
"Pikir saja sendiri," celetuk Tita.
Adi berpura-pura berpikir keras. Tita berharap ia tahu perasaannya.
"Siapa ya?" tanya Adi berpura-pura.
"Kamu," ucap Tita akhirnya menatapnya.
Adi jadi gugup tak karuan, namun ia bisa menyembunyikannya.
"Nggak apa-apa kan?" tanya Tita yang juga salah tingkah.
"Oh nggak, nggak apa-apa. Memang seharusnya begini kan?" canda Adi.
Tita tersenyum manis dan pipinya bertambah merah. "Trus jawabnya apa?" tanyanya berpaling.
Keduanya tak berani saling menatap. Adiyasa menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia lantas menatap Tita dengan wajah serius, "Aku juga."
Tita tersenyum senang, "Lalu apa yang akan kamu lakukan untuk membuktikannya?" pintanya berbisik menatapnya.
Mulut Adi rasanya tak sanggup untuk mengatakan apapun. Apa yang harus ia lakukan sementara ada wanita lain yang akan memilikinya?
"Kenapa?" sela Tita. "Kamu benar mencintaiku kan?" harapnya.
Dada Adiyasa terasa begitu sakit. Ia pun kembali menatap kedepan.
"Tunjukkan padaku buktinya," pinta Tita.
"Aku tak bisa memberikan apapun, Tita," bisiknya.
"Nikahi aku, segera."
Adi memejamkan matanya kuat dan bersandar.
__ADS_1
"Kenapa? Apa ada wanita lain selain diriku?"
Adi menoleh padanya dan menyentuh puncak kepalanya, "Maafkan aku."
Tita terpaku. Ia berharap semua yang dikatakannya tak benar, "Becanda," bisiknya tersenyum getir.
Adiyasa mengusap wajahnya dengan kasar, "Aku juga tak menginginkan nya. Ini semua permintaan dari papa."
Tita merasa sesak. Dadanya terasa begitu nyeri. Sejenak suasana hening.
Adiyasa kembali menyalakan mesin mobilnya dan tak ada ucapan apapun yang keluar dari mulutnya dan mulut Tita seolah semuanya telah usai.
Ilyas tersenyum lebar melihat mobil abangnya tiba di hadapannya. Ia pun lantas masuk dan bersandar lesu.
"Bagaimana ujian mu?" tanya Adiyasa.
"Alhamdulillah lancar. Kak Tita juga ikut. Tumben betul," canda Ilyas.
"Aku lapar banget. Cepat sedikit, Kak."
"Iya, Kakak minta maaf karena sedikit telat. Kakak belikan makanan di jalan ya? Karena kita antar kak Tita pulang dulu."
"Ya, tak apa."
Dalam perjalanan Ilyas terheran mengapa abangnya dan Tita tak saling berbicara. Ia berpikir jika keduanya ada masalah.
"Sampai di depan pintu gerbang aja," pinta Tita.
"Sampaikan salam ku pada nenek dan om."
Tita hanya mengangguk tanpa menatap Adiyasa. Ia membuka sabuk pengamannya dan turun begitu saja.
"Kalian bertengkar?" tanya Ilyas.
__ADS_1
"Nggak. Tak usah di pikirkan."
..................
20.00 wita:
Tita tertidur setelah menangis hampir 3 jam lamanya di atas ranjang. Sulaiman menghubunginya beberapa kali dan tak mendapatkan jawaban. Ia jadi khawatir dan memutuskan untuk menemuinya. Leona menyambutnya di muka pintu dan mengantarnya menuju kamar gadis itu. "Apa saya tetap di sini?" tanya Leona.
"Iya, aku hanya sebentar." Sulaiman duduk di sisi ranjang dan menyentuh tubuhnya yang tertutupi selimut tebal. "Apa yang terjadi padamu?" batinnya. "Sejak kapan ia tertidur?" tanyanya kepada Leona.
"Nona Tita sejak pulang tadi sore langsung mengurung diri di kamar. Tuan Angga dan Nyonya Liana belum pulang sedangkan Tuan Besar sejak sholat maghrib berkutat di ruang kerjanya," jelas Leona.
"Baiklah, Bibi boleh keluar. Buka saja pintu kamar ini lebar. Aku akan menemani Tita sampai om dan nenek pulang."
"Baik, Tuan."
2 jam kemudian.....
Abdullah meminta Susan menghubungi Sulaiman karena merasa khawatir.
"Kamu di mana? Kenapa tak pulang?" hardik Susan.
"Maaf, Nek. Aku tak bilang karena tadi semua orang ada di kamar. Sekarang aku di rumah Tita. Aku menunggunya sampai Om Rangga pulang. Tita sekarang sedang tidur."
Susan mendesah lega, "Baiklah, jika terlalu malam menginap saja."
"Iya, Nenek tak usah khawatir," pinta Sulaiman.
Susan mematikan ponselnya dan memberitahukan itu kepada Abdullah.
Sementara itu Adiyasa berzikir di depan kiblat sambil berdoa penuh harap jika ia bisa terlepas dari perjanjian perjodohan dirinya dengan Indria.
Bersambung.....
__ADS_1