
08.00:
"Hei Sayang......" Sulaiman mengecup pipi Tita dan duduk di sampingnya. Tita terkejut dan sangat geram. Hari ini keduanya akan melakukan fitting baju pengantin.
"Kamu sudah sarapan?" tanya Liana di seberang.
"Sudah, tapi aku penasaran, bagaimana rasa masakan Tita?" candanya seraya menjamah apel merah di meja makan.
"Aku tak bisa masak," celetuk Tita dingin.
"Belajar dong Sayang...masa aku harus makan masakan pembantu terus nantinya?"
Tita menoleh padanya, "Kalau begitu nikahi perempuan lain saja."
"Tak semudah itu," bisik Sulaiman tersenyum musterius. "Hatiku sudah tak memiliki tempat untuk cinta yang lain.." godanya.
Tita berpaling dan kembali melanjutkan sarapannya.
"Aku sudah selesai. Papa harap tak ada kendala hari ini untuk semuanya," ujar Angga bangkit seraya menepuk bahu Sulaiman.
"Papa! Tunggu!" teriak Tita mengejar Angga, "Apa aku boleh ikut? Aku ingin lihat klien Papa yang akan membeli lukisan Papa."
"Trus fitting bajunya?"
"Itu kan bisa besok? Ini kesempatan langka untukku. Mungkin mereka juga mau melihat lukisanku dan tertarik untuk membelinya." Ini hanya dalih nya.
"Tidak, ikut dengan Nenek dan calon suami mu. Tak ada yang lebih penting dari itu semua," tukas Angga. Ia mengecup kepala sang putri dan berlalu.
.......
Plaza Mataram:
Tita keluar dari ruang ganti setelah mengenakan gaun pernikahannya. Ia terlihat begitu cantik. Sulaiman sampai tak berkedip
"Masyaallah, kamu cantik sekali, Sayang," ujar Liana.
Tita tak merespon. Wajahnya masih cemberut dan masam.
"Apa ada keinginanmu yang perlu di tambah lagi?" tanya Tince designer yang merancang gaun pernikahannya.
"Nggak, sudah cukup," ujar Tita singkat.
Tita dan Sulaiman kemudian melakukan foto prewedding di studio Foto yang bersebelahan dengan butik itu. Ini salah-satu lokasi permotretan dari tiga lokasi yang sudah direncanakan. Tita amat canggung karena Sulaiman terlalu agresif.
Hari ini terasa begitu berat baginya. Ia merasa penat dan letih. Persiapan pernikahannya benar-benar menguras emosi dan tenaganya. Ia lalu tidur di kursi tepi kolam renang
untuk menyegarkan pikirannya sejenak. Ini semua hanya sia-sia. Siapa yang akan beruntung dalam pernikahan yang akan dijalaninya nanti? Ia yakin Sulaiman pun akan menderita dan akan berimbas pada kedua keluarganya.
"Non, mau saya pijit?" tanya Leona.
__ADS_1
Tita membuka mata, "Boleh, kaki ku saja."
Leona mengambil kursi pendek lalu duduk di sampingnya dan mulai memijiti kakinya.
"Nona lelah?" tanyanya tersenyum.
"Mm," angguk Tita.
"Tidurlah, saya akan memijiti Nona sampai Nona terlelap."
"Kenapa Bibi sangat baik padaku?" tanya Tita membuka sedikit matanya, "Apa selamanya Bibi akan tetap bekerja di rumah ini?"
Leona tersenyum, "Iya. Bagi Bibi ini adalah bentuk pengabdian atas kemurahan keluarga Nona Tita selama ini pada Bibi. Lagipula Bibi tak tahu harus kemana."
Tita tahu alasan yang sesungguhnya. Leona tetap bekerja di rumah ini karena papanya Angga.
Waktu terus berputar. Tita tak menyadari jika azan magrib akhirnya berkumandang. Matahari kian tenggelam dan lampu-lampu di rumah itu mulai di nyalakan. Leona tak sampai hati membangunkannya. Ia tetap menemaninya hingga jarum jam telah sampai pada pukul delapan. Tita pun tak sadar ketika Angga memapah tubuhnya menuju kamarnya. Leona kemudian menyelumuti tubuhnya sebatas dada.
"Leona," panggil Angga setelah di ruang tamu.
"Ya Tuan?"
"Bisa kita bicara? Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan."
"Iya," jawab Leona.
