
Memangnya apa lagi yang bisa Aluna lakukan selain menerima pemberian itu. Berterima kasih pada sang mertua meskipun dirinya masih belum tau bagaimana kehidupan ke depannya nanti. Yang terpenting sekarang, Elmira sembuh dulu.
Terbiasa bekerja hampir 24 jam, Aluna mulai merasa bosan di rumah. Namun, dia menikmati rasa bosan itu. Dulu dirinya harus membawa Elmira kalau berjualan di toko kue. Semalaman membuat pesanan berupa bross yang sering Aluna buat. Buka jasa cuci piring atau laundry pada tetangga. Dengan Elmira yang selalu mengikuti jadwal Aluna sendiri.
Di umurnya yang sekarang 23 tahun, akhirnya Aluna bisa menghela napas lega. Setidaknya dia bisa sedikit tenang untuk masa depan sang anak yang tidak akan pernah lepas dari campur tangan keluarga Harlaputra.
"Mamaaaa? Lagi apaaa?"
"Loh kok udah bangun sih?"
"El mau mam."
"Udah Mama siapin tuh. Makan sendiri ya. Gak papa?"
"Mama lagi apa?" Malah mendekat pada sang Mama yang terlihat sibuk dengan ponselnya. Mengintip apa yang sedang dilakukan sosok itu.
"Sini Mama foto dulu. Papa nanyain Elmira lagi apa soalnya."
"Malu. Mau sama Mama fotonya."
Karena Arga terus mengiriminya pesan spam, akhirnya Aluna mau berfoto dengan sang anak. Dengan caption memberitahukan kalau sang anak baru saja bangun tidur. Dimana Arga langsung membalas
Suami : Cantik banget.
Baru juga Aluna hendak membalas pesan tersebut, satu pesan lebih dulu datang.
Suami : Elmira maksudnya yang cantik. Bukan kamu.
"Lah, emang aku bilang apa?" Aluna bergumam sendiri. Heran dengan tingkah pria itu.
"Mama mau disuapin sama Mama. Ayok."
Mengikuti keinginan sang anak. Seharian itu, Aluna bermain bersama dengan sang anak yang di setiap detiknya terus saja menanyakan tentang Papanya. Meminta untuk melakukan video call juga. Namun, Aluna tidak mengizinkannya. Dia khawatir kalau nantinya akan mengganggu Arga.
"Nanti juga papa pulang kok. Jangan khawatir gitu."
Ting tong!
"Papa?!" Manik anak itu membulat antusias dan segera berlari membuka pintu. "Siapa?"
Aluna segera memeriksanya, dia kaget karena itu sosok yang menabraknya beberapa waktu yang lalu. "Mas Riga ya?"
__ADS_1
"Hehehe iya. Saya pindahan tadi pagi ke ujung jalan sana. Tadi pagi juga liat kamu di sini, makannya saya datang buat mastiin."
"Masuk dulu, Mas." Aluna mendekat.
"Gak usah. Saya mau kasih ini. Sebagai tanda perkenalan kita sebagai tetangga sekaligus permintaan maaf saya karena waktu itu saya langsung berangkat ada urusan."
Karena kenyataannya setelah mengantarkan Aluna ke klinik terdekat, pria itu meminta maaf karena tidak bisa menunggu sampai selesai diobati. Dia malah meminta asistennya untuk menunggu Aluna dan mengantarkannya pulang.
"Gak papa, Mas. Lagipula udah mendingan kok."
"Sekali lagi saya minta maaf ya." Kemudian tatapannya jatuh pada Elmira yang bersembunyi di belakang sang Mama. Dia tau orang ini yang menabrak Aluna. "Adek, Om minta maaf ya."
Entah mengapa, Elmira tidak suka dengan sosok ini karena melukai Mamanya. Jadi dia menggelengkan kepala.
"Eh jangan gitu, kan Om nya udah minta maaf." Aluna mencoba membujuk sang anak.
"Gak mau, Elmira gak punya maaf." Kemudian berlari ke dalam
Aluna menatap pria itu merasa bersalah. "Maaf ya, Mas."
"Gak papa saya paham kok. Karena kita tetangga, mungkin akan sering ketemu. Sekalian nanti saya mau minta maaf sama suami kamu. Ada kan suami? Masih hidup?"
