CINTA UNTUK ALUNA

CINTA UNTUK ALUNA
Secuil perhatian


__ADS_3

Ketika pulang ke rumah, Arga dikagetkan dengan kalimat dari sang anak. "Papaaa! Mama tadi ketabrak mobil terus pental jauh!"


Yang mana membuat Arga panik. "Terus mama sekarang dimana?"


"Di sini." Aluna yang menjawab dengan santai dari arah dapur. "Elmira jangan ngomong yang aneh aneh sama Papa. Mama gak kenapa napa."


"Nggak, Pa! Mama sobek tangannya tadi dijahit!"


Menurunkan Elmira dan melangkah menuju Aluna. Dimana dia langsung memeriksa tangan sang istri. Benar saja ada banyak luka di sana yang kini sudah dibalut perban. 


"Kenapa?" bertanya dengan penuh kekhawatiran.


Akhirnya Aluna menjelaskan apa yang terjadi, kalau ternyata dirinya lengah dalam mengasuh Elmira. Mendengar penjelasan itu membuat Arga menghela nafasnya dalam. "Bulan depan deh kita sewa pembantu di sini biar kamu nggak kecapean."


"Nggak perlu, buat apa nyewa pembantu." selain tahu kalau usaha Arga masih belum stabil, Aluna tidak akan nyaman jika ada orang lain di sini. "Janganlah, biarin aja udah kita bertiga di sini."


"Kamu nanti kan harus fokus mengurus Elmira, seenggaknya ada bantu-bantu yang nyapu gitu." ketika Aluna terdiam merasakan tangan Arga yang menepuk pundaknya dengan pelan, bergegas pria itu berkata, "Nggak ada maksud apa-apa ya, jangan ke gr-an dulu soalnya aku lakuin ini buat Elmira juga."


"Emang aku mikirin apa?" Aluna bahkan tidak memikirkan apapun. "Udah sana mandi dulu. Anaknya nggak mau makan sebelum kamu datang."


"Iya gitu? Elmira nggak mau makan sebelum Papa datang?"


"Soalnya nggak ada temennya, mau sama papa juga. Berdua sama mama bosen. Dulu kan suka berdua terus ya, Ma?"


Hanya menanggapinya dengan senyuman dan mengusap rambut sang anak yang ini sedang menonton televisi.


Untung saja ketika kejadian tadi siang, banyak orang yang menolongnya. Elmira menangis tatkala melihat darah menghiasi tubuh mamanya, tapi Aluna menyakinkan kalau dirinya baik-baik saja.


Kenyataannya sakit sekali, tangannya harus mendapatkan jahitan juga.


"Kamu nggak papa kan?" tanya Arga ketika mereka sedang makan malam.


Istrinya tidak baik-baik saja, namun dia memaksakan diri untuk tersenyum ketika manik nya bertabrakan dengan Elmira. Dan ketika malam hari tiba, Aluna meminta Arga untuk menidurkan sang anak. "Aku mau tidur duluan enggak apa-apa?"


Karena melihat wajah istrinya pucat, Arga mengangguk.


"Mama enggak ikut nidurin Elmira? Mama sakit karena tadi? Gara-gara Elmira?"


"Nggak sayang. Mama cuma kecapean soalnya kan tadi masak banyak, terus bersih-bersih, harus nganterin Elmira juga. Jadi sekarang butuh istirahat."


Ikatan batin antara ilmira dan juga Aluna begitu kuat hingga mengetahui kalau Aluna tidak baik-baik saja. Setelah Elmira tidur, Arga langsung pergi ke kamarnya untuk mengecek sang istri. Perempuan itu sudah berbaring di atas ranjang, menghadap ke bagian Arga.

__ADS_1


Tangannya terulur menyentuh rambut itu, kemudian menempel pada kening. Panas. Aluna demam dan juga menggigil.


Yang mana membuat Arga tidak bisa tidur malam itu. Dirinya terus mengawasi Aluna. Jika keadaan yang memburuk, Arga siap siaga untuk membawanya ke klinik terdekat.


Antara sadar dan tidak, Aluna merasakan pria itu berapa kali mengganti air kompres, menaik turunkan suhu ruangan dan menyelimutinya.


Hingga ketika dini hari, Aluna dipaksa untuk duduk. Tubuhnya ditopang oleh Arga dengan rangkulan. "Minum ini dulu biar kamu mendingan."


