CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Masih mengambang


__ADS_3

Kini, Arga sedikit menyesal karena dirinya tidak mengatakan kebenarannya. Kecanggungan itu terbentuk saat pagi datang. Aluna terlihat tidak bersemangat, dia menyajikan makanan dengan wajahnya yang lesu. "Kamu sakit?" Arga tidak tahan dengan keheningan diantara mereka. 


"Nggak, kenapa emangnya?"


"Kamu pucet."


"Nggak kok." Aluna memegang pipinya sendiri, memang iya dia pucat? Padahal dirinya memakai lipstik pink untuk menutupi perasaannya yang masih tidak karuan. Semalam, Arga entah tidur jam berapa. Tau tau dia sudah ada di samping Aluna dengan menyisakan jarak. Sang suami tidur di ujung, seperi memberikan ruang untuk Aluna, dan itu semakin memperjelas kalau mereka sedang tidak baik baik saja. 


"El, ayo sarapan dulu."


Karena ini hari minggu, mereka memutuskan menghabiskan waktu di rumah saja. Arga juga akan melepaskan semua pekerjaan dan mendedikasikan waktu untuk sang istri. 


"Mau disuapin sama Papa."


"Iya sini deketan sama Papa."


Aluna masih tidak mau berbicara dengan Arga. Yang mana membuat pria itu mencoba paham. Penjelasannya semalam tidaklah membuat hubungan mereka membaik. 


Cara untuk mendapatkan hati Aluna adalah dengan memenangkan hati Elmira, itu yang Arga pelajari selama tinggal bersama dengan sang anak. 


"Hari ini aku mau bikin kue kue ya? Kita gak akan kemana mana kan?"


"Nggak. Perlu dibantuin gak?"


"Bantu asuh El aja. Tapi dia gak rewel kok. Kalau kamu mau kerja, gak papa." Lihat, Aluna sekarang sedikit acuh. 


Jadinya Arga berfikir bagaimana mendapatkan perhatian lagi sang istri. Ketika Aluna membuat kue dan anak mereka disibukan dengan puzzle dan buku cerita barunya, Arga mendekati sang istri untuk mengajaknya berdiskusi. "Aku kepikiran buat less tambahan buat Elmira. Gimana?" 


"Les apa?" Aluna tidak mengalihkan pandangannya dari pekerjaannya menyaring tepung. Kapan lagi dia bisa menghabiskan waktu dengan membuat kue seperti ini bukan? Selain itu, sang anak juga tidak akan jajan yang aneh aneh. 


"Apa aja. Kalau mau renang juga boleh. Sekalian kamu juga."


"Jangan dulu deh, kan dia baru aja masuk sekolah. Kita juga lagi usahain kesembuhan Elmira." Ah, Aluna baru ingat. Dia menatap sang suami. "Gimana? Udah dapet pendonor buat Elmira?"

__ADS_1


"Belum kasih kabar Bunda." Arga enggan membuat Aluna sedih dengan susahnya mendapatkan donor tersebut. "Kamu masih marah sama aku?"


"Gak marah, emangnya kenapa?"


"Karena semalam?" Seolah menebak. 


Yang memangnya siapa yang tidak kesal ketika dirinya hanya dijadikan bahan taruhan hingga menghancurkan masa depannya. 


"Aku cuma butuh waktu. Jangan khawatir. Aku gak marah sama kamu."


Arga menghembuskan napasnya dalam, sepertinya Aluna sedang tidak ingin diganggu. Jadi dia memilih kembali pada sang anak. "Aw!" Sampai kaki Arga menginjak sesuatu. "El, jangan disimpen sembarangan puzzlenya." Kaki Arga terasa tersenyum karenanya. 


"Maaf, Papa."


Merasakan tatapan tajam, Arga menoleh. Aluna menatapnya dengan mata menyipit. Dia tidak suka Arga menaikan nada bicaranya pada Elmira meskipun refleks. Segera, Arga mendekap sang anak dan menciumi puncak kepalanya. "Ayok main puzzle sama Papa yuk."


****


Ketika bangun, Aluna sudah tidak ada di sampingnya. Mungkin karena ini hari senin dan Aluna ingin bersiap ke sekolah sang anak untuk pertama kalinya. 


"Apa harus gue bilang kalau gue suka sama dia sejak pertama kali ya?" Bergumam seperti itu saat mandi. "Tapi gue malu. Udah lakuin dia bejat, apalagi pas awal nikah. Emang dia percaya ya?"


Setelah berfikir dalam dalam, Arga rasa perasaan itu akan dia pendam saja. "Lebih baik tunjukin sisi gue yang sekarang. Yang lebih baik. Gak perlu ngungkit masa lalu," Ucapnya seperti itu dan segera turun ke lantai bawah. 


"Kata Mama mau pake seragam." Anak yang sedang menonton TV itu protes. 


"Iya, kan adek berangkatnya nanti kalau udah jam delapan. Sekarang jam delapan juga belum, Sayang."


Ini hari pertama Elmira akan sekolah, exited sampai terus mengingatkan pada sang Papa untuk mengantarkannya. Ketika sarapan pun, Elmira tidak bisa berhenti berujar, "Nanti El di sana punya banyak temen ya, Pa?"


"Iya dong."


"Tapi El juga mau punya temen di rumah. Mama boleh minta adek?"

__ADS_1


"Satu siap lagi, Nak." Aluna malah menyuapi sang anak, perihal ini Aluna belum bisa menjanjikan nya, dia sendiri dan Arga masih dalam proses pendekatan dan Aluna ingin fokus dulu pada kesehatan sang anak. 


Tapi Arga menyalah artikan kalau Aluna tidak tertarik memiliki anak lagi. Masih trauma? Sepertinya iya. 


"Kamu gak papa berangkat siangan?"


"Gak papa, orang aku yang mau anterin anaknya kok." Aluna tau Arga disibukan dengan pekerjaannya yang banyak akhir akhir ini. 


Ketika Elmira dipakaikan baju oleh Aluna, anak itu terlihat sangat exited. "Cantik, Ma?"


"Cantik dong."


"Mau pamer ke Papa."


"Iya sana pamer."


Elmira berlari keluar kamar begitu siap. "Papa liatttt!"


Arga menoleh. Ah betapa cantiknya sang anak dengan senyumannya yang lebar. "Wuih, Cantik banget Princess. Mirip Papa ya."


"Mang Papa cantik?" Malah bertanya dengan polosnya. 


Mereka pergi ke sekolah sang anak bersama sama dengan jalan kaki sesuai permintaan sang anak. Elmira ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama dengan sang Papa. "Nanti El dijemput gak sama Papa?"


"Enggak, Papa gak bisa jemput soalnya masih di kantor."


"Papa kan cari uang buat bisa Elmira jajan." Aluna membela sang suami. 


Arga senang bukan main, meskipun Aluna mengatakannya dengan wajah yang datar. Ketika dalam langkah, mata Arga mengedar. Ini wilayah Riga, pasti pria itu ada di sini. 


Baru juga hinggap di pikiran Arga, Riga keluar dari rumahnya. Seketika Aluna merasakan seseorang merangkulnya. "Ada Riga," Ucap Arga saat sang istri menatap maniknya bertanya tanya. 


**

__ADS_1


__ADS_2