CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Pikiran


__ADS_3

Sungguh Aluna penasaran dengan apa yang dilakukan oleh Riga bersama dengan Teresa. Apakah keduanya menjalin sebuah hubungan? Aluna jadi khawatir, biasanya orang orang kaya yang tersakiti akan merasakan dendam dan membuat dirinya celaka. Sekarang saja, Aluna jadi berfikiran kalau insiden menabrak dirinya adalah karena Teresa. "Gak mungkin, jangan berfikiran kayak gitu, Aluna," Ucapnya menggelengkan kepala dan memejamkan matanya. 


"Mama," Panggil sang anak yang sudah bangun. "Kangen Papa."


"Makan siang dulu yuk. Nanti ke Papa." Menggendong Elmira dan membawanya duduk di kursi. 


"Ke kantor Papa, Ma? Serius?"


"Iya, tapi nanti agak sorean ya biar kita bisa pulang bareng sama Papa." Karena Aluna merasa tidak tenang, jadi dia ingin menemui Arga. Sebenarnya Aluna sendiri belum menelpon, apakah pria itu mengizinkan atau tidak. Tapi sepertinya mustahil tidak mengizinkan. 


"Mau mandi dulu ya, Ma? Mau ketemu Papa harus cantik."


Anaknya begitu exited pergi ke sana. "Mandinya jangan lama lama ya." Memanfaatkan kesempatan saat Elmira pergi, Aluna menelpon sang suami. Arga yang baru beres melakukan pertemuan itu terkejut Aluna menelponnya lagi. 


"Hallo sayang?" Tanya Arga begitu panggilan diangkat. Dia pikir ini pasti Elmira. 


"Ini aku Aluna."


"Ah Aluna. Kenapa? Ada apa?" Arga jadi kaget sendiri. 


"Aku mau ke kantor kamu gak papa? Sama Elmira?"


"Boleh. Cuma aku baru aja beres makan siang."


"Nggak kok. Kita juga udah makan siang. Mau ke sana aja, Elmira belum deket sama temen temennya di sini. Jadi dia pengen ketemu kamu terus. Maaf ya."


"Jangan gitu. Datang aja ke sini. Aku nyuruh sopir ke sana sekarang oke?"


Aluna menyetujui, menutup panggilan begitu selesai. Dirinya juga harus berdandan. Karena memulai dari awal dengan Arga, artinya Aluna juga harus terlihat menarik di mata pria itu

__ADS_1


Bahkan sang anak yang sudah beres mandi dan berpakaian itu langsung terpukau melihat penampilan Mamanya. "Kayak pengantin lagi, Ma. Kayak kemaren pas difoto foto"


"Emang iya? Wajah Mama terlalu banyak pake make up ya?" Aluna memegang pipinya sendiri merasa tidak nyaman. 


"Cantik kooookk. El suka." Memeluk kaki Aluna. 


Aluna tertawa, anaknya jadi lebih aktif setelah bersama dengan Arga. Tidak ada lagi keraguan di setiap dirinya ingin mengutarakan keinginan. 


"Kita naik becak ke sananya, Ma?"


"Tuh" Aluna menunjuk dengan tatapan pada mobil yang baru saja masuk pekarangan. 


"Papaaa!" Elmira langsung berlari ke arah sana dengan tangan yang merentang. Sayangnya ketika sosok yang keluar dari mobil bukanlah papanya, dia kembali berbalik dan menatap Aluna dengan malu malu. "Bukan Papa."


"Malu gak tuh?" Ledek Aluna menggelengkan kepalanya. 


Arga sudah bersiap menyambut kedatangan anak dan istrinya. Kantornya mungkin belum sebagus milik Papanya yang ada di Bandung, tapi setidaknya masih lebih dari satu tingkat. 


Ada banyak pegawai juga di sini. Karena bukan hanya hotel yang menjadi tujuan mereka, tapi juga pengembangan aplikasi. Hotel ini hanyalah satu tantangan besar dari kedua orangtuanya. 


"Paapaaaaa!" Teriakan memekik itu berhasil membuat Arga menoleh. 


"Haiii anak Papa." Tangannya merentang membiarkan sang anak berlari padanya. Elmira menabrakan tubuh pada Arga dan dibiarkan digendong. "Jauh ya kantor Papa?"


"Lumayan,... Jauh. Hehehehe."


Aluna menatap ke sekeliling. Tidak terlalu buruk, yang membuatnya yakin kalau Arga tidaklah jatuh miskin. "Aku pesen makanan ke sini, buat kalian biar gak bosen."


"Emang kamu mau kemana?" Tanya Aluna. 

__ADS_1


"Ada rapat bentar di ruangan bawah."


Aluna sadar, Arga memang sedang disibukan dengan pertemuan pertemuan untuk membangun kembali cabang yang sebelumnya drop. 


"El mau ikut, Pa."


"Mama sendiri di sini dong." Arga yang menjawab. 


"Gak papa ya, Ma? El ikut gak papa?"


Matanya menatap Arga. "Emang kamu gak keberatan bawa dia?"


"Nggak kok, tapi kamu sendiri di sini gak papa?" Karena agak tidak etis kalau sang istri ikut masuk dan menonton di pojok ruangan. "Nanti ada makanan yang dateng kok. Kamu gak akan boring."


"Gak papa. Kamu berangkat aja. Kalau El rewel, telpon aku aja ya." Begitu pesan Aluna pada sang suami. 


"El gak akan rewel." Sang anak sekarang bahkan mengeratkan pelukan pada leher sang papa dan keluar dari ruangan itu. 


Ngomong ngomong, di lantai ini hanya ada ruangan Arga saja yang luas. Mengedarkan pandangan, Aluna terpaku pada foto pernikahan mereka yang terpanjang di sana. Dirinya tampak cantik. 


Kehidupannya mungkin akan berubah sebentar lagi. Arga, elmira dan dirinya. 


Ceklek. "Pesanan makanan untuk Pak Arga."


Aluna menoleh menatap pria tua gemuk yang baru saja datang. Tubuh Aluna menegang seketika, pria itu juga sama terkejutnya. "Wah, Aluna? Kamu di sini lagi jual tubuh ya?" Menyimpan makanan itu di meja dan menatap Aluna dengan penuh kelaparan. "Sini aja sama saya lagi yuk. Kali ini saya janji gak akan kasar. Nanti saya kasih kamu uang yang banyak. Gimana?"


Ini adalah pria yang merupakan boss tempat Aluna bekerja dulu. Pria ini yang membuat Aluna tersiksa bahkan melecehkan dirinya. "Jangan…" Trauma nya kembali datang. 


***

__ADS_1


__ADS_2