Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Kegundahan Indria


__ADS_3

"Sebenarnya kita akan kemana?" Indria bingung karena Adi seolah tak punya tujuan, "Balik aja yuk, rasanya tak pantas kita bertindak begini."


Adiyasa membisu dan terus melaju lurus hingga tiba di dalam mall tepatnya di depan sebuah cafe, "Turunlah," perintahnya.


Indria menatap cafe itu bingung usai turun dari mobil.


"Ayo!" bentak Adi hingga ia buru-buru mendekat.


Adiyasa memesan segelas kopi dingin dan seporsi besar pizza. Indria tak mengerti dengan dirinya, "Sebenarnya kamu kenapa, Mas?"


Adi tak merespon. Ia diam menatap meja kosong di hadapannya.


"Mas...." tegur Indria dengan halus.


"Aku hanya sedang lapar. Dari tadi aku hanya makan kue. Mag ku rasanya mau kambuh. Kenapa kamu tak pesan sesuatu?"


"Aku tak bawa uang sepeser pun. Mas juga nggak nawarin?"


Adiyasa tersenyum, "Kamu polos sekali. Pesan lah, nanti aku yang bayar."


"Serius? Jangan-jangan nanti Mas Adi hanya mengelabuiku," gumam Indria terkesan manja.


Adi tertawa. Ia menarik menu di sampingnya dan memberikannya pada gadis itu, "Silahkan, pesan sesukamu."


Indria tersenyum manis. Melihat ekspresi lucunya Adi hanya geleng-geleng.


Gadis itu memesan menu yang terbilang lumayan murah karena ia malu dan masih canggung pada Adiyasa. Adi tahu hal itu namun tak menghiraukannya.


"Kamu kelihatannya tak suka dengan nasi goreng mu," sela Adi di tengah menikmati pizza.


Indria buru-buru geleng kepala, "Nggak kok aku suka. Cuma rasanya aku ingin lebih asin."


Adiyasa mengambil garpu dan menyendok nasi goreng miliknya. Indria melotot.


"Kamu benar, tambahkan saja sedikit garam. Tapi pizza ku sangat lezat, kita makan sama-sama," ucap Adi menarik sepiring pizza nya ke hadapan Indria.


"Ternyata kamu memang baik, Mas...." batin Indria. "Ngomong-ngomong kamis besok kita tunangan. Apa kamu benar-benar sudah siap?"


"Tentu, kamu keberatan jika acara kita tak semeriah Tita?"


"Nggak kok, Mas. Justru aku senang karena hanya keluarga inti yang di undang."


Sebelumnya jumat kemarin sudah di putuskan dengan mantap jika pertunangan mereka akan di adakan pada hari kamis.


16.00 wita:


Cukup lama Adiyasa dan Indria di tempat itu. Adi menengok jam pada pergelangan tangannya, "Sholat ashar yuk, kita lumayan molor nih."


"Iya, Mas. Cari masjid dekat sini aja."


"Habiskan jus mu, mubazir."


Indria menenggak sekaligus sisa minumannya kemudian mengelap mulutnya dengan tisu yang tersedia.


Sedangkan di pesta pertunangan perlahan para tamu berangsur-angsur meninggalkan acara. Naya sedikit menjauh dan menelpon Adiyasa. "Halo, Nak. Kamu di mana?"


"Aku di luar bersama Indria mau langsung ke masjid, sekarang masih dalam perjalanan. Bagaimana acaranya?"


"Sudah berakhir. Kamu sudah makan siang?"


"Sudah. Mama belum makan kan? Makan siang dulu. Papa dan Ilyas juga."


"Iya, Sayang. Kami akan makan bersama sebelum pulang. Kamu hati-hati. Jaga Indria baik-baik. Antar dia langsung pulang ke rumahnya."

__ADS_1


"Ya, assalamualaikum."


"Wa'alaikum salam."


Adi mendesah. Indria menoleh. Pria ini terlihat seolah sedang memendam suatu tekanan. "Kamu mencintai Tita?" tanyanya tiba-tiba.


