
"Aluna, aku menyukaimu sejak melihat kamu tertimpa bola basket. Maaf aku tidak berani mengatakannya secara langsung. Teman temanku menjadi penghalang nya. Bukannya aku malu jika orang lain tau, hanya saja… .. Biar aku perbaiki dirimu ya. Kamu pasti cantik tanpa kacamata itu. Bisakah kita bertemu?"
Itu surat yang tertulis di sana, yang sekarang sudah kusut oleh rekaman tangan. Tertulis jelas tanggal di sana kalau Arga menulisnya saat dia masih SMA. Jadi, pria itu menyukainya? Benar begitu? Ini terasa janggal untuk Aluna. Kalau Arga menyukai dirinya. Kenapa dia malah melakukan hal jahat padanya? Dan meninggalkannya setelah itu. Apa yang terjadi?
Tidak ingin berspekulasi sendiri, Aluna menyimpannya kembali dan memasukannya ke bawah ranjang. Benar memangnya Arga seperti itu? Menyukainya?
"Mama?! Ada orang diluar!"
Aluna bergegas turun, dia tidak pernah mengizinkan sang anak untuk keluar dari rumah meskipun ada orang diluar. "Hallo? Mau ke siapa?"
"Ini benar rumahnya Ibu Aluna?"
"Benar, saya sendiri orangnya."
"Ibu, ini ada kiriman dari Pak Arga. Terima kasih dan selamat siang."
Aluna menerima cokelat batangan dengan bubuk matcha. Kenapa sangat sesuai dengan kesukaannya? Padahal Aluna tidak pernah mengatakan pada siapapun kalau dirinya menyukai makanan ini.
"Dari Papa, Ma?"
"Iya, El mau?"
Elmira mengangguk, dia dan Aluna sama sama menikmatinya. "Mama, mau foto ke Papa."
"Oke" Aluna memotret sang anak kemudian mengirimkannya pada Arga. Kurang dari dua detik, Arga langsung melakukan video call. Aluna mengarahkan ponsel pada sang anak.
"Papaaaa!"
"Hallo cantiknya Papa. Gimana? Enak?"
"El suka! Makasih banyak, Papa."
"Sama sama, Cantik. Tapi jangan banyak banyak. Itu buat Mama ya."
__ADS_1
"Mama juga suka. Ya, Ma, ya?"
Aluna mengangguk. Karena tidak kunjung bersuara, Arga jadi bertanya, "Mana Mama?"
"Nih!" Dengan mudahnya Elmira memutar ponsel dan memperlihatkan sang Mama yang memalu di sana.
"Udah makan siang?"
"Belum, baru mau pesen ini. Kamu udah?"
"Udah, baru beres makan ini."
Elmira melihat kemesraan itu, dia langsung menyerobot masuk ke dalam layar ponsel. "El belum makan, Pa. El mau makan bentar lagi! Sama Mama!"
"Hahahah! Jangan gitu. Itu Mamanya jadi susah."
Karena Elmira duduk dipangkuan Aluna dan menghalangi pandangannya. Kali ini, interaksi antara dirinya dan Arga terasa hangat. Apalagi setelah Aluna mendapati surat itu. Dia jadi ingin bertanya, tapi memilih menunggu Arga mengatakannya sendiri nanti.
Karena dalam kotak itu, Aluna melihat banyak surat dengan isi pesan yang berbeda tapi bermakna sama. Sayangnya, surat itu tidak pernah sampai padanya. Cinta Arga tidak pernah tersampaikan sampai sekarang Aluna membacanya sendiri.
Arga menatap keluar jendela dengan perasaan yang lega. Hotel itu kembali dibangun dengan orang orang hebat yang terlibat di dalamnya, salah satunya Riga.
Karena kedepannya Arga akan bertemu dengan Riga, dia akan bersiap dengan menempelkan foto dirinya dan Aluna di dinding. Sayang, mereka tidak punya foto pasangan saat menikah. Bersama Elmira juga tidak ada.
Jadi saat akhir pekan nanti, Arga akan mengajak sang istri untuk berfoto bersama dengannya.
Pulang bekerja, Arga mampir terlebih dahulu ke toko bunga. Untuk Aluna. Sekarang dia akan memperlihatkan perasaannya secara jelas. Ternyata, lama lama cinta pertama mengalahkan semuanya. Teresa tidak lagi tersisa di dalam pikiran Arga sekarang.
"Loh? Kemana anaknya?" Tanya Arga saat masuk rumah, tidak ada yang menyambutnya.
"Tidur, tadi kecapean. Dia abis maen di taman."
"Ketemu sama Riga?"
__ADS_1
Aluna yang sedang memasak itu menghentikan gerakannya dan menatap pada sang suami. "Enggak. Gak ketemu." Tatapannya jatuh ke bunga yang dibawa Arga, Aluna segera berpaling dan menahan senyunannya sendiri. Malu malu melihatnya.
"Ini buat kamu."
"Oh makasih." Menerimanya dan tersenyum kecil. Menahan perasaan aneh karena sudah tau apa yang Arga sembunyikan.
Pria itu juga tampak canggung karenanya. "Aku mau mandi dulu."
"Air angetnya udah disiapin kok."
"Makasih,...... " Terdiam sejenak. "Istri." Kemudian melangkah tergesa gesa dari sana ke kamar. Alangkah Kagetnya Arga melihat posisi kasur yang berpindah.
Dia segera membungkuk dan melihat ke bawah ranjang. Oh astaga! Masih ada! Apa Aluna melihat nya? Apa yang akan dia lakukan sekarang? Karena rahasianya terbongkar?
"Arga?" Membuka pintu yang langsung membuat Arga menyembunyikan benda itu di belakangnya. "Itu… kata Bunda angkat telponnya." Berkata seperti itu sebelum menutup lagi pintu.
"Oke. Kamu yang pindahin ranjang?"
"Iya, kenapa?"
"Nemu sesuatu gak dari bawah? Ada benda aku yang jatuh."
Aluna tau maksud Arga. "Gak tau. Emangnya apa? Soalnya gak ada apa apa."
"Bukan apa apa kok." Tersenyum kaku.
"Mandinya cepet. Elmira bangun, nanti makanannya keburu dingin."
"Oke cantik." Langsung mengulum bibirnya saat tidak sengaja mengatakan itu. Aluna kaku, dia menutup pintu dan meninggalkan Arga di sana. "Ya ampun bisa bisanya bilang gitu dan sekarang gue gugup."
Setelah Aluna keluar, Arga segera mengangkat panggilan sang Bunda. Ternyata perihal donor jantung untuk Elmira. Ternyata mereka belum menemukannya. Apa yang harus dirinya lakukan sekarang?
"Susah, langka. Tapi kita gak akan berhenti. Lakuin aja pengobatannya di sana. Bunda sama Ayah kamu bakalan cari. Pastiin aja Elmira baik baik aja ya."
__ADS_1
"Iya, Bun."
***