Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Bertemu diam-diam


__ADS_3

06.00 wita:


Indria berkutat di dapur bersama Naya dan Susan menyiapkan sarapan. Ini pengalaman baru bagi ketiganya karena kehadiran Indria. Indria melihat cara kerja Naya yang terlihat begitu gesit dan cekatan tanpa kesalahan sedikit pun.


"Garam untuk telur dadarnya lebih banyak, Adi suka telur yang agak asin," pinta Naya menasihatinya


"Segini ya, Ma?" tanyanya memperlihatkan setengah sendok teh garam.


"Sedikit lagi."


Indria mengikuti ucapnya. Ia lantas mengocok lalu menggorenya dengan minyak yang lumayan banyak. Melihat itu Naya kembali menegurnya, "Singkirkan sedikit minyaknya. Itu terlalu banyak."


Indria dengan sabar mengikuti keinginannya.


Asap dapur kian mengepul dan membuat mata perih karena tumisan bawang putih dan cabai yang di tumis oleh para pelayan untuk sarapan mereka sendiri. Naya dan sang menantu membawa semua masakan mereka ke meja makan di bantu empat orang pelayan. Susan memanggil Abdullah dan Tita juga Sulaiman di kamar mereka


Ketika di meja makan Indria melemparkan senyuman pada Tita akan tetapi wanita itu malah berpaling dan Itu membuat hati Indria cukup terganggu.


"Mas mau seberapa nasinya?" tanyanya.


"Dua sendok saja," jawab Adi kaku. Ia sangat tak nyaman karena takut Tita cemburu.


"Mas mau telur dadar atau sup kacang merah?" tanyanya kembali.


"Keduanya."


Susan salut pada Indria. Ia kian marah pada Tita dan kian tak berkenan padanya.


Sulaiman muram. Ia mengambil sendiri roti dan menuang susu untuk dirinya. Dengan kelakuannya itu di depan seluruh keluarga Tita pun kian marah. Ia merasa seperti istri dan menantu yang tak di inginkan di keluarga ini. Indria terlihat manis dan lebih unggul darinya. Karena sudah amat tersinggung apa lagi saat wanita itu menyeka makanan di ujung bibir Adiyasa ia pun bersikap manis pada Sulaiman, "Kamu mau jus?" tanyanya tiba-tiba.

__ADS_1


Sulaiman menatapnya karena bingung, "Boleh," ucapnya. Ia tersenyum tipis karena tahu pasti Tita melakukan ini karena cemburu dengan kemesraan Adi dan Indria, "Aku mau pisang kejunya juga."


Tita memenuhinya, "Ada lagi, Kak?" tanyanya begitu halus.


"Cukup, Sayang."


Adiyasa terbakar api cemburu. Ia jadi tak nafsu makan. Ini pertama kalinya Sulaiman dan Tita bersikap mesra di hadapannya.


"Mas mau bawa roti sebagai bekal makan siang?" tanya Indria berharap.


"Tidak, aku akan pesan makan saja nanti." Adiyasa sangat dingin. Ekspresi wajahnya sangat datar. Ia mengelap mulutnya berbarengan dengan Rangga kemudian memohon pamit.


"Mas," cegat Indria saat di ruang tamu. Ia meraih telapak tangan sang suami dan menciumnya, "Hati-hati....."


Adiyasa menyentuh wajahnya dan berlalu. Sikapnya tak seperti semalam seolah ia marah, tetapi sang istri berusaha berpikir positif. Indria juga belum begitu mengenalnya dan beranggapan inilah sikap dirinya yang baru ia ketahui.


"Aku juga pamit," pinta Ilham diikuti Sulaiman.


Seluruh keluarga meninggalkan meja makan kecuali Tita dan Indria.


"Kamu nanti akan melukis?" tanya Indria tersenyum.


Tita mengangkat wajahnya, "Memangnya kenapa?"


"Tidak, aku hanya penasaran. Nanti aku boleh ikut kan ke gallery mu?"


"Maaf, aku paling tidak bisa di ganggu ketika melukis. Kamu punya kegiatan yang lain juga kan? Masakan mu lumayan enak. Kenapa tak bekerja buka kettering? Kamu akan menyusahkan Adi jika terlalu membebaninya dengan kebutuhan mu. Lagipula bukan jaman nya lagi bergantung di ketiak suami."


Indria tersinggung. Ucapan Tita jauh dari kenyataan dirinya yang sudah berkomitmen untuk menjadi ibu rumah tangga seutuhnya.

__ADS_1


"Aku permisi," pinta Tita. Ia tersenyum melihat ekspresi wajah Indria.


"Apa benar ucapannya? Gaji Mas Adi memang besar. Tetapi jika ku gunakan juga pasti suamiku akan keteteran...." batinnya.


"Non," sapa Joana. "Jangan terlalu mendengarkan ucapan Nona Tita. Dia sepenuhnya tak benar."


"Kamu jangan ikut campur urusan majikanmu, aku tak suka," balas Indria ketus. "Bantu aku membawa semua piring ini," perintahnya.


"Tapi, Non, anda tak perlu melakukannya. Biar saya dan pembantu yang lain yang melakukan semua ini."


"Tak, apa. Aku biasa melakukannya," timpal Indria.


...............


Tanpa sepengetahuan siapapun Tita menghubungi Adi melalui wa untuk menemuinya di sebuah restoran. Ia memaksa hingga Adiyasa menyerah. Joana mengintainya di luar gallery dan curiga saat ia tiba-tiba pergi usai bermain dengan ponselnya.


Cafe D:


Terlihat Adiyasa menunggu dengan kegelisahan di ujung cafe. Tita memasang senyuman manisnya dan duduk di seberangnya.


"Ada apa? Ngapain kita ketemu seperti ini?"


"Jadi kamu sudah tak menginginkanku lagi setelah punya istri?" tanya wanita itu sendu.


"Maaf, tetapi ini salah....sama hal nya kita berselingkuh di belakang Indria dan kakak ku."


Mata Tita berkaca-kaca. Hidungnya mulai memerah seperti ceri, "Aku hanya minta waktu sedikit, aku tak meminta lebih dari ini...."


Di luar Cafe tiba-tiba terjadi kericuhan. Semua orang berlarian dan sebuah batu terlempar memecah kaca cafe itu hingga semua pengunjung histeris dan berlari menjauhi kaca itu. Seseorang nampak terluka di bagian wajah akibat pecahan kaca yang mengenainya....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2