Adiyasa sekilas menoleh dan kembali fokus ke depan, "Tidak."


"Tidak apanya?"


"Semuanya sudah berakhir."


"Kenapa tak jujur padaku?"


"Sudahlah, tak usah di bahas lagi."


Indria bingung. Ia ingin mengulangi pertanyaannya karena penasaran ingin kejelasan yang sejelas jelasnya.


Sampailah mereka di islamic center. Keduanya berjalan berdampingan memasukinya. Seketika hati Adiyasa menjadi tentram terlebih karena lantunan shalawat yang begitu merdu. Adi dan Indria berpisah karena tempat wudlu mereka terpisah.


Tak lama mereka menunaikan sholat, Adi memasang sepatunya dan menghampiri Indria di parkir an. Gadis itu melemparkan senyum padanya, "Mas, lama juga ya?" candanya.


"Memangnya kamu tak doa dulu?"


"Sedikit, cuma sedikit yang ku pinta."


Adiyasa membukakan pintu mobil untuknya, "Terimakasih," ucap Indria.


"Tak payah," celetuk Adi seraya menutup pintu mobil kembali untuknya.


10 menit kemudian.....


"Mas gak mau mampir dulu?"


"Nggak enak lah, Om dan Tante tak ada di rumah. Lain kali saja. Tunggu saja mereka pulang, paling sebentar lagi."


Adiyasa mengangguk.


.......................


21.00 wita:


Indria bercerita pada Max dan Prisil tentang Adiyasa dan Tita di kamar kedua orangtuanya itu di atas ranjang. Kedua orangtuanya menjelaskan padanya tentang situasi Tita, Sulaiman, dan Adiyasa yang sesungguhnya. Mereka menjelaskan apa yang mereka ketahui dari kejujuran Rangga dan Naya. Dada Indria terasa nyesak. Ia sedikit tak terima dengan semua itu. Akan tetapi Prisil berusaha meyakinkannya jika Adi dan Tita benar-benar sudah usai.


"Mama minta kamu lupakan semua ini. Jangan berpikir negatif mengenai Adiyasa. Dia pemuda yang baik dan Mama yakin dialah yang terbaik untukmu."


Indria menunduk dan hampir menangis. Prisil tak tega dan mengangkat wajah putrinya itu dengan kedua tangannya, "Adiyasa adalah milikmu. Dia sudah ditakdirkan untukmu, bukan Tita atau yang lain."


"Cinta bisa tumbuh dengan interaksi yang terus-menerus. Om Rangga dan Tante Naya juga begitu," terang Max tersenyum.


"Yang benar, Pa?"


"Tanya pada Tante Naya jika kamu ragu. Kisahnya dengan Om Rangga begitu panjang dan berliku. Akhirnya mereka hidup bahagia hingga detik ini."


Indria memalingkan pandangannya dan memikirkan semua cerita ini. Ia pun menyerah, "Aku mengerti. Tapi aku minta kepada Mama dan Papa untuk tak menyembunyikan apapun lagi dariku. Jika ada sesuatu mengenai Mas Adi aku mau Papa dan Mama terbuka. Aku tak mau ada kebohongan dan rahasia apapun sebelum aku sah menjadi istri Mas Adiyasa."


Indria trauma dengan kebohongan kedua orangtuanya. Ia memohon pamit untuk kembali ke kamarnya.


Sepeninggal sang putri, Prisil menghubungi Naya dan menceritakan hal itu padanya. Naya kemudian menekan speaker ponselnya agar Rangga juga mendengarnya, "Aku khawatir jika ini mempengaruhi kejiwaan Indria, Nay."


Naya pun khawatir, ia berusaha berpikir positif dan menenangkan Prisil, "Besok aku akan datang ke rumahmu dan mengajaknya berbicara sejenak jika kamu mengizinkan."


"Tentu, Nay. Yakinlah dia. Aku tak mau perjodohan anak kita sampai gagal."

__ADS_1


"Iya, aku mengerti. Serahkan semuanya padaku dan Mas Rangga," tutupnya.


