
Karena paksaan, Aluna langsung dibawa ke rumah sakit oleh Arga melakukan pemeriksaan. Aluna sendiri khwatir jika pria itu marah apalagi ketika Arga mengulangi kalimat, “Kenapa kamu gak bilang sama aku sebelumnya? Kalau kamu sering mimisan?”
Untungnya, Arga bisa menghela napasnya lega ketika mendengar, “Gak papa, Pak. Bu Aluna baik baik saja, beliau hanya kelelahan dan tertekan.” Kalimat itu mampu membuat Arga terdiam selama beberapa saat. Apa tertekan karenanya?
Setelah dokter meresepkan obat, Arga langsung mengambilnya bersama dengan Elmira yang terus menempelinya. “Mama gak kenapa napa kan, Pak?”
“Gak papa, Mama baik baik aja kok.”
“Katanya Mama tertekan ya? itu ditekan dimana emangnya? Siapa yang nekan?”
Nah, itu juga yang akan menjadi pembicaraan Arga dan Aluna nanti. Ketika mereka sudah pulang ke rumah, Arga masih diam saja bahkan dalam perjalanan pun hanya bicara seperlunya dengan Elmira. Dia tidak mau kehilangan kendali dan semakin menekan Aluna.
Baru ketika malam tiba dan Elmira sudah tidur, Aluna memutuskan untuk bicara dengan sang suami. Jelas dia sadar kalai Arga menghindarinya. Aluna masuk ke dalam ruang kerja sang suami dengan membawakan teh untuk sang suami. “Arga, aku mau ngomong.”
“Hem, kita emang perlu ngomong.” Arga menutup laptonya dan membiarkan sang istri masuk.
Saat Aluna hendak duduk di sofa, Arga menarik tanganya hingga perempuan itu jatuh ke dalam pangkuannya. Aluna kaget juga di posisi seintim ini. “Kenapa? kamu tertekan ya?” tanya Arga.
“Hah?”
“Dengan posisi yang kayak gini, apa bikin kamu tertekan?”
Aluna sadar kemana arah pembicaraan sang suami. “Aku tertekan bukan karena kamu.”
“Lantas? Apa yang bikin kamu tertekan? Maksudnya, aku gak maksa kamu buat nerima aku secepat ini. its okay, aku bakalan berjuang buat dapetin maaf dan cinta kamu.”
Aluna memberanikan diri merangkup pipi sang suami. “Aku tertekan karena Elmira, kamu tau sendiri gimana keadaan dia, aku gak bisa berpaling dari dia. Takut sewaktu-waktu Tuhan ngambil dia dari aku, Arga,” ucapnya dengan helaan napas yang berat. “Aku tau kalau kamu sama keluarga kamu lagi berjuang buat Elmira, tapi itu masih buat aku khawatir.”
Lega mendengarnya, Arga melingkarkan tangan di pinggang sang istri dan menatap matanya dengan dalam. “Aluna,” panggilnya.
“Kenapa?”
“Kamu beneran gak tertekan sama aku?”
Lucu juga melihat Arga seperti ini. kenapa harus tertekan? Awal mereka memang tidak baik baik saja, tapi sekarang Aluna sudah mempercayakan hidupnya pada Arga, jadi dia datang dan mencium bibir tersebut. “Kayaknya Elmira bakalan bahagia kalau kita kasih dia adik kan?”
__ADS_1
“Hah?” arga menatap sang istri dengan alis yang naik. Apa benar yang dia katakana kali ini?
“Ayok buat dek buat Elmira. Mau gak?”
Tanpa menjawab, Arga langsung menggendong Aluna dan membawanya menuju kamar. Mereka berdua akan melepaskan gairah yang sama sama keduanya pendam selama ini.
***
Bergelut di bawah selimut yang sama, kini tidak ada lagi ketakutan yang dirasakan oleh Aluna, tidak ada lagi perasaan benci pada pria yang selama ini membuatnya menderita. Butuh waktu bertahun tahun sampai Aluna mendapatkan kebenaran tentang cinta yang disimpan Arga seorang diri.
“Eungghhh…. Arga….”
