
Arga inginnya tidak berangkat bekerja. Namun, dia baru saja memulai semuanya. Lagipula Aluna meyakinkan kalau Elmira tidak akan sekolah minggu ini.
"Bi, titip istri sama anak saya ya."
"Baik, Tuan."
Menatap Aluna yang demamnya sudah turun, perempuan itu juga sudah mampu untuk berjalan turun ke lantai bawah. Bahkan sekarang sedang menemani Elmira yang bermain dengan lego.
"Papa berangkat dulu ya." Mencium pipi Elmira. Bahkan Aluna sampai menahan napasnya. Kepala Elmira itu dekat dengan dadanya. "Jangan nakal. Jangan bikin Mama capek ya?"
"Iya enggak kok." Kepalanya mengadah tersenyum pada sangat Papa sebelum memberikan kecupan di pipi. "Mama nggak dicium?"
Pertanyaan sang anak membuat Arga menatap pada Aluna yang menegang, terlihat khawatir. "Mamanya lagi sakit, nanti Papa ketularan. Jadi jangan cium cium Mama dulu ya."
Seketika tatapan takut itu berubah menjadi kesal dan ingin memborbardir Arga.
Sepeninggalan Arga, Bibi Maesaroh mengatakan, "Manis banget ya Tuan Arga, saya diminta bikin makanan yang ada gambar hello kity nya. Saya pikir itu buat Non Elmira, tapi buat Nyonya loh. Katanya biar Nyonya semangat makannya sama cepet sembuh."
Seorang Arga mengatakan itu? Aluna rasa kalau Bibi Maesaroh salah mendengar.
***
Arga menemui salah atau temannya yang berada di Bandung untuk membicarakan perihal bisnis. Teman masa SMA nya yang baru saja kembali dari luar kota.
"Gue udah nungguin lu lama banget. Kenapa baru nemuin gue sekarang?"
"Sorry, gue ketemuan dulu sama cewek gue. Lepas kangen lah."
Keduanya berjabat tangan layaknya sahabat lama. Saling tertawa tidak percaya pada satu sama lain yang sekarang sudah berubah. "Lu dulu anak basket, kenapa jadi buncit gini sih?"
"Cewek gue chef, makannya gue makan mulu. Jadi bahan percobaan."
Awal percakapan, mereka menanyakan kabar satu sama lain. Arga mengatakan kalau dirinya sekarang tinggal di sini dengan bisnis yang baru tanpa campur tangan kedua orang tuanya.
"Bisa gak kalau lu invest ke hotel yang lagi gue coba bangun lagi?"
Pria yang menjadi sahabatnya sejak SMA itu terdiam, Rizal namanya. "Sorry nih. Bukannya apa apa, gue lagi gak pegang duit segede itu. Ditambah lagi terlalu beresiko kalau naruh tabungan gue ke sana soalnya gue juga lagi bangun bisnis."
"Kalau colab?"
"Gue juga baru rilis, Ar. Gue gak mau ngasih lu harapan. Tapi emang itu hotel udah gak ada apa apanya banget, banyak tragedi. Gimana bisa jalan lagi. Cuma nambahin wahana gak menjamin bisa langsung baik lagi citra hotel itu."
Menghela napasnya dalam, sulit juga membangun ini jika tidak ada modal.
__ADS_1
"Emang nyokap sama bokap lu gimana?"
Mau tidak mau, akhirnya Arga menceritakan apa yang terjadi. Temannya l jelas kaget. "Gue pikir lu bakalan tunangan sama Teresa bulan ini. Eh taunya sekarang lu udah punya bini aja. Mana sama si Aluna ya?"
Mengangguk atas kenyataan itu.
"Gila sih waktu itu. Lu udah cerita sama dia?"
"Gak ada yang perlu gue ceritain. Lagian itu bagian dari masa lalu." Memfokuskan lagi pada pembicaraan tentang bisnis.
