
Saat Arga membuka mata, dia merasakan tubuhnya terasa segar. Oh, baru ingat kalau semalam baru saja selesai dipijat oleh sang istri. Sekarang, dimana sosok itu? "Oh iya, pasti lagi masak." Arga diam sejenak. "Enak banget punya bini. Serasa punya pembantu pribadi."
"Pembantu pribadi matamu! Bangun!"
Manik Arga seketika terbuka mendengar suara itu, dia menoleh dan mendapati Aluna yang masuk ke kamar. "Bangun, kamu harus ke kantor kan?" Datang mendekat untuk mengecek suhu badan sang suami dengan menempelkan tangan pada keningnya. "Gak panas. Bangun cepetan. Aku mau beresin kasurnya. "
"Cie yang modus pengen pegang pegang. Bilang aja mau nyentuh."
"Heh! Seenaknya aja."
Arga dengan santainya masuk ke kamar mandi. Aluna tidak habis pikir, dulu pria ini dingin dan pendiam. Kenapa sekarang terlihat menyebalkan dan selalu memancing amarahnya? Sudah memperkosa dan belum minta maaf juga.
"Uhuk! Uhuk!"
Mendengar suara batuk sang anak, Aluna langsung melangkah menuju Elmira yang baru saja bangun. "Minum dulu, Sayang."
"Mama, El sekolah sekarang?"
"El mau sekolah cepet cepet?"
"Nggak sih. Uhuk! Uhuk! Uhuk!"
Aluna mengelus punggung sang anak. Ketika ditawari untuk duduk dipangkuan, Elmira langsung naik ke sana dan memeluk sang Mama sambil mendengarkan detak jantungnya. "Mama… " Panggilnya demikian.
"Kenapa, Nak?"
"Papa mana?"
"Papa di sini." Arga yang sudah selesai berpakaian dan siap berangkat itu masuk ke kamar sang anak.
"Ih, Papa udah mandi. El belum." Anak itu tidak Terima.
"Gak usah mandi cepet cepet. Kan El gak kemana mana. Sekolahnya nanti, seragamnya belum dikirim ya? Minggu depan deh mulainya. Sekarang mah tungguin Mama di sini. Kan mama lagi sakit."
"Papa kerja?"
"Kerja dong. Biar bisa dapet duit biar El sekolah." Mengelus rambut sang anak yang mana membuat Aluna berpaling. Dia tidak suka bagaimana tangan Arga hampir menyentuh dadanya. "Yuk sarapan dulu. Mau Papa gendong gak?"
"Nggak, kan El udah gede."
"Tapi Papa mau gendong. Lagian tubuh El kecil. Papa mau gendong pokoknya." Menggendong sang anak secara paksa hingga membuat Elmira memberontak, tapi akhir akhirnya anak itu tertawa juga saat dibawa berlari oleh Arga.
__ADS_1
Aluna tersenyum, kapan ya Elmira tertawa selepas itu saat bersamanya? Rasanya belum pernah.
Umur Elmira lima tahun, baru sekarang dirinya bisa menunjuk nunjuk makanan yang dia inginkan.
"Yang ini? Sama ini?" Tanya Arga memastikan ketika dua orang itu sedang menatap ponsel.
"Iya, Papa. Mau makanan yang kayak gitu."
"Jangan terlalu dimanjain," Ucap Aluna memberikan peringatan.
Namun, Arga mengabaikan dan menambah kekesalan Aluna pada pria itu. Bahkan ketika Elmira sarapan, dia tetap duduk di pangkuan Papanya. Membuat Aluna tidak suka dengan cara mengasuhnya. Boleh memanjakan Elmira, asal tidak berlebihan seperti ini.
"Nanti kemeja kamu kotor." Dan menatap sang anak. "El, duduknya sini deket Mama. Nanti kemeja Papa kotor loh."
Baru juga Aluna mengatakannya, sebuah sosis jatuh ke sana dan meninggalkan bekas minyak. Aluna menarik napasnya dalam. "Maaf, Mama. El turun sekarang kok." Anak itu menurut.
"Gak papa." Arga malah menahannya. "Udah kotor. Jadi gak papa."