“Sayang…, aku sampai,” ucapnya untuk yang kesekian kalinya. Tubuh itu dipuja, dicium dan diperlakukan layaknya barang berharga. Dahi mereka menyatu, saling menatap satu sama lain kemudian terkekeh. “Makasih, udah kasih aku kesempatan kedua,” ucap Arga mendekap sang istri ke dalam pelukannya.
Rasanya hangat, Aluna sangat menyukainya. “Terima kasih kembali.”
Sepasang kekasih itu terlelap dalam kehangatan satu sama lain. Melupakan waktu sampai tidak sadar kalau matahari sudah naik dan sang anak sudah bangun. “Mamaaaa?” panggilnya turun dari ranjang sambil berjalan menuju kamar Mamanya.
Namun, suara ketukan pintu lebih dulu membuat Elmira menoleh. Dia turun ke lantai satu dan membuka kunci. “Eyang?!”
“Masih bobo, Eyang. Belum keluar, El juga mau bangunin ini.”
“Yaudah, bareng sama Eyang ya banguninnya,” ucap sosok itu ingin memberikan kejutan pada anak dan menantunya. Namun, ketika melihat pakaian yang berceceran sepanjang koridor, niatnya langsung hilang. “El, sarapan duluan yuk bareng Eyang. Eyang yang bikini.”
“Ih, mau ke Mama sama Papa, Eyang.”
“Gak boleh, nanti Elmira gak bisa punya adek kalau Mama sama Papa bangunnya pagi.”
“Oh, iyakah?” anak itu akhirnya menurut dibawa turun oleh Eyangnya, meskipun dia sangat ingin masuk ke dalam dan bergabung bersama dengan kedua orangtuanya.
***
Aluna bergegas bangun begitu melihat jam di dinding, dia kesal pada dirinya sendiri karena terlammbat. Namun ketika keluar kamar, Aluna melihat sang mertua ada di sana bersama dengan Elmira yang sedang sarapan. “Bunda?”
“Eh, sayangnya Bunda udah bangun?”
__ADS_1
“Mamaaa! Liat El lagi mam sama Eyang. Enak banget loh. Mama mau?” anak itu memamerkan roti di tanngannya. “Oh iya, adek bayinya mana, Ma? Kata Eyang, El bakalan punya dedek bayi kalau Mama bangunnya terlambat.”
Aluna sampai meringis mendengar hal tersebut. “Bunda ngomong apa aja?” menatap sang mertua.
“Nggak ada.” Kemudian berbisik pada Elmira. “Nak, gak sekali jadi, jadi Mama sama Papanya harus bangun kesiangan terus.”
“Bunda!”
“Hahahaha. Akhirnya ya Bunda bisa dapetin menantu idaman Bunda, mana mau punya cucu lagi.”
Aluna duduk di samping sang anak dan memakan pinggiran roti yang tidak dimakan Elmira. “Kenapa Bunda ke sini?”
“Udah ada donor buat Elmira, kita ke Jakarta ya.”
Aluna menatap sang anak, pembicaraan ini tidak boleh melibatkan si kecil. “Adek, bangunin Papa ya.”
“Iya, Mama.”
Baru setelah Elmira pergi, Aluna focus lagi pada sang mertua. “Jadi gimana, Bun?”
“Iya, udah ada donor yang cocok buat Elmira. Kita bisa bawa dia ke Jakarta dan memulai prosedur operasinya.”
Sebenarnya, Aluna sedikit takut dengan hal ini. apakah operasinya akan berhasil?
“Al, gimana?”
Tapi kalau ditunda tunda juga akan membuat Elmira dalam kesakitan. “Aluna gak mau nunda nunda lagi, Bun. Aluna bener bener mau punya keluarga lengkap, dan gak ada kekhawatiran lagi.”
Ketika Aluna sedang focus bicaara dengan sang mertua, seseorang turun dari lantai dua dengan wajah bantalnya dan memeluk Alunaa secara tiba tiba. “Sayang, kok aku ditinggal sih?”
“Mana Elmira?”
“Dia gak ke kamar tuh.”
“Tadi dia masuk ke kamarnya dulu, belum sempet ke kamar Arga sih,” ucap Bunda sampai dia sadar kalau anaknya memakai celana yang salah. “Arga! Sadar kamu! Itu kamu pake celana kolornya Aluna!”
__ADS_1