Teras depan:
"Saya rasa tidak Tuan. Tak ada yang membahasnya. Siapa yang sudah memberitahukan hal itu?"
"Anastasia, dia berkata telah melihat sosok Adiyasa keluar dari rumah ini."
"Tidak, saya samasekali tak tahu."
Angga terdiam sejenak, "Ya sudah. Kembali pada pekerjaan mu," perintahnya.
"Baik Tuan."
........
Sulaiman dan Tita melakukan foto prewed di Kawasan Pohon Purba yang terletak di Pringgabaya. Sungguh suatu tempat yang sangat indah dengan pohon-pohon yang menjulang tinggi. Tita berjalan-jalan sejenak usai pemotretan. Udara di tempat itu sangat sejuk dan menyegarkan. Keesokan harinya pemotretan di lakukan di Bukit Selong Sembalun. Angga sengaja ikut untuk mengabadikan tempat itu dengan melukis pemandangannya yang sungguh luar biasa.
Semua persiapan pernikan telah usai. Tempat acara akad nikah dan resepsi di lakukan dalam satu tempat yakni di hotel milik Rangga. Dua ribu undangan juga telah di sebar.
"Nak," sapa Naya
Adiyasa tak merespon karena tak mendengar. Ia tengah menatap rembulan malam dengan langit sedikit mendung di taman belakang rumah.
"Sayang," sapa Naya sekali lagi dan meraih telapak tangannya.
__ADS_1
"Eh, Ma?"
Naya meraih pinggangnya dan mendekap nya, "Sabar," bisiknya.
"Aku tak apa," jawab Adi tersenyum terpaksa.
"Indria sudah menghubungimu hari ini?"
"Iya, dia hanya mengingatkan sholat dan makan. Perhatiannya terlalu berlebihan."
"Tidak," sela Naya. "Itu sudah sewajarnya. Setelah pernikahan Sulaiman kamu pun akan menyusul. Dia akan menjadi pakaian mu dan melindungi kehormatanmu begitu pun dengan dirimu terhadapnya. Belajarlah untuk menerimanya dengan sepenuh hatimu. Jadikan Tita sebagai masa lalu yang harus kamu lupakan selamanya."
Adi menarik nafas, "Iya. Aku akan lebih berusaha."
"Hujan akan turun. Mari, Mama akan menemanimu di kamar mu."
Adi mengikutinya. Di atas pembaringan perlahan ia terlelap. Naya mulai membacakan ayat-ayat pendek kitab suci alquran untuknya.
...........
Hotel Fatahillah:
Angga mulai menjabat tangan Sulaiman,
"Sulaiman Fatahillah bin Ilham Fatahillah aku hikahkan dan kawinkan dirimu dengan putriku Tita Sopia binti Angga dengan seperangkat mas kawin emas seberat dua puluh gram di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya Tita Sopia binti Angga dengan mas kawin tersebut di bayar tunai!"
"Sah?"
"Sah!"
Tita ingin menangis. Kini ia dan Adiyasa di batasi tembok yang sangat kokoh dan tak mungkin untuk mereka robohkan. Fisiknya di samping Sulaiman namun hatinya berada bersama Adi yang kini duduk berdampingan dengan Indria. Sulaiman memasang cincin pernikahan pada jarinya begitu pula sebaliknya.
Indria terus tersenyum membayangkan dirinya yang sebentar lagi akan mengalami hal yang sama seperti Tita.
Lagi-lagi Tita sungguh muak dengan semua ini dan ingin ini segera berakhir. Semua ucapan selamat untuknya seolah kata yang mengejek.
"Aku yang menyiapkan ini semua," ucap Sulaiman kepada Tita tatkala ia dan Tita memasuki kamar pengantin mereka.
Hamparan kelopak mawar merah bertabur di seluruh lantai ruangannya. Tita ragu untuk melangkah. Sulaiman lalu menjamah tangannya menuju ranjang mereka.
"Hanya ada kita..." bisik Sulaiman. Ia menyeka rambut Tita yang di hiasi mahkota. Perlahan ia mendekat pada bibir wanita itu.
"Tunggu," ucap Tita. "Aku belum siap"
"Tapi aku siap."
Kecupan kecil mendarat di bibir mungilnya. Sulaiman mendekap tubuhnya dan menciumi legernya, "Sayang...." desahnya.
__ADS_1
Bersambung....