Hanya mengikuti apa yang diucapkan oleh Arga sampai akhirnya Aluna bisa tidur dengan begitu nyenyak.


***


Saat Aluna bangun, dia tidak mendapati sang suami disekitarnya, tapi mendapati beberapa bekas kompres dan juga obat semalam.


Masih belum bisa bangun karena pusing yang melanda. "Udah bangun?"


"Kalau belum bangun aku nggak akan duduk," ucap Aluna dengan Ketus.


"Padahal lagi sakit tapi tetep aja jutek ya, bikin gemes pengen geprek."


Arga mungkin tertawa tapi matanya tidak menyembunyikan kalau dirinya kelelahan.


Pria yang mengambil jasnya itu langsung menjawab dengan cepat. "Aku enggak tidur semalaman karena ada kerjaan ya, bukannya nungguin kamu. Kamu mah tinggal kompres sekali terus ditinggalin. Jangan geer."


"Apa sih siapa juga yang geer!"


"Kalau lagi sakit jangan marah-marah, Neng. Nanti cepet tua loh."


Baru juga Aluna hendak menjawab, seseorang lebih dulu mengetuk pintu. Aluna pikir itu anaknya, tapi ternyata wanita paruh baya yang membawakan nampan dengan berisi makanan.


"Selamat pagi, nyonya."


Eh? "Pagi."


Menjawab sapaan itu sebelum menatap Arga meminta penjelasan.


"Bibi Maesaroh bakalan jagain kamu sampai kamu sembuh."


"Nyonya nggak usah bersih-bersih ya, biar saya aja. Ini makanannya mau ditaruh di mana."


"Disini aja, Bi." Arga menunjuk ranjang.

__ADS_1


Aluna ingin protes, mana boleh makan di atas kasur. Tapi wanita tua itu lebih dulu menyimpannya sebelum berpamitan untuk mengurus Elmira.


"Emang Elmira mau diurus sama orang lain selain aku?"


"Udah dibilangin sama anaknya kalau kamu perlu istirahat, lagian Bibi Maesaroh juga tadi udah ketemu sama Elmira. Mereka akrab kok." Arga mengambil sendok dan mengaduk-aduk bubur itu.


"Dia bakalan selamanya di sini?"


"Nggak dia Itu pembantu bayaran yang sering kerja di Kompleks ini, kebetulan dia lagi free jadi aku suruh ke sini."


Fokus Aluna kini pada bubur "Kenapa diaduk? Aku nggak suka bubur yang diaduk?"


"Kalau nggak diaduk nanti bumbunya nggak tercampur dengan sempurna."


"Nggak papa lagian kan aku yang makan, kenapa malah kamu yang protes."


Pria itu malah menyebabkan satu suap bubur untuk dirinya sendiri. "Enggak ada yang masak, Bibi baru beli bubur doang jadi aku juga makan ini. Kalau Elmira katanya mau makan sama roti." kemudian mengarahkan sendok yang sudah berisi bubur lagi pada Aluna.


"Aku bisa makan sendiri. Lagian juga nggak mau pakai sendok bekas kamu"


"Ya udah nanti nunggu Bibi aja kesini lagi. Aku males bawain sendok buat kamu."


Benar-benar menyebalkan. Dulu pria ini begitu Arogan dan juga dingin, kenapa sekarang jadi banyak bicara.


Aluna juga merasa dirinya tidak lumpuh, jadi akan memasak sendiri. Namun baru juga berdiri, kakinya terasa sakit. Telapaknya yang menyentuh lantai secara langsung juga langsung terasa dingin dan membuatnya berdesis pelan.


"Kenapa?" wajah Arga langsung terlihat panik.


"Lantainya dingin banget." masuk lagi ke dalam selimut untuk menghangatkan diri.


"Emang mau kemana sih?" Arga terlihat kesal. 


"Mau ambil roti nggak mau makan bubur yang diaduk."


"Ya udah bentar." terlihat terpaksa untuk berdiri dan keluar dari kamar.


Namun baru juga Arga satu langkah keluar dari kamar, dirinya langsung menelepon seseorang kemudian mengatakan, "Cepat datang ke rumah saya, dan untuk mengukur karpet di sepanjang kamar. Kenapa kamu nggak perhatiin ini sebelumnya? Gimana kalau keluarga saya semuanya pada kesetrum karena dinginnya lantai?"


Sepanjang melangkah menuruni tangga, Arga mengomel pada sosok yang ada di dalam telepon.


***

__ADS_1


__ADS_2