
Napasnya tidak lagi beraturan, Aluna bersimpuh ketakutan ketika pria itu mendekat. Dia menjerit kuat dan memejamkan matanya enggan melihat, sampai akhirnya telinganya mendengar suara pukulan bertubi tubi dan juga umpatan.
Aluna tidak tau apa yang terjadi, yang dia lakukan hanya memeluk kepalanya sendiri dan tidak mau melihat.
"Aluna?"
"Jangannnn!" Teriaknya saat seseorang memegang tubuhnya.
"Ini aku. Hei, ini aku." Tangan pria itu berusaha untuk membuat keduanya bertatapan.
"Lepasssss! Jangannnn!"
"Aluna! Lihat ini aku! Suami kamu!'
Aluna membuka matanya, menatap Arga di hadapannya. "Arga… Arga dia buka baju aku, dia lecehin aku."
"Nggak, kamu gak papa. Lihat, pakaian kamu masih lengkap," Ucap Arga mencoba memberikan ketenangan.
"Aku gak papa?" Tanya Aluna air mata yang masih menetes.
"Gak papa. Kamu gak papa." Menarik sang istri ke dalam pelukan. Arga tidak tau apa yang terjadi pada sang istri di masa lalu, pria tadi hampir saja melecehkannya.
Melihat keadaan Aluna yang tidak berdaya membuat Arga marah. Dia mendekap perempuan itu erat. "Gak akan ada yang bisa nyakitin kamu. Pria tadi bakalan dapetin pelajarannya."
__ADS_1
Bukan waktu yang tepat untuk menanyakannya pada Aluna. Arga akan mencari tau sendiri perihal siapa pria yang sudah membuat istrinya seperti ini.
Dia gendong Aluna dan dia bawa ke kamar yang ada di ruangan tersebut. Arga ikut merebahkan dirinya, dengan tangan yang dijadikan bantalan oleh Aluna.
Tangisannya masih terus menetes meskipun bibirnya bungkam. "Udah, jangan nangis lagi. Kamu aman sekarang." Arga menenangkan. Mengusap punggung Aluna sampai akhirnya sosok itu terlelap dengan perlahan.
Pasti menakutkan, entah apa yang pernah Aluna lalui selama ini. Arga jadi gelisah karenanya. Melihat bagaimana perempuan ini tidur dengan bekas air mata. "Waktu dulu aku lakuin ini ke kamu. Apa kamu kayak gini juga?" Arga bergumam sendiri. "Kalau iya. Aku minta maaf." Menggesekan pipi pada puncak kepala sang istri.
"Papa." Sampai terdengar suara itu.
Lupa, mereka sudah punya anak. Arga menoleh pada pintu, dia tidak bisa beranjak karena Aluna sedang dalam dekapannya. "Mama lagi bobo, adek jangan berisik ya."
"Mau beli ice cream sama kakek itu ya?"
***
Ketika Aluna sudah bisa ditinggalkan, akhirnya Arga keluar dari kamar. Melihat sang anak yang sedang duduk di sofa sambil memainkan mainan yang pasti baru dia beli.
"Jadi bagaimana? Siapa pria tadi?"
"Dia adalah mantan boss Nyonya Aluna. Dari pengakuannya, dia pernah melakukan pelecehan padanya. Sempat akan memperkuat*ssa juga. Tapi waktu itu diselamatkan oleh pekerja di sana."
Arga mengepalkan tangannya. Berani beraninya pria itu melakukan hal bejat pada Aluna. Pantas saja dia trauma.
__ADS_1
"Saya pikir pellecehan yang dilakukannya terjadi berulang kali. Nyonya Aluna dulunya punya kontrak, jadi dia tidak bisa pergi begitu saja."
"Pastikan dia masuk ke dalam penjara."
"Siapa yang mau masuk penjara, Papa?" Tanya seorang anak dengan mata bulatnya menatap Arga meminta penjelasan.
Arga terkekeh. "Bukan siapa siapa, Cantik. Mau nemenin mama gak? Bobo sama Mama di kamar."
"Emang gak papa, Pa? Ini sore. Emang gak pulang?"
"Pulangnya nanti kalau Mama udah bangun. Sama mainnya di sana. Tapi jangan ganggu Mama ya."
Anak itu mengangguk dengan lucunya dan melangkah pergi dari sana dengan antusias. Arga menghela napasnya dalam. "Iya, gitu aja dulu. Kalau bisa, tolong cari tau tentang masa lalu Aluna juga. Tentang apa yang dia terima." Menjadi penyesalan tersendiri untuk Arga karena berfikir kalau rasa sukanya pada Aluna hanya bertahan sebentar saja. Nyatanya ketika sekarang mereka bertemu lagi, Arga masih menyukainya. Sempat teralihkan oleh Teresa, tapi Aluna punya tempat tersendiri di hatinya.
"Baik, Tuan." Ketika pria itu hendak keluar dari ruangan Arga, seseorang lebih dulu masuk. Itu Riga.
"Ada apa?" Tidak ada angin, tidak ada janji. Kenapa pria itu datang ke sini?
"Nikahi Teresa, atau aku akan mencabut semua investasi dalam pembangunan ini."
"Apa?"
"Terresa adalah adikku. Dia datang ke sini untuk menemuimu sampai merelakan mimpinya demi dirimu. Ah ya, Aluna dan dirimu hanya menikah karena kecelakaan bukan? Jadi tidak mudah untukmu meninggalkannya."
__ADS_1
***