CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Semakin dekat


__ADS_3

"Itu gak kayak yang kamu pikirin," Ucapnya masih memikirkan yang tadi. 


Aluna menggelengkan kepala. Tidak peduli dan tidak ingin tau. "Yaudah sih, emangnya aku mikir apa gitu. Jangan ngikutin mulu, aku lagi beres beres."


Ketika Aluna keluar masuk walk in closet, pria itu terus mengikutinya dari tadi. 


Tinnn! Tiinnnn! 


"Tuh udah pulang, sana ke bawah. Pasti mereka bawa banyak barang."


"Jangan nyuruh nyuruh sama suami." Memperingati tapi tetap pergi ke bawah. 


Aluna menggelengkan kepalanya heran. Belum beres dengan baju dan sepatu sepatu itu, Aluna ke bawah dimana mertuanya hendak pulang. 


Sudah diduga oleh Aluna kalau akan dibawakan banyak sekali belanjaan. Itu mainan dan juga makanan untuk Elmira. 


"Bun, kenapa banyak banget ini?"


"Tolong jangan comment. Ini khusus buat cucu kesayangan Bunda. Gak papa, kan gak tiap hari juga ke sini bawain ini."


Anaknya dimanja, diterima dengan baik oleh mertuanya. Bahkan mereka berpelukan lama ketika Ibu Gita mengatakan akan pulang. 


"Eyang sering sering main ke sini ya. Mau main sama Eyang lagi. Sama mbah juga."


"Nanti di sini banyak temen main kok. Apalagi kalau nanti punya adik."


"Adik?" Mata Elmira bersinar penuh keingintahuan. 


"Bun, jangan racunin Elmira." Arga datang dan menggendong sang anak. 


Herdi sebagai seorang ayah dan suami memberi nasehat pada Arga. "Jangan kecewain ayah buat yang kedua kalinya. Lihat apa yang kamu punya. Mereka berharga. Jangan dia siain. Buat masalah Elmira, ayah juga lagi berjuang."


Setelah kedua orangtuanya pulang, Aluna membantu Elmira membersihkan dirinya sendiri. Kembali ke kamar, Elmira memekik senang melihat papanya ada di sana. "Mau dikasih cerita sama Papa."


Melakukannya dengan senang hati. Posisi Elmira di tengah dengan kedua orangtua di sisinya. Kasur yang sempit membuat Aluna dekat dengan Arga. 


"Anaknya udah tidur. Padahal baru dibacain dua lembar buku cerita." Arga mengecup kening Elmira. "Kenapa liatin kayak gitu? Mau juga dikasih cerita terus dikecup?"


"Situ ngimpi!"


Arga langsung berlari mengejar Aluna yang lebih dulu pergi. 


"Jangan ngejar!" Aluna malah takut. 


Di belakang sana Arga tertawa, suka sekali mengerjai Aluna seperti itu. 


Saat Aluna masuk kamar, dia baru sadar tidak mendapatkan sofa di sana. "Kemanain sofa?"

__ADS_1


"Aku turunin ke lantai bawah." Tersenyum sendiri mengingat Arga berhasil membawa semua sofa panjang ke lantai satu tanpa disadari oleh Aluna. 


"Kenapa?!"


"Sofa nya gak nyaman. Nanti mau beli yang baru lagi."


"Yaudah aku mau tidur di kamar bekas ayah sama Bunda."


"Gak boleh lah. Kalau suami kamu sakit, siapa yang bakalan bantu?"


Aluna mengabaikan, masuk ke dalam kamar itu dan berbaring di sana. Entah mengapa, Arga lebih suka jika Aluna bersamanya. Padahal dia tidak menyukai perempuan itu, hanya suka membuatnya kesal. 


"Ck. Maafin Papa ya, Nak." Masuk ke kamar Elmira dan memindahkannya ke kamar miliknya. 


Kemudian Arga bergegas menuju kamar dimana Aluna berada. "Aluna, Elmira pindah ke kamar katanya mau bobo sama Papa sama Mamanya."


Baru juga Aluna hendak tidur, sudah dikejutkan dengan hal demikian. 


Berakhirlah malam itu dengan mereka yang tidur bersama dengan Elmira di tengah tengah. 


Saat anak itu bangun, dia bertanya, "Kok Elmira bobonya sini?"


Saat itu Aluna sedang menyisir sehabis mandi dan Arga baru bangun. "Loh, adek gak inget? Adek loh yang dateng ke sini mau bobo sama Mama sama Papa," Ucap Arga dengan cepat cepat. 


