
Arga sampai terkejut mendapatkan perlakuan itu, dia menatap Aluna tidak percaya dengan matanya yang mengerjap beberapa kali.
"Sana kalau mau mandi." perempuan itu beringsut mengambil coklat yang sebelumnya dibawakan oleh Arga dan memakannya dengan tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Arga berdehem, dia menarik nafasnya dalam dan pergi ke kamar mandi untuk menenangkan pikirannya. Sementara Aluna mengulum senyum. Kapan Arga akan jujur dengan perasaannya sendiri? Ataukah perasaan itu sudah hilang karena hanya cinta sesaat saja ketika mereka masih berada di bangku sekolah? Aluna tidak tahu.
Namun begitu Arga keluar dari kamar mandi, dia sudah melihat sang istri yang tertidur. Segera berpakaian dan menyusulnya ke atas ranjang, namun Arga hanya duduk saja menatap bagaimana Aluna tertidur dengan begitu cantiknya.
Arga berdehem. "Sebenarnya ada yang aku sembunyiin dari kamu selama ini. Aku suka sama kamu, tertarik sama kamu sejak pertama kali bertemu. Tapi waktu itu aku gengsi bilangnya, soalnya teman-teman aku pada punya pacar yang sederajat dengan mereka." terdiam sejenak kemudian Arga menggelengkan kepalanya, dia mengatakannya dengan kalimat seperti itu maka akan memberikan kesan kalau dirinya merendahkan Aluna. "Aku suka sama kamu sejak dulu, cuma aku nggak berani bilang."
Arga frustrasi sendiri. Bagaimana cara dia menyampaikan perasaannya pada Aluna? Apalagi ciuman tadi, membuat Arga semakin membara ingin memiliki Aluna seutuhnya, ingin perempuan itu tahu bagaimana perasaannya. Meskipun takut jika Aluna merasa direndahkan.
"Tapi dia kayaknya udah percaya deh sama gue," bergumam demikian.
Tok tok tok, suara pintu yang diketuk dan tidak lama kemudian seseorang masuk.
"Adek bangun?"
Elmira datang mendekat sambil merentangkan tangannya. "Papa lapar, mau makan sama mama."
"Mamanya lagi bobo, sama Papa aja berdua ya." dibawanya sang anak ke bawah. Arga menyuapi Elmira yang duduk di pangkuannya.
"Mama kenapa?" sepertinya anak ini memiliki ikatan yang batin kuat dengan Aluna, menyadari ada yang salah dengan ibunya.
"Mama cuma kecapean butuh tidur."
"Nggak sakit pa?"
__ADS_1
"Nggak sayang, besok juga mama anterin lagi Elmira ke sekolah."
"Boleh nggak tidur sama mama?"
Yang Arga pikirkan saat ini hanyalah memberikan ruang untuk Aluna, jadi dia melarang. "Di kamar Adek aja, nanti papa yang nemenin. Mau nggak?"
Anak itu mengangguk dengan antusias. Karena Elmira tidur lebih awal maka Arga harus bergadang sampai tengah malam menunggu sang anak mengantuk dengan bermain di kamar Elmira. "Papa?"
"Kenapa cantik?"
"Makasih udah pulang," ucapnya kemudian datang memeluk Arga.
Arga paham apa yang dimaksud oleh sang anak. Dia peluk sosok itu erat dan dibawa berbaring di atas ranjang. "Papa nggak akan pergi-pergi lagi kok."
Menutup percakapan mereka malam itu karena Elmira langsung tertidur.
Sementara itu tanpa diketahui oleh Arga, ternyata Aluna tidak tidur sedari tadi. Bahkan sekarang dirinya melangkah menuju kamar Elmira dan mengintip. Bibir Aluna mengerucut, Kenapa Arga masih ragu-ragu kepadanya? Padahal dia sudah memberikan kode dengan keras.
****
Sambil menunggu gilirannya, Arga menyiapkan beberapa berkas pengajuan kepada sang ayah tentang apa saja yang dibutuhkannya.
Sampai akhirnya, telinga Arga mendengar suara benda pecah diikuti dengan teriakan dari dalam kamar mandi. Spontan Arga berlari dan membuka pintu yang untungnya tidak dikunci itu. Dia membuka pintu dengan kuat dan membantingnya seketika.
"Kenapa?" tanya Arga dengan panik.
"Nggak papa ini aku nggak sengaja nyenggol vas bunga."
__ADS_1
"Jangan dipegang, biar aku aja." menepis tangan Aluna yang hendak membersihkannya. "Udah kamu jauh-jauh, nanti tangannya terluka."
Tapi Aluna tidak beranjak dan tetap berjongkok di sana. Sampai Arga sadar kalau sang istri hanya memakai handuk yang melilit di tubuhnya saja. Bagaimana bisa dia terlihat begitu polos dengan wajahnya yang kebingungan?
Bergegas Arga mengumpulkan pecahan kaca itu pada handuk kecil. Sebelum dia menatap lagi tubuh Aluna, Arga bergegas pergi dari sana.
Aluna bahkan tidak sempat mengatakan terima kasih, pria itu terburu-buru sampai. Bruk! Arga yang sedari tadi menunduk tidak sadar kalau pintu tertutup hingga dirinya terpental lagi ke belakang.
"Arga."
"Aku nggak papa," ucapannya memberikan senyuman pada Aluna dan pergi dari sana dengan santai.
Arga sebenarnya ingin bergegas keluar dari kamar, tapi dia terkena pecahan kaca hingga harus mengobatinya sendirian. Karena tidak ahli, cukup lama Arga melakukannya sampai Aluna sudah selesai mandi.
"Kamu luka?" Aluna kaget dan segera datang. "Sini biar aku yang ngobatin."
Untungnya sekarang Aluna memakai kimono mandi hingga tidak terlalu seksi. Melihat bagaimana Aluna begitu fokus pada tangannya, memperhatikannya, memperlihatkan khawatirannya. Arga sendiri sampai tidak tahan untuk mengatakan. "Aluna. Kamu tahu nggak?"
"Apa?"
"Aku suka sama kamu sejak pertama kali kita bertemu di SMA. Cuma waktu itu aku terlalu Gengsi sama teman-teman, apalagi mereka yang menyadari itu malah ngejek aku karena selera aku rendah. Sampai mereka nantang aku buat lakuin hal lancang itu ke kamu sebagai bukti kalau aku emang nggak suka sama kamu. Tapi ternyata aku salah, aku malah melukai kamu. Membuat kamu menderita. Aku minta maaf buat diriku di masa lalu yang nggak bisa bertanggung jawab atas perasaan sendiri. Hanya karena rasa suka aku yang nggak mau diakui, kamu jadi korban."
Aluna mengangkat pandangannya, menatap manik sang suami. Jelas-jelas Arga serius padanya.
"Boleh nggak kita mulai dari awal lagi?"
"Dari bagian mana?" tanya Aluna.
__ADS_1
"Dari bagian waktu kamu ketimpuk sama bola basket. Harusnya waktu itu aku nggak marahin kamu, tapi lakuin hal ini." tangannya terangkat mengelus rambut Aluna dan berkata, "Maaf ya cantik."
****