apa kamu tak menginginkanku....?"
Seketika Adiyasa menatap matanya. Raut wajah Indri membuatnya tak tega. Ia pun mendekat dan berucap dengan lirih, "Aku akan mencoba segalanya denganmu....."
Satu kecupan ia berikan di bibir Indria. Indria merasa ia begitu lembut dan penuh dengan kasih sayang.
Hujan kembali turun malam ini. Tita mendekap gulingnya dengan erat. Hatinya terasa begitu dingin dan hampa seolah tak ada harapan untuknya esok hari.
"Apa yang kamu khayalkan..?" bisik Sulaiman tiba-tiba di telinganya.
__ADS_1
Tita seketika bangkit dan memukul wajahnya dengan guling itu.
"Stop, kamu mau kdrt?" canda Sulaiman berusaha menjamah guling itu dan ia melemparnya ke atas lantai.
"Bisa tidak kamu tak mengucapkan kalimat yang bisa melukaiku?" hardik Tita ketus tak mengerti dengan dirinya yang tak memiliki perasaan.
"Aku bicara kenyataan. Kamu ngapain memikirkan kebahagiaan orang lain yang tak memikirkanmu samasekali? Percuma kamu menangisi seseorang yang sudah tak memikirkan perasaanmu. Adiyasa sudah menjadi milik Indria dan kamu cuma akan menyakiti diri-sendiri dengan memikirkan mereka," sungut Sulaiman tak mau kalah.
Tita menelan ludah dengan mata berkaca-kaca. Ia memalingkan pandangan dan berbalik seraya meyeka matanya dan turun dari ranjang. Ia masuk kedalam kamar mandi dan menangis tertahan karena tak mau Sulaiman mendengarnya.
"Kenapa kamu begitu bodoh Tita...?" tanya pria itu. Ia mendekati kamar mandi dan menegur wanita itu, "Hei! Keluarlah! Aku mau pup! Kalau mau menangis di luar saja!" teriaknya.
"Dasar tak punya hati!" hardik Tita dan segera membuka pintu.
Sulaiman menghalanginya dengan kedua tangannya yang membentang. "Apa-apaan kamu? Kamu menangisi suami orang sampai seperti ini!"
"Kamu tak mengerti..." bisik Tita kembali menangis.
Sulaiman tersenyum geleng-geleng dan ia menjauh.
"Katanya mau pup?"
Sulaiman tak mempedulikannya dan Ia duduk di kursi meja kerjanya.
Bersambung....
__ADS_1