"Nanti deh, gue bawain temen kita yang lain. Tapi ya lu tau sendiri kalau di umur seginian, kita masih baru rilis usaha."
"Gak papa." Arga beranjak dari duduknya. "Gue balik dulu ke kantor deh. Thanks ya."
"Sama sama. Maaf gue gak bisa bantu."
"Gak papa. Kali kali kenalin dong anak lu, pasti cantik?"
"Banget." bibir Arga mengembang mengingat bagaimana lucunya manik sang anak. Membuatnya bahkan sudah merasakan rindu sekarang.
Namun senyuman itu luntur ketika ingat kalau dirinya perlu mencari cara agar usahanya berjalan dengan baik untuk menghidupi anak dan istrinya.
"Sudah dapat?" Tanya Arga saat masuk ke dalam mobil. Bertanya pada sang supir sekaligus sekretaris pribadinya.
"Bagus. Ayok kita coba."
Arga mengirim pesan sekarang pada Aluna sebelum lupa. Kalau dia akan pulang terlambat.
Hingga malam tiba, Bibi Maesaroh sudah pulang. Jam menunjukan pukul 9 malam dan Elmira belum kunjung tidur.
"Papa pulang malem. Sekarang bobo ya. Besok kalau Elmira bangun, papa pasti udah ada di sini."
"Nggak mau. Mau nunggu Papa."
Lelah dengan sang anak, Aluna membiarkannya saja. Hingga Elmira terlelap di atas sofa. Aluna memindahkannya ke kamar. Kemudian gilirannya untuk menunggu Arga.
Makanan sudah siap, begitupun dengan air hangat dan bajunya. Pria itu pulang larut sekali sampai Aluna juga merasa ngantuk.
***
Saat Arga pulang, dia kaget mendapati Aluna yang tidur di sana. Suara pintu menutup lah yang membuat Aluna bangun. Mengucek matanya dan melihat Arga yang sudah pulang. Ini tepat tengah malam.
"Kenapa tidur di sini?"
__ADS_1
Aluna malah balas bertanya, "udah makan?"
"Belum."
"Ih gimana sih. Ini udah malem. Makan dulu, aku udah masak nih."
"Cieee yang masakin Mas Arga," Ucap Arga menggoda sang istri.
Aluna berdecak kesal karenanya. Tapi dia tetap berada di sana memastikan kalau Arga memakan semuanya sampai habis.
"Masih demam?"
"Udah mendingan. Bibi besok gak disuruh ke sini. Udah gak papa kok. Ini cuma luka yang diperban. Udah gak sakit lagi."
"Tapi kalau nanti ada sakit lagi, panggil aja bibi jangan ragu."
Aluna mengangguk, maniknya tidak lepas dari Arga yang tengah makan dengan lahap. "Tadi ada orang yang pasang karpet di tiap kamar."
"Nah iya, harusnya dari awal pindah. Kelewat itu."
Aluna mengangguk paham, tapi dia merasa curiga karena Arga terlihat sedih. "Kamu kenapa?"
Arga yang sedang mengunyah itu membalas tatapan Aluna. "Apanya?"
"Kamu keliatan beda. Kenapa?"
"Pusing."
"Nanti mandinya pake air anget. Udah aku siapin kok."
"Ciee. makasih istri idaman."
"Apasih." Aluna memalingkan wajahnya dan berdehem. "Mau dipijet nggak kepalanya?"
"Boleh."
Setelah mandi, Arga berbaring membiarkan Aluna memijat kepalanya. Posisinya Aluna memangku bantal dengan Arga yang tidur di sana.
Arga mulai tidur, saat itulah ponselnya berbunyi. Aluna melirik, dia melihat pop up chat dengan kalimat pesan, "Maaf, Pak. Kita tidak mendapatkan kerjasamanya."
Menatap pria itu yang kini tertidur. Tangan Aluna beralih menjadi mengelus surai Arga dengan pelan. "Papa yang baik," Ucapnya demikian.
***
__ADS_1