***


"Kamu kerjanya di sebelah mana emang kantornya?"


"Idih najis."


Tertawa di pagi hari merupakan hal yang langka untuk Arga, karena penyebabnya adalah Aluna dengan semua sumpah serapah nya. 


"Hati hati hei kalau ngomong. Nanti anaknya denger terus ikutan."


Mengabaikan dan memilih untuk tetap memasak 


"Bikinin bekel buat makan siang dong."


Permintaan Arga yang seperti itu membuat Aluna bertanya tanya apakah semiskin itu Arga sekarang? Tapi… mobil masih ada dan yang lainnya. 


"Mau dipake bekel apa?"


"Apa aja deh. Asal jangan yang berkuah."


"Nanti gak papa aku ke sekolah buat liat liat?"


"Iya, gak papa kan gak aku temenin?" Tanya Arga yang kini sudah kembali duduk menunggu makanan. Sesekali matanya mengawasi sang anak yang sedang menonton kartun. "Udah bilang kok sama pemilik sekolah nya kalau kamu bakalan dateng. Jangan kangen ya ditinggal sama aku."

__ADS_1


Memilih diam daripada memaki. Ketika Arga hendak pergi, Elmira menempelinya layaknya perangko. Tidak ingin berpisah dengan sang Papa. 


"Kalau Papa gak kerja. Nanti gimana kita makan? Nanti El gak bisa jajan, gak bisa sekolah. Katanya mau sekolah." Aluna membujuk demikian. 


Elmira yang masih memeluk ayahnya itu malah mengatakan. "Kan dulu kata Mama gak papa gak punya duit yang penting bahagia."


Jelas membuat Arga tertawa lagi. Duh, berada di sini lama lama membuat imun nya naik dengan menertawakan Aluna. 


"Tau ah, kamu yang bilangin tuh. Aku mau jemur baju."


Akhirnya Arga yang membujuk anaknya hingga akhirnya Elmira mau ditinggal. Mengantar sang Papa sampai ke depan bersama dengan Aluna juga. 


"Sekarang kita ke mana, Ma?" Mengadahkan kepalanya menatap sang Mama. 


"Yuk, siap siap ke sekolah."


"Langsung sekolah, Ma?"


"Nggak, liat liat aja dulu yuk. Sambil jajan ice cream mau?"


"Mau!" Anak itu berteriak dengan penuh semangat. 


Kompleks elite dengan akses jalan pribadi. Di sini, setiap rumah juga berjarak hingga membuat Aluna merasa memiliki luang. Untungnya taman bermain anak anak itu dekat dari rumahnya. Untuk sekolahnya sendiri hanya perlu melewati satu box. Sepertinya Aluna akan senang bahagia tinggal di sini. 


Guru di sana yang sepertinya sudah menunggu Aluna sejak tadi. "Nyonya Aluna, ya?"


"Iya, Bu." Sudah Aluna duga, keluarga Harlaputra itu pemilik yayasan pendidikan dan pasti dikenal oleh banyak orang. 


"Mari masuk, Pak Herdi dan Ibu Gita sudah berbicara pada saya sebelumnya. Pak Arga juga demikian."


Melakukan tour ke sekolah kanak kanak itu. Bahkan memiliki ruang tunggu untuk ibu ibu di sana. Bagian dalamnya luas, memiliki tempat bermain outdoor juga. 


Aluna berkonsultasi untuk pembelajaran yang akan diambil oleh Elmira nantinya. 


"Nanti Nyonya hubungi saya saja ya."


"Terima kasih banyak, Bu."


Elmira bahkan mengatakan berapa dirinya sangat tidak sabar sekolah ke sana. Karena Aluna tidak memiliki kesibukan, jadi dia bisa leluasa mengantar jemput anaknya dengan berjalan. 


Sesuai janji, mereka mampir untuk membeli ice cream di salah satu minimarket. 


"Tunggu di sini sebentar." Karena Aluna ingin membenarkan barang belanjaannya begitu mereka keluar dari mini market. 


Saking asyiknya makan ice cream, Elmira tidak sadar ada mobil di depannya. Soalnya pula, pengemudi mobil itu sedang mengetik pesan hingga tidak terlihat. 


"Awas, Nak." Aluna langsung menggendong Elmira dan alhasil dirinya yang terjatuh hingga lututnya terluka. 

__ADS_1


"Mama? Hiks… . " Elmira menangis melihat darah yang mengalir dari lutut dan siku mamanya. 


***


__ADS_2