CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Pria yang baik


__ADS_3

"Gak peduli, kalau memang mau ditarik. Ya lakuin aja," Ucap Arga dengan wajahnya yang datar. "Bawa dia keluar." Matanya menatap sang asisten yang masih ada di dalam sana. 


"Kamu harus tanggung jawab terhadap apa yang kamu lakukan sama Teresa."


"Maaf, tapi gak bisa. Teresa sendiri yang mulai selingkuh. Dia yang lebih dulu memulai dan aku akan tetap bersama dengan Aluna. Pernikahan bukan untuk dimainkan."


"Kamu bakalan menyesal, dengan ini maka investasi akan dihentikan."


Arga menaikan bahunya tidak peduli dan membiarkan pria itu pergi. Untuk saat ini, Arga hanya ingin fokus pada keluarganya. Dia memberi isyarat pada sang asisten untuk keluar dari ruangan.


Memeriksa bagaimana keadaan sang istri, dan apa yang sedang dilakukan oleh anaknya. Arga malah mendapati Elmira yang terlelap, dan Aluna yang sudah bangun. Istrinya sedang mendekat erat sang anak dalam pelukannya.


Arga duduk di bibir ranjang, tanpa mengalihkan perhatian dari Aluna. "Udah baikan sekarang?"


"Makasih." Aluna baru sadar kalau yang menyelamatkannya adalah Arga, dan dia baru bisa berbicara dengan tenang sekarang.


"Mau pulang sekarang?"


Aluna ingin pulang, tapi anaknya sedang tertidur lelap.


8Biar aku aja yang bawain dia."


Arga menggendong Sang Putri, tangannya yang lain menggenggam Aluna. Tidak banyak pembicaraan yang mereka lakukan, hingga akhirnya sampai di dalam mobil dan Elmira dialihkan ke dalam gendongan Aluna.


"Pria yang tadi mau nyakitin kamu, udah di amanin. Dia nggak akan berani lagi ngelakuin hal itu sama kamu. Dia juga nggak akan berkeliaran lagi, kamu akan aman."


"Makasih."


Hanya itu yang bisa Aluna katakan, Arga mencoba untuk paham. Bukan hal yang mudah menceritakan trauma, ditambah lagi orang yang sedang berbicara dengan Aluna adalah sosok yang pernah menyakitinya juga.


"Nanti yang masak biar Bibi aja, kamu istirahat aja." 

__ADS_1


Tidak ada protes, Aluna memang sedang ingin istirahat. Dia ikut berbaring di ranjang kecil milik sang anak, tidak tertidur, tapi Aluna enggan melakukan apapun.


Di sisi lain, Arga sedang mencari cara supaya menaikkan kembali mood sang istri. Melakukan pencarian di internet tentang beberapa hal yang pasti disukai wanita.


"Kalau tanya bunda, pasti dia bakalan ketar-ketir dan jadi khawatir sama keadaan Aluna." memilih untuk memesan coklat dan juga bunga.


Sampai ponselnya berbunyi, itu dari sang asisten. Arga sudah menduga apa yang akan dibicarakan olehnya, jadi dia menolak panggilan tersebut dan memilih untuk menelepon sang ayah. Arga menjelaskan bagaimana posisinya sekarang. "Nggak mungkin kalau Arga bangun lagi dari awal tanpa ada dukungan dari ayah secara finansial. Riga yang jadi investor malah menariknya lagi, itu juga bikin yang lain lakuin hal yang sama. Kalau misalnya Ayah mau Arga tetap mempertahankan ini, Arga mungkin harus nikah sama Teresa."


"Jangan macam-macam kamu, bilang berapa yang kamu butuhin, nanti ayah yang bakalan kirim."


"Nah gitu kek dari dulu."


"Dulu ayah nggak percaya kalau kamu bakalan jadi sosok yang bertanggung jawab, sekarang kamu membuktikannya. Sekarang kamu juga harus terlibat membantu cari donor yang tepat buat Elmira. Ayah khawatir kondisinya semakin menurun."


