Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)

Cinta Tita (Sambungan Suamiku Majikan Ku)
Hampir tertabrak


__ADS_3

22.00 wita:


Adi mengguyur tubuhnya di bawah shower. Bayangan Tita seolah tampak di pelupuk matanya. Ia memutar keran dan mengambil handuk lalu melilitnya di pinggang.


Setelah menghanduki tubuhnya di depan lemari pakaian ia menjatuhkan handuk itu dan mencari kaos beserta ****** ***** dan celana panjang. Ia memakainya dan menyisir rambutnya di depan cermin. Jam tangan Fossil menjadi pilihannya. Ia menyemprotkan sedikit parfum pada pergelangan tangannya lalu menggosoknya dan mengoleskannya pada kedua belah lehernya. Sejenak ia menatap dirinya. Apa yang akan ia lakukan saat ini hanya untuk menyenangkan hati Tita, bukan untuk menyaingi Sulaiman ataupun merebut Tita dari dirinya. Ia hanya tak ingin Tita kembali jatuh sakit.


Angga dan Liana mengizinkan Tita pergi berdua bersama Adiyasa. Alasan seperti biasa Tita berikan jika ia ingin bermain sejenak bersama pemuda itu. Bagi Angga keduanya hanyalah teman sepermainan yang tak mungkin bisa di pisahkan begitu saja. Sekalipun ia tahu bagaimana perasaan keduanya. Ia akan mencari celah untuk memisahkan mereka dan menyatukan Tita bersama Sulaiman.


Wajah Tita amat cerah. Ia terus tersenyum di depan cermin bahkan lagu cinta mendendang merdu dari bibir merahnya yang berkilau.


Tita berjalan sambil berjingkrak mengitari rumah megahnya dan menghampiri Angga serta Pram dan Liana yang sedang bersantai di ruang tamu.


"Bagaimana? Pas kan, Nek?" tanyanya ceria kepada Liana. Ia sudah dandan maksimal untuk Adiyasa.


"Kamu akan pergi bermain dengan Adiyasa kan? Kenapa tak seperti biasanya?" tanya Liana.


Tita kikuk. Ia mendapatkan alasan masuk akal dalam sekejap, "Oh, kami akan dinner di restoran Eropa. Jadi aku sedikit berdandan. Bagus kan?"


Liana tak merespon dan hanya terdiam menatapnya lekat. Tita agak tak mau ambil pusing agar mood nya tak rusak.


Akhirnya Adiyasa tiba. Tita langsung berlari menyambutnya.


Adiyasa turun dari mobil sembari melepas kacamata hitamnya. Ia begitu terpesona dengan kecantikan Tita hingga tak berkedip.


"Ayo masuk dulu," pinta Tita mengulurkan kedua tangannya. Adiyasa menyambutnya dan gadis itu memeluk lengannya dengan begitu erat seolah takut jika ia akan terlepas dan menghilang kembali seperti seekor burung yang begitu berharga.


..................


Suasana remang dengan tiga buah lilin di atas meja serta alunan gesekan biola terasa begitu romantis. Dua orang pelayan menghidangkan makanan pembuka. Tita melemparkan senyum kepada Adiyasa seraya mengangkat gelas sirup orange miliknya. Adiyasa begitu terpesona padanya hingga ia tak lepas menatapnya samasekali sambil mengangkat gelas sirup markisa miliknya.


"Boleh aku memanggilmu mas?" pinta Tita.


Adiyasa hampir tersedak, "Mas?" ia menaruh kembali gelas sirup nya.


"Seperti Mama Naya pada Om Rangga. Boleh kan?"


Adiyasa tertegun. Mas? Astaga.....Gadis ini meminta hal aneh begini padanya?


"Panggil nama saja. Aku tak enak pada Kak Sulaiman."

__ADS_1


"Memangnya kenapa dengannya?"


"Aku sudah tahu jika kalian di jodohkan."


Tita kecewa. Wajahnya cemberut dan itu membuat Adiyasa takut.


"Kamu harus mengerti bagaimana kita kini. Maksudku juga rasanya tak lazim jika kamu memanggil ku begitu....secara aku lebih muda dari mu dan dulu aku memanggil mu kakak. Orang-orang akan bertanya bagaimana hubungan kita sekarang....."


Tita paham dan ia mengerti. "Mau aku suapin? Kelihatannya makananku lebih enak dari punya mu," pintanya kemudian.


"Boleh," angguk Adi bijak.


Sedangkan Sulaiman yang baru pulang dari kantor langsung menemui Tita di rumahnya. Ia sudah kangen ingin melihat sosoknya. Setangkai bunga mawar sudah ia siapkan sebagai kejutan. Akan tetapi yang di dapatinya di luar dugaan. Gadis itu malah berkencan bersama saingannya, Adiyasa. Angga memberitahukan lokasi di mana putrinya berkencan kini. Hati Sulaiman terbakar api cemburu. Pikirannya kacau seketika. Ia melajukan mobilnya dengan kencang menuju di mana Tita berada.