Naya menaruh ponselnya kembali di atas ranjang. Rangga menarik tangannya dan memeluknya, "Aku akan memberikan izin besok siang untukmu menemuinya. Jujur padanya tentang segalanya mengenai Adiyasa karena dia berhak untuk tahu. Kita salah juga sebagai orangtua menyembunyikan hal sesungguhnya padanya."


"Iya, Mas. Terimakasih."


"Untuk apa?" canda Rangga menengok wajahnya.


"Untuk cinta dan pengertian mu."


Rangga mengecup bibirnya dan membaringkan nya. Naya memejamkan matanya dan berusaha untuk terlelap. Akan tetapi tiba-tiba ia teringat dengan Rindu, "Mas."


"M?"


"Semalam Rindu menghubungimu."


"Apa?" Rangga terkejut.


"Mm," angguk Naya. "Tiba-tiba dia menghubungimu dan aku bertanya ada apa tetapi dia tak mau bilang dan langsung menutup teleponnya."


"Memangnya dia mau apa?" tanya Rangga balik.


"Mana aku tahu? Aku ingin Mas menegurnya. Aku sangat terganggu dan merasa tak tenang."


"Iya Sayang....saat masuk kerja nanti aku akan langsung menegurnya. Sekarang kita tidur....siapa tahu esok hari sudah ada dede bayi di dalam rahim mu...."


Naya tersenyum geli dan lantas memejamkan matanya kembali.


.................


Senin pagi:


Ruangan rumah keluarga Fatahillah di dekorasi dengan cantik oleh Naya. Tak terlalu glamor tetapi terkesan elegan dan nyaman untuk para tamu nantinya. Hanya Abdullah, Susan, dan Ilham beserta saudaranya yang lain mengetahui rencana pertunangan Adiyasa.


Setelah semuanya beres Naya lantas pergi menemui Indria di rumahnya. Gadis itu tak menyangka jika ia kedatangan sang calon mertua. Dengan hangat dan sopannya ia menyambut kedatangan Naya, "Mama.... silahkan masuk. Mama ku sedang keluar menyebarkan undangan untuk keluargaku. Papa masuk kantor."


"Jadi kamu sendirian?"


"Iya."


Keduanya duduk di sofa. Naya menyeka rambutnya, "Mama mu sudah bercerita semalam tentang keraguanmu. Tak ada yang perlu di khawatirkan. Adiyasa sudah mantap dengan pilihannya. Mama yakin, nantinya keluarga kecil kalian akan langgeng selamanya karena Adiyasa telah menjatuhkan pilihan yang sangat tepat, yaitu dirimu. Sekalipun ini berawal dari perjodohan."


"Mama yakin?"


"Iya, Nak. Papa mu Max dan Papa Rangga selama hidupnya tak pernah mengambil keputusan yang salah."


Indria menjatuhkan diri kedalam pelukan Naya. Aroma dan rasa pelukan Naya sama dengan rasa saat ibundanya memeluknya.


"Mama ingin melihat gaun yang akan kamu kenakan nantinya."


Indria lantas melepaskan pelukan itu dan bangkit. Ia menarik tangan Naya dengan halus menuju kamarnya.


Gaun itu membuat Naya terpukau. Pilihan yang sangat tepat menurutnya. Gaun itu sopan dan tak terlalu mentereng, sesuai dengan apa yang di sukainya.


"Bagus kan, Ma?"


"Iya, cantik sekali."


Indria juga menunjukkan sepasang sepatu yang akan di kenakan nantinya. Lagi-lagi Naya terpukau. Ia berpikir jika selera Indria hampir sama dengan seleranya.


"Aku tak mau Mama boros dengan acara ku nantinya, jadi apa yang ada sebaiknya di gunakan."


"Kamu benar."

__ADS_1


Hari ini hingga pertunangan dirinya dengan Adiyasa, Indria cuti dari hotel untuk mempersiapkan pertunangan nya. Sementara Adiyasa tetap masuk kerja karena posisinya sebagai seorang menejer.


Bersambung.....


__ADS_2