
Senyuman Aluna tidak bisa ditahan, terbit begitu manis sampai Arga sendiri tidak tahan untuk merangkup pipinya dan membutuhkan kecupan secara tiba-tiba di sana. Dan itu berhasil membuat Aluna mengerjap dengan lucu.
"Maaf." Arga tidak tahan karenanya.
"Gak papa." Kini Aluna yang sedikit mendekat, memberi tanda kalau dia juga menerimanya.
Maka akhirnya, bibir itu kembali menyatu. Saling bertaut satu sama lain sampai akhirnya harus terhentikan oleh pukulan bertubi tubi dari pintu. "Mamaaaa! Papaaaaa!"
Ups, mereka lupa kalau sudah memiliki anak. Aluna dan Arga menatap satu sama lain. "Elmira," Ucap Aluna mengingatkan.
"Iya. Kamu pake baju dulu." Arga yang membuka pintu dan langsung menggendong sang anak yang terlihat kesal. "Kenapa? Adek kenapa? Dih udah wangi, dimandiin sama Bibi?"
"Mama mana?"
"Mama lagi pake baju dulu. Ayok tunggu diluar aja sama Papa." Membawa anak itu pergi dari sana supaya memberikan privacy untuk Aluna.
Untuk sekarang ini, Aluna maupun Arga tidak bisa menahan letusan menyenangkan di dada mereka. Ketika saling bertatapan, senyuman refleks mereka berikan. Apalagi ketika sarapan, Elmira menyadari kalau sang Papa lebih sering memberikan daging ikan pada sang Mama. "Papa, El juga mau." Anak itu merengek.
"Oh mau? Biasanya adek gak suka."
"Suka." Bahkan sekarang Elmira sudah merasakan kecurigaan dan memilih pindah duduk. "Papa, mau duduk deket Mama."
Hah, Arga juga sadar sang anak sedang membuat benteng. Mungkin harusnya dia tidak secepat ini. Sang anak akan merasa tersaingi.
Saat Arga akan berangkat, Elmira ada di gendongan sang istri. Dia ciumi pipi anak itu berulang kali sampai membuatnya tertawa geli karenanya.
"Mama gak ci– wah Mama dicium Papa sekarang ya?" Elmira saja langsung mengerjapkan matanya dan tertawa kecil. "Tapi ini Mama punya adek, Pa."
"Iya, punya adek. Nanti Papa izin dulu kalau mau apa apa ya?"
"Udah sana berangkat." Aluna tidak nyaman kalau Arga berlama lama menggodanya di sini. Kali ini, bahkan Aluna ikut melambaikan tangan.
"Mama udah suka ya sama Papa?"
"Emang Mama keliatan gak suka sama Papa sebelumnya?"
__ADS_1
"Dulu Mama gak suka dicium, sekarang suka. Papa ganteng ya, Ma?"
Duh, siapa yang mengajarkan anaknya mengatakan hal hal seperti ini sih?
***
Rutinitas Aluna sekarang adalah mengantarkan sang anak pergi ke sekolah. Meskipun khawatir tentang keadaan Elmira yang sewaktu waktu mungkin saja bisa drop. Belum ada kabar dari sang mertua tentang kelanjutan kesehatan Elmira. Aluna tidak mau selamanya hidup di dalam bayang bayang ketakutan akan kehilangan sang anak.
"Aluna?"
Dia menoleh dan mendapati Riga. Ah, kenapa pria ini selalu ada di sekitarnya?
"Iya? Kenapa, Mas?"
Pria itu duduk di samping Aluna. "Tadi ada perlu ke sekolah ini. Karena photograper, jadi bisa dimana aja."
Memangnya Aluna bertanya? Dia rasa tidak.
"Teresa itu adik saya. Ya meskipun kami gak deket deket amat. Dan saya tau gimana Teresa sangat mencintai Arga. Kalian menikah tanpa ada perasaan satu sama lain kan?"
"Tapi saya bisa menarik investasi saya dan membuat Arga bangkrut."
Aluna terkekeh. Kemana image pria yang sebelumnya dianggap baik oleh Aluna? "Tidak perlu mengancam, kami bahkan tidak membutuhkan Mas Riga. Orangtuanya Arga kaya dan tidak akan membuat kami kelaparan." Karena demi apapun, Aluna enggan melepaskan Arga. Pria itu sudah menjadi ayah dan suami yang baik untuknya. Aluna bergegas berdiri saat melihat Elmira keluar dari kelas bersama gurunya. "Saya permisi."
Bergegas pergi dari sana, Aluna benar benar berharap pria itu dan adiknya pergi supaya tidak mengganggu kenyamanan mereka di sini. Baru saja Aluna hendak melangkah di jalan yang membahagiakan, masih saja ada kecoa yang menghalangi?
"Mama capek."
"Sini Mama gendong." Meraih sang anak ke dalam pelukannya. "Sesak nggak? Pengab gak adek?"
"Nggak. Capek aja."
Sepertinya Aluna harus segera mengajak Arga berdiskusi perihal ini. Dia tidak mau menunda nunda kesehatan sang anak.
Saat sampai di rumah, Aluna kaget melihat ada mobil sang suami di sana. Apa Arga pulang?
__ADS_1
"Sayang, baru aja mau dijemput." Bersamaan dengan itu, Arga keluar dari dalam rumah.
"Papa!" Elmira yang antusias jelas langsung melompat ke pelukan sang Papa. "Papa pulang?"
"Iya, soalnya mau makan siang di sini."
"Emang kamu udah gak ada kerjaan?" Aluna ikut penasaran.
"Nggak ada, Papa yang handle buat saat ini. Aku tinggal petain aja beberapa hal yang harus Papa bayar."
Karena Elmira sudah bersama dengan papanya. Aluna langsung bergegas memasak untuk makan siang mereka.
Bibi pembantu juga ada di sini, dia menetap atas paksaan Arga. "Bi, tolong ambilin kentang lagi ya."
"Baik, Bu."
Saat Aluna sendirian di sana, Arga mengambil kesempatan untuk datang dan hendak memeluk sang istri dari belakang. Namun, Aluna lebih dulu menghindar dengan menutup hidungnya dan berlari ke arah westafel. Di sana Arga melihat hidung Aluna mengeluarkan darah.
"Kenapa gini lagi sih," Gumam Aluna tidak sadar kalau Arga ada di belakangnya.
"Lagi?"
Kaget dan menoleh. "Arga, sejak kapan kamu di sana?"
"Gini lagi? Ada yang kamu sembunyiin sama aku? Kamu sakit?"
"Gak sakit. Emang suka kayak gini aja."
"Udah diperiksa?"
Aluna menggelengkan kepalanya.
"Ayo periksa sekarang. Aku baru aja mulai sama kamu, aku gak mau tiba tiba harus jadi duda. Pokoknya sekarang kita ke rumah sakit."
***
__ADS_1