***
Arga tidak memiliki keinginan untuk pulang ke rumah saat dirinya melihat berapa kacau pekerjaannya sekarang. Ayahnya benar benar tidak membantu. Dalam pikiran Arga, ketika dirinya lulus S2 di usia penghujung 24 tahun, dia akan mendapatkan posisi sebagai direktur di perusahaan utama. Namun kenyataannya sekarang, dia malah ditempatkan di tempat seperti ini.
Ingin menyerah, tapi malu pada Elmira. Anaknya yang begitu mirip dengannya itu tidak boleh kecewa dengan mainan yang berkurang atau masa depan yang tidak baik.
"Tuan, ini sudah hampir malam. Sudah waktunya anda istirahat." Sang supir sekaligus asisten pribadi kiriman sang ayah lah yang selalu menjadi sosok yang mengetahui keadaanya.
"Bisa tidak minta pada Ayah? Setidaknya bantuan dana?"
"Saya akan berusaha untuk mendapatkan investor lainnya, Tuan."
Akhirnya, Arga kembali pulang dengan wajah yang lesu. Namun sebelum mencapai rumah, Arga berhenti dulu di pinggir jalan untuk mengatur napasnya, memperhatikan ekspresi wajahnya. Bahkan Arga membeli cake cokelat untuk sang anak. Dimana akhirnya dia bisa membuka pintu dan berkata, "Papa pulaaaanggggg…"
"Papa!"
Oh lihatlah miniatut dirinya versi wanita. Datang dengan senyuman merekah di bibir dan tangan yang terlentang. Memeluk Arga dengan erat kemudian berkata, "Papa tau gak? Tadi ada Om Om yang nabrak Mama ke sini. Dia ngasih kue buat Mama tadi. Tinggal di sini juga."
"Siapa?" Tanya Arga dengan tajam pada Aluna yang datang mendekat. Perempuan itu mengambil kue yang ada di tangan Arga supaya tidak menghalangi pelukannya dengan sang anak.
__ADS_1
"Itu kan El udah ngomong. Dia yang nabrak aku. Sekarang jadi tetangga kita juga. Dia minta maaf ke sini."
"Waktu itu ke mana aja baru minta maaf sekarang?"
"Kan aku udah bilang kalau dia punya urusan. Lagian kan dia udah minta maaf sebelumnya."
Dan Elmira sepertinya memang tidak menyukai Riga hingga dia terus mengompori sang Papa dengan kalimat, "Om nya senyum mulu sama Mama tau, Pa."
"El sayang, mam dulu ya kue dari Papa. Papanya mau mandi dulu."
Elmira menurut, dia berjalan ke arah dapur dimana Aluna sedang memotong kue.
"Aluna, siapin baju ayok."
"Tinggal ambil sendiri kan bisa."
"Yaudah ambil sendiri. Dari yang paling bawah biar yang atasnya langsung longsor," Ucap Arga sambil melangkah santai menuju lantai dua.
Aluna tidak Terima, tidak boleh ada yang mengacaukan hasil pekerjaannya. Jadi dia melangkah ke lantai atas setelah memastikan Elmira sibuk dengan kuenya. "Jangan ditarik dari bawah, Arga!"
Karena pria itu dalam proses melakukannya. "Orang disuruh ke sini juga. Makannya bawain."
"Minggir." Aluna memberikan tatapan tajam. "Kalau mau ambil baju yang bawah, gini caranya. Diangkat dulu, lalu ambil. Jangan ditarik sembarangan. Nih."
"Cowok yang tadi. Dia minta nomor hape kamu gak?"
"Enggak, dia cuma minta maaf doang. Sekalian kasih bingkisan karena kita tetanggan."
"Dia bukan mantan kamu kan?"
"Loh kok ngaco malah kemana mana?" Aluna heran.
"Ya soalnya gak mungkin kebetulan. Mana sekarang dia jadi tetangga kita lagi. Mungkin dia udah ngincer kamu dari dulu, dan itu cara dia dapetin kamu."
"Gak waras kamu. Ya enggak lah. Kenal aja enggak sama dia. Lagian kamu tenang aja, aku gak bakalan selingkuh." Kemudian melangkah pergi dari sana.
Arga mengerjap. "Heh! Aku bilang kayak gitu bukan karena takut kamu selingkuh ya! Jangan percaya diri!"
Namun begitu Aluna keluar dari kamar, Arga langsung menelpon sang asisten. "Orang yang nabrak istri saya, cari dia. Sekarang dia jadi tetangga saya juga di sini. Selidiki latar belakangnya. Secepatnya. Saya tunggu."
***
__ADS_1