Sesampainya ia mendapati mobil Adiyasa di parkir an. Ia turun dari mobil dan masuk kedalam restoran. Ia bisa langsung menangkap sosok keduanya. Ia mencari meja tak jauh dari mereka untuk mengintai apa saja yang sedang mereka lakukan.


"Silahkan, Tuan," ucap pelayan wanita seraya menaruh buku menu di hadapannya.


"Aku minta hot coffee saja."


"Darimana kamu tahu jika aku akan di jodohkan bersama Kak Sulaiman? Apa dia sendiri yang mengatakannya?" tanya Tita.


"Aku mendengar semua itu dari mulut papa hingga aku jatuh sakit," ungkap Tita.


Ternyata imbas dari semua perjodohan ini menggoreskan luka yang sangat dalam sampai seperti ini, pikir Adiyasa.


"Aku tak tahu bagaimana cara menolak keinginan papa. Aku tak mau jadi anak durhaka," sambung Tita.


"Apa yang mereka bicarakan?" bisik Sulaiman cemas. Ia tak bisa mendengar ucapan Adi dan Tita.


Adi dan Tita menggunakan momen ini untuk mengeluarkan apa yang mereka pendam. Sulaiman berusaha lebih bersabar sampai jam di tangan kirinya sudah berada pada pukul dua belas malam.


Adi memanggil pelayan untuk membawakan tagihan. Usai itu keduanya bangkit dan keluar dari dalam restoran. Sulaiman mendesah lega dan mengikuti mereka.


"Mas, Ririn temanku menelpon. Aku angkat dulu," izin Tita dan menjauh dari Adiyasa.


Adiyasa terpaku karena panggilan 'mas'. Ia tak ambil pusing dan merogoh kunci mobilnya dari dalam saku celananya.


Tita terus berjalan menjauh dan tanpa ia sadari sebuah motor melintas begitu cepat. Sulaiman berteriak dan segera menarik tangannya surut ke belakang dan memeluknya, "Kamu tak apa, Sayang ku?" tanya Sulaiman berbisik. Ia sangat ketakutan dan kemudian mendekap Tita sangat erat.

__ADS_1


Adiyasa terpaku melihat keduanya.


Pelukan itu bertahan hampir 30 detik. Sulaiman begitu menikmatinya hingga ia tak sadar Tita sudah merasa sesak, "Kak....aku sesak," bisik Tita.


Sulaiman lantas melepas pelukan itu dan menyeka rambut panjang nan bergelombang nya, "Kamu tak apa? Kenapa teledor sekali?"


Tita menggeleng cepat dengan mulut yang susah untuk mengeluarkan suara, "Maaf."


Sulaiman kembali memeluknya dan Tita hanya pasrah.


Adiyasa cemburu bukan main. Ia berpaling tak ingin melihat semua itu dengan perasaan tak rela dan memutuskan untuk menghampiri mereka.


"Tita."


Tita pun tersadar dan berusaha melepaskan pelukan itu. Sulaiman berbalik dan menatap Adi tajam. "Kamu kenapa lalai begini membawa Tita!" tandasnya.


Adi mengernyit, ia mengeraskan rahangnya dan mengepalkan kedua tangannya.


"Ikut aku pulang!" sergah Sulaiman menyambar pergelangan tangan Tita dan membawanya pergi.


Adiyasa mendesah kesal. Harusnya Sulaiman tak bersikap berlebihan seperti ini, pikirnya.


Tita tak bicara apapun selama di jalan. Sulaiman sesekali menengok padanya. Ia geregetan dan menepikan mobilnya lalu melepaskan sabuk pengamannya kemudian bangkit dan menyentuh kedua pundak Tita dan mencium bibirnya.


Tita melotot. Sulaiman menikmati bibirnya begitu lama dan ia melepaskan Tita dengan nafas memburu.


Tita tak percaya ini. Sulaiman mengambil ciuman pertamanya....


Pria itu tak mengerti mengapa ia melakukan semua ini?


Tita menangis. Ia mencoba menenangkan nya dengan mencoba menyentuh kepalanya, "Maafkan aku, aku sungguh khilaf."


Tita membuang muka. Ia tak ingin samasekali melihat wajahnya.


...................


Setelah sampai di rumah Tita langsung turun dari mobil itu dan berlari kedalam rumah. Sulaiman merasa berdosa padanya. Suasana rumah itu sangat sepi. Ia tak ingin mengganggu Angga dan segera pergi.


Tita langsung mengunci kamarnya dan menghempaskan tubuhnya di atas ranjang. Ia menangis hingga seluruh tubuhnya basah oleh keringatnya.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2