Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Kekesalan Susan pada Tita


__ADS_3

Meja makan:


"Tita, kenapa kamu tak hidangkan makanan untuk suamimu dulu? Apa aku harus menasihatimu setiap hari hanya untuk melakukan hal sesepele ini?"  Susan emosi hingga  Abdulloh, Ilham, Ragga, dan Naya terpaku.. Susan terlalu kasar kepada Tita hanya karena hal itu...


"Tak apa, Nek. Aku bisa ambil sendiri. Tita hanya belum terbiasa," sela Sulaiman.


Susan mendesah kasar. Ia pun menatap Tita yang berada di sampingnya dan memberikan nasihat dengan membentaknya, "Aku tak punya banyak tenaga untuk mengatakan ini terus-menerus padamu! Mulai detik ini aku ingin kamu harus belajar bertanggungjawab terhadap semua kebutuhan suamimu. Sebagai seorang istri tugasmu bukan hanya tidur di sampingnya.....semua kebutuhannya mulai dari pakaian dan makanannya adalah kewajibanmu sebagai istrinya! Lihatlah aku dan Bibimu Naya, tanya padanya apa pernah kami meminta pelayan untuk melayani suamiku dan Pamanmu Rangga?"


Tita benar-benar tersinggung dan tertekan. Ia menahan diri untuk tak tersulut. "Sini," pintanya meminta piring Sulaiman dengan wajah datar.


Suasana di meja makan menjadi panas dan sangat tak nyaman. Adiyasa tahu jika Susan hanya ingin Tita berubah dan ia anggap ini hal lumrah.


"Sedikit saja ayamnya," pinta Sulaiman.


Tita meberikannya piring itu dan menuangkan susu untuknya.


................................


PT. Beauty Cosmetic Fatahillah:


Tak di sangka Cita sudah menunggu di lobi. Ia mendekati Sulaiman dan Ilham dengan membawa kotak bekal makan siang, "Hey!" sambutnya.


Ilham tak menengok padanya sedikitpun dan berjalan lurus menuju ruangannya.


"Kamu?" sapa Sulaiman tak mengira.


Cita mengengkat kotak bekal itu dan berkata padanya, "Makan siang!"


Sulaiman tak menyukai ini...


"Kita makan siang sama-sama! Sesuai janji!" ucap wanita itu tersenyum lebar.


"Kenapa tak menghubungiku dulu? Aku baru saja selesai makan siang di kantin."


"Tak apa....ini juga hanya bawa siomay rebus. Ini buatanku yang ingin aku jual juga di kantormu, asal di ijinkan....." bisiknya di ujung kalimat.


"Maksudmu?" tanya Sulaiman sedikit tertawa karena bingung.

__ADS_1


"Kalau boleh aku mau jual makan siang di kantor ini. Keahlianku hanya ini selain berekting dadakan. Aku menggunakan uang hasil dari iklan itu untuk usaha makanan ringan."


"Oh..." angguk Sulaiman. Ia cukup terpukau dengan semangat dan tindakan wanita ini.


"Jadi bagaimana....?" tanya Cita.


"Bagaimana apa?"


"Ya...apa boleh aku jualan di kantormu?"


"Tak masalah asal kamu tak membuat rusuh dan gaduh."


Cita sangat senang dan kian mendekat padanya, "Habiskan ini. Aku akan meninggalkannya. Besok aku akan datang lagi dengan membawa jualanku."


Sulaiman mengangguk singkat dan memaksakan sedikit tersenyum.


"Aku pulang dulu...siomay ini bisa tahan sampai nanti malam, tinggal di hangatkan di rice cooker!" tutupnya dan menepuk sedikit lengan Sulaiman. Ia berjalan berjingkrak dan hilang ketika memasuki lift.


Sulaiman merasa ia begitu aneh...


"Tidak, Papa istirahat sebentar saja." Ia memijat keningnya dengan kuat.


"Kenapa Papa tak menikah lagi? Jika Papa memiliki pendamping pasti akan ada yang memperhatikan Papa. Sampai kapan Papa akan berharap pada Mama Naya?"


Ilham mengernyit dan menoleh padanya, "Papa tak menikah bukan  karena masih mengharapkan Naya melainkan Papa  samasekali tak begitu membutuhkan pendamping. Soal kebutuhan biologis atau perhatian Papa sudah tak menginginkannya lagi."


"Benarkah....?" tanya sang putra tak percaya.


"Silahkan bawa penari erotis di hadapan Papa..." tantangnya tersenyum sinis.


Sulaiman tahu ia berbohong. Ia masih mengharapkan semua itu hanya dari Naya.


"Apa yang diinginkan Cita darimu?" tanyanya dengan mata tertutup


"Oh, gadis itu hanya meminta izin untuk menjual makanan di kantor ini dan aku mengizinkannya."


"Hanya itu?"

__ADS_1


"Iya. Dia juga hanya menyerahkan bekal makan siang ini,' jawabnya menunjukkan kotak kecil itu.


"Hati-hati kamu, jangan main api. Sekali kamu terjebak kamu takkan akan bisa keluar lagi," tandas Ilham.


Sulaiman hanya mengagguk kecil dan mengatakan ya dengan singkat, "Bukan aku yang sudah menjadi pengkhianat, melainkan menantu Papa sendiri," batinnya.


"Pergilah, kembali ke ruanganmu," pinta Ilham.


Ia pun bangkit dengan terpaksa. Ia meminta sekertaris Ilham untuk lebih memperhatikan sang ayah.


...................


Di rumah Tita terpaksa membereskan kasurnya yang begitu berantakan. Susan sengaja menyuruh semua pelayan yang biasanya melakukan itu untuk mengabaikannya. Saat pertama masuk ke dalam kamarnya usai melukis ia uring-uringan dan berang dengan kondisi kamar itu. Sekilas ia menengok keluar kamar melihat pelayan yang sedang sibuk membereskan ruang tamu dan kembali lagi kedalam. Ia samasekali tak pernah melakukan semua ini dan sangat kewalahan. "Cih....dasar jorok!" umpatnya saat mengangkat cd sang suami yang berada di atas mesin cuci. " Kenapa dia tak langsung memasukkannya kedalam mesin cuci...! Ini  lagi!" bentaknya ketika melihat tumpukan baju Sulaiman di dalam keranjang cucian. "Kemejanya banyak sekali yang kotor! Kenapa pelayan tak mencucinya sejak tadi?!" Dengan langkah cepat ia mencari pelayan yang biasa melakukan semua itu, "Siapa yang biasanya membereskan kamar Sulaiman?" tanyanya geram pada salah seorang dari mereka yang melintas di hadapannya.


"Oh, biasanya Bik Darminah dan Sinti...saya pikir mereka sudah melakukan pekerjaannya...." jawab pelayan itu sesuai dengan permintaan Joana sebagai tangan kanan Susan.


"Di mana mereka sekarang?"


"Mereka tadi saya lihat di bawah pohon jambu sedang ngerujak," jawabnya takut.


Tita bergegas menghampiri keduanya. Darminah dan Sinti bersiap menghadapinya saat ia mendekat.


"Non Tita...." sapa Darminah cengegesan.


"Kenapa kalian enak-enakan di sini sebelum tugas kalian selesai?! Segera bersihkan kamarku!" perintah Tita tak ingin banyak omong dengan kedua telapak tangannya di pinggang.


'Eh.. maaf Non. Sekarang itu bukan tugas saya lagi dan Sinti. Kami sekarang bertugas mengurusi tanaman karena tukang kebun yang kemarin tiba-tiba sakit keras."


Tita menyentuh keningnya karena pusing dengan semua ini, "Sekarang aku perintahkan padamu untuk membereskan kamarku! Aku juga majikanmu bukan hanya Nenek Susan dan Mama Naya! Aku perintahkan padamu untuk melakukan semua itu sekarang!"


"Sinti...! Darminah..!" panggil Joana tiba-tiba dari arah depan rumah.


"Maaf Non Tita, kami harus segera pergi..." ucap Darminah. Ia berlari bersama Sinti menjauhi Tita.


Tita tak percaya dengan semua ini....untuk pertama kalinya dalam hidupnya seorang pelayan berani menolak perintahnya...


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2