
Tita terkejut. Ia tak terima dengan tuduhan papanya itu.....
" Kamu jangan bertindak gila yang membuat nama baik suamimu tercoreng!" sungut Angga lagi
"Aku tak melakukan apa pun Pa....! Kenapa tak ada yang memihakku! Aku bertemu dengan Adi hanya sejenak dan kami tak melakukan apapun! Apa sekedar dekat seperti itu masih di permasalahkan!"
"Turuti apa yang Papa katakan, jauhi Adiyasa dan fokus pada pernikahanmu. Jangan bertindak ceroboh yang bisa menyusahkan dirimu dan orang lain..."
Tita mendesah kasar seraya bangkit, "Aku tak pernah merasa melakukan kesalahan dan Papa tenang saja, tak akan terjadi hal buruk apapun. Aku juga masih waras dan punya akal jernih."
Angga menggeleng. Ia melepaskan kuasnya lalu berdiri menjauhi kanvas di hadapannya, "Papa ingatkan sekali lagi....jauhi Adiyasa dan terima pernikahanmu dengan Sulaiman. Aku papamu dan hanya inginkan kebaikan untuk dirimu."
Tita memejamkan matanya karena sudah sangat kesal. Ia berpikir tak ada gunanya berdebat dengan orang yang tak memahami jalan pikirannya, "Baik, aku paham. Aku akan ingat pesan Papa selalu," tutupnya.
Angga lantas merijek ponselnya. Tita melepas ponselnya di meja riasnya dan berjalan menuju kamar mandi. Ia membasuh wajahnya agar pikirannya lebih jernih, "Masa bodo dengan kalian semua. Ini hidupku dan kalian sudah melampaui batas mengaturku. Kali ini aku takkan menuruti siapapu...." bisiknya tajam.
.......................
20.00 wita:
"Mas," sapa Indria menyambut Adi di teras depan. "Aku sudah buatkan puding susu untukmu."
Sulaiman iri dan menginginkan Tita juga bersikap yang sama padanya, akan tetapi Tita malah memperhatikan Indria dan Adiyasa.
"Repot-repot," jawab Adiyasa tersenyum tipis, "Kamu di ajari Mama?"
"Nggak, ini inisiatifku sendiri...." jawabnya.
"Benarkah? Coklat, mangga, atau ceri?" tanya sang suami kaku.
"Bluberi."
__ADS_1
Adiayasa paling tak suka sesuatu dengan rasa bluberi tetapi tak mungkin ia menolak apa yang sudah di buat dengan susah-payah oleh istrinya ini.
Tita tersenyum sinis. Ia tahu benar Adiyasa samasekali tak menyukainya. Melihat ekspresinya Sulaiman menarik pergelangan tangannya menuju kamar mereka.
"Kasar banget sih!" bentaknya menarik tangannya.
Sulaiman langsung membanting tas selempangnya di atas ranjang. Ia membuka jas dan kemejanya juga dasi kemudian celana panjangnya.
Tita melotot. Ia mundur menjauh. Tak di sangka pria itu langsung mengangkat tubuhnya dan membaringkannya di ranjang mereka.
"Apa yang akan kamu lakukan!" pekiknya.
"Aku akan melakukan apa yang seharusnya kulakukan sejak dulu," ucapnya Sulaiman dingin. Ia berusaha melepas kancing baju Tita dengan kasar hingga terlepas. Tita berusaha menghalanginya akan tetapi ia tak mampu.
"Jangan Kak aku mohon..." rintihnya.
Sulaiman menarik celana panjangnya dan mulai melakukan kewajibannya sebagai seorang suami.
Tita menangis. Sulaiaman sangat menikmatinya hingga perlahan tangisan wanita itu menghilang.
"Habiskan dong, nanti kalau ini habis aku buatkan lagi," ucap Indria senang.
"Tidak," sergahnya Adiyasa.
"Kenapa? Rasanya tak enak ya....?"
"Nggak, nggak begitu...ini rasanya enak banget kok, tapi aku ingin sekali memakan rasa mangga. Besok bisa buatkan lagi kan?" hiburnya buru-buru.
"Oh, boleh. Aku akan buatkan yang banyak," ujar Indria sumringah.
"Terimakasih."
__ADS_1
"Nanti mau kupijiti tidak?" tanya wanita itu menggoda.
Adi ragu menjawab.
"Nggak mau....?"
"Mau, tapi aku mandi dulu. Tapi memangnya kamu tak lelah?"
"Nggak, untuk Mas Adi tak ada kata lelah untukku."
Ucapannya ini membuat Adi merasa bersalah. Wanita ini terlihat sangat tulus dan begitu mencintainya akan tetapi rasa cintanya hanya murni kepada Tita.
"Ayo, kita ke kamar. Bawa saja pudingmu!" seru indria bersemangat. Ia mengulurkan tangannya dan Adiyasa menurut.
22.00 wita:
Tita terus menangis. Sulaiman cukup meresa bersalah padanya. Jika bukan karena pengkhianatannya yang sudah ia ketahui di televisi tadi di ruangan kantornya ia takkan berbuat kasar seperti ini....
"Kamu jahat.....aku benci padamu!" sergah sang istri tidur membelakanginya.
"Maaf, ini untuk terakhir kalinya aku melakukan ini dengan memaksa," pinta Sulaiman. Ia mendekatinya dan memeluknya. "Aku mencintaimu...." bisiknya.
Tita pasrah. Keduanya tertidur karena terlalu kelelahan....
Pagi buta wanita itu membersihkan tubuhnya yang terasa menjijikkan akibat percintaanya semalam. Tubuhnya sampai memerah dan tersayat akibat ia menggosok nya terlalu kasar. Bekas ciuman Sulaiman di sekujur tubuhnya berusaha ia hapus karena tak ridho selama hampir 2 jam.
"Kenapa dia tak juga keluar?" bisik Sulaiman. Ia mendekati pintu kamar mandi dan mengetuknya pelan, "Tita.....apa yang sedang kamu lakukan? Kamu baik-baik saja kan? Ini sudah waktunya sarapan."
Tita lekas membasuh tubuhnya dan memakai handuk. Sulaiman terkejut saat melihatnya, "Apa ini? Kenapa sampai seperti ini....?"
"Ini kan yang kamu inginkan?" sela wanita itu dengan mata memerah, "Kamu memaksakan kehendakmu dengan semena-mena."
__ADS_1
Sulaiman terpukul. Wanita ini sampai melukai dirinya karena sungguh tak menginginkannya....
Bersambung....