Pada akhirnya, Aluna yang harus menyiapkan pakaian yang lainnya untuk Arga. Pria itu masuk ke kamar dengan kekehan dan wajah yang menyebalkan. "Aku kasian sama kamu soalnya di rumah takut bosen, makannya dikasih cucian biar ada kerjaan."
"Gimana situ ajalah." Saat Aluna hendak memberikan kemeja baru, dia malah melihat Arga yang membuka pakaiannya. Dia segera berpaling. "Bisa gak sih gak buka baju sembarangan?"
"Lah, inikan kamer. Emangnya harus dimana lagi?"
***
"Papa berangkat."
"Tihati."
"Adek yang hati hati." Mensejajarkan tubuhnya dengan sang anak dan menarik napasnya dalam. "Kalau mau mainn keluar gak papa. Tapi jaga Mama ya, jangan sampai dia luka lagi. Nanti gak ada yang masak buat kita."
"Iya, Papa." Memeluk sosok itu dengan erat.
"Jangan kecapean juga. Makan permennya."
Permen, itu sebutan obat yang diucapkan oleh Aluna sejak dulu untuk sang anak dan sekarang diikuti oleh Arga. "Iya papa."
"Cium dulu sini." Melihat bagaimana wajah sang anak yang mirip dengannya, Arga tidak tahan untuk menciumi nya sampai Elmira tertawa karenanya.
Dia menegakan tubuhnya dan menatap sang istri. "Kalau ada apa apa, hubungi. Jangan kayak kemaren kemaren yang gak bilang."
__ADS_1
"Iya, sana berangkat. Cari duit yang banyak."
Arga tertawa, suka sekali dengan Aluna yang marah marah seperti itu. "Sini cium mulu."
"Ogah ya."
"Kok Mama ngga mau dicium Papa?"
Aluna mengatulkan bibir, lupa kalau sang anak masih ada di sana. "Nggak, Mamanya pake bedak tebel. Nanti kasiahan Papa kemakan bedaknya." Sambil memberikan tatapan tajam pada sang suami supaya tidak melakukan hal hal aneh.
Untungnya Arga peka, dia hanya terkekeh dan berkata, "Jangan kangen ya. Biasanya cowok ganteng suka dikangenin."
"Amit amit."
Tingkahnya yang menyebalkan seperti ini malah membuat Aluna semakin kesal padanya. Namun selalu padam ketika melihat bagaimana tatapan pada sang anak. Penuh dengan kasih sayang.
"Udah jangan ciumin anaknya mulu. Nanti telat. Sana berangkat."
"Bilang aja kamu juga mau."
Mendidih tubuh Aluna, dia memilih menggandeng tangan sang anak dan melihat bagaimana Arga pergi dari sana dengan menggunakan mobil. "Papa dimana sih Ma kerjanya? Elmira boleh gak ke sana?"
"Nggak soalnya Papa kerjanya sibuk. Nanti elmira gak akan diajak main di sana. Di sini aja sama Mama."
"El mau jalan jalan, Ma. Tapi nanti abis main."
"Iya nanti."
Anaknya langsung berlari menuju kamarnya sendiri untuk membawa keluar beberapa mainannya dan memainkannya di karpet bulu sana. Aluna menyaksikan sang anak yang sibuk dengan mainan baru tersebut. Senang bisa melihat senyuman Elmira. Apalagi keluarga Harlaputra menjamin kesembuhannya. Tidak ada lagi yang Aluna khawatirkan.
Tidak apa Arga tidak mencintainya. Toh, Aluna tidak berharap demikian.
Siang harinya, Aluna mendapatkan telpon dari sang ibu mertua. Bertepatan dengan Elmira yang baru saja terlelap. "Hallo?"
"Alunaaa! Bunda baru aja kirim sesuatu buat kamu. Bentar lagi pasti nyampe."
"Apa, Bun?"
Tin tong! Benar saja bel rumah berbunyi. Aluna membukanya dengan telpon yang masih tersambung. "Makasih," Ucapnya pada pengantar paket. Aluna membukanya, ini adalah jamu?
"Sekalian nyari donor jantung buat Elmira, kamu cari jalan lain buat bisa bahagiain anak itu. Dengan kasih adek misalnya. Bunda udah pesen jamu kesuburan buat kamu."
__ADS_1
***