****


Sang anak sudah tidur lelap, dibangunkan untuk makan malam pun tidak bergeming. Aluna sudah hafal betul bagaimana sifat anaknya ini. Jadi begitu Arga datang, Aluna mengatakan, "Dia kalau udah tidur sore, susah bangun lagi. Makan malam juga suka ditabrak. Paling nanti bangunnya lebih cepat."


"Emang Bibi mau nginap?"


"Iya dia bakalan nginep sambil bantu beresin gudang yang ada di bawah." mendekat pada sang istri dan mengulurkan tangannya. "Ayo makan, perut kamu harus diisi."


Melihat uluran tangan itu, Aluna menerimanya. Dirinya sudah sepenuhnya percaya kepada Arga yang melindunginya, ditambah lagi ada hal manis yang Arga siapkan.


Sebuah buket bunga dan juga coklat di sana.


"Aku beli itu biar bikin kamu nyenyak tidur."


"Makasih." Aluna tersenyum dengan manis, Arga berpaling ketika sang istri hendak membalas tatapannya.


Pria itu manis dan juga berusaha, mungkin inilah waktunya untuk Aluna membuka juga celah dan kepercayaan pada Arga seutuhnya.

__ADS_1


Apalagi perhatian Arga ketika makan malam, pria itu membantu Aluna mengeluarkan tulang ikan. "Makanya yang pelan-pelan." seperhatian itu.


"Coklatnya mau aku bawa ke kamar nanti."


"nanti aku bawain ke atas."


Niat Arga benar-benar membantu Aluna dan membuat sang istri nyaman. Dia bahkan merangkul pinggang Aluna ketika menaiki tangga menuju kamar mereka.


Tadinya Arga akan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri, tapi tangan Aluna menahannya. "Aku mau ngomong sama kamu."


Jadinya Arga ikut duduk di atas ranjang dengan posisi saling berhadapan dengan Aluna. "Ngomong apa?"


"Tentang laki-laki yang tadi lakuin hal itu sama aku."


"Jangan paksain kalau kamu emang belum siap."


Aluna menggelengkan kepalanya, sudah waktunya untuk Arga mengetahui hal ini. "Waktu aku habis ngelahirin Elmira, aku langsung kerja di suatu restoran. Aku terjebak sama kontrak disana, jadi nggak bisa keluar waktu ada beberapa pegawai di sana yang melakukan pelecehan, apalagi bosnya yang tadi. Nggak sampai kayak kamu, tapi mereka melakukan penyiksaan verbal juga. Seringkali aku disalahin kalau ada pelanggan yang gak puas. Dan aku nggak bisa ngapa-ngapain waktu itu." air matanya menetes menceritakan bagaimana kesulitan di masa lalu, ketika Elmira menangis untuk sebuah mainan, Aluna menangis karena kebingungan bagaimana cara menghidupi anaknya.


Beberapa pekerjaan pernah dia ambil untuk memenuhi kehidupannya. Menjadi tukang cuci piring, menyebarkan brosur dan membuat kue. Setiap pekerjaan yang dilakukan oleh Aluna, selalu saja ada penghinaan untuknya apalagi ada anak kecil di kehidupannya yang tidak memiliki ayah.


Arga merasa sesak, menyesal karena telah meninggalkan luka pada hati Aluna. Dia juga tidak bertanggung jawab, menjunjung harga dirinya dengan enggan mengatakan perasaannya pada Aluna hanya karena wanita itu miskin dan tidak sederajat dengannya.


Tangan Arga terulur, mengusap lembut air mata yang mengalir di pipi sang istri. Aluna mengangkat pandangannya mereka berdua bertatapan. "Sekarang aku udah nggak papa, aku udah punya kamu dan Elmira. Aku udah baik-baik aja."


"Maaf, karena keegoisan aku, kamu jadi kayak gini."


"Nggak papa kamu udah jadi ayah yang baik buat Elmira."


Arga tersenyum miris. "Apa aku udah jadi suami yang baik juga buat kamu?"


Tanpa diduga, Aluna mendekatkan wajahnya pada Arga hingga bibir mereka bersentuhan. Satu kecupan yang manis dan ditutup dengan senyuman cantik Aluna. "Iya kamu udah jadi suami yang baik."

__ADS_1